Mensyukuri Jarak yang Terbentang

Jarak biasanya dijadikan kambing hitam renggangnya suatu hubungan.

Padahal jika ada rasa percaya dan menitipkan segalanya lewat doa kepada Sang Maha Cinta, betapa mesranya.

Jarak adalah ujian keimanan.

Jarak adalah kesyukuran menuju hari bahagia yang didamba.

Tanpa jarak, Adam dan Hawa tak menemukan arti kerinduan yang sesungguhnya.

Tanpa jarak, Bunda Hajar mungkin tak lagi tahu arti pengorbanan dan perjuangan.

Tanpa jarak yang terbentang, Musa tak bertemu dengan istri Firaun, juga melawan kedigdayaan Firaun.

Tanpa jarak, bisa jadi tak sampai karya ulama Islam kepada kita, generasi akhir zaman ini.

Dengan hadirnya jarak, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bisa menyebarkan Islam ke seantero dunia.

Tanpa jarak, kita tidak benar-benar tahu arti perpisahan dan pertemuan.

Tanpa jarak, mungkin kehidupan ini terlalu rapat dan sempit. Tidak bisa meluas dan membentang ke sana-kemari.

Ingat, bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Sang Pencipta supaya disyukuri adanya. Tak pernah ada yang sia-sia. Termasuk jarak yang ada dan barangkali sedang kita nikmati saat ini.

Bersama jarak, doa-doa tampak semakin khusyuk. Bersama jarak, pinta semakin lama didengungkan. Meski rasanya akhir-akhir ini jarak bukan menjadi satu hal yang menghalangi. Tetapi, tetap saja pertemuan tatap muka tak pernah mampu digantikan dengan pertemuan melalui gawai-gawai canggih. Sebab dalam pertemuan yang tercipta setelah jarak yang ada, terdapat rasa yang bergelora. Di sana hadir cinta yang membuncah dan tak biasa. Di sana juga ada simpati dan bangga yang bisa jadi sudah lama tak mampu diungkapkan dengan kata.

Akhirnya, berterimakasihlah pada-Nya atas jarak yang telah dicipta. Semoga keberadaan jarak tak pernah membuat hamba untuk lupa kepada siapa seharusnya diri ini kembali dan meminta.

#renungan #jarak #19042018

Komentar