Tentang Menemukanmu di Antara Detik Waktu

Dahulu, kita adalah dua yang tak pernah tahu menahu tentang apa arti sebuah jumpa. Dahulu, kita adalah dua orang asing yang berjalan sendiri. Mencoba menggapai mimpi masing-masing. Dahulu, rencana-rencana kita gantungkan di langit-langit doa. Tak ada perasaan akan berjumpa dalam waktu yang cukup singkat dengan ia yang didamba.

Sedikit menelisik ke belakang. Kala itu, pada mata kuliah kitabah (menulis) 2, diriku mendapat tugas membuat peta kehidupan. Di dalamnya terdapat rencana-rencana selama kuliah, selepas kuliah, hingga pada urusan pernikahan. Apa saja syaratnya, kapan akan dilaksanakan. Saat itu, aku hanya berpikir sederhana. Selama sarjana, aku ingin menjadi wisudawan terbaik universitas, lantas melanjutkan jenjang magister pada jurusan yang sama. Tak ada pikiran bekerja selepas sarjana. Tetapi, diri ditakdirkan bekerja di instansi tempatku bersekolah semasa aliyah dulu. Satu kesyukuran yang tak pernah menjadi sesal. Menjalaninya dengan penuh suka cita. Kembali bertemu para penerus perjuangan.

Untuk urusan menikah, tertulis pada rencanaku pada tahun 2018. Ketika ditanya orang, aku jawab dengan mantap. "In sya Allah 2018, mohon doanya". Beberapa mungkin mencibir, tapi kata salah seorang ustad, berharap dan berdoa, menikah misalnya, boleh-boleh saja kita sampaikan kepada orang lain untuk turut mendoakannya. Sebab kita tak pernah tahu, dari lisan siapa doa itu terijabah. Positive thinking saja.

Syarat istriku nanti ada tiga, yaitu berumur sama atau lebih muda, pintar memasak, dan berasal dari Jawa. Sesederhana itu. Kau tahu, semuanya kudapati pada dirimu, adinda. Dahulu, kita adalah dua aktivis dengan segudang aktivitas sepanjang hari. Dahulu, kita adalah dua yang meraba-raba takdir. Kita coba merangkai berbagai peristiwa menuju hari penuh restu dan bahagia.

Akhir bulan lalu, setelah pergolakan hati yang cukup rumit, seperti biasa aku menjaga kantor mahad. Aku buka browser di komputer mahad. Kubuka facebook dan kulihat beberapa notifikasi pertemanan. Seperti biasa, kukonfirmasi semuanya. Tanpa ada rasa apa pun. Biasa saja. Sejurus kemudian, notifikasi facebook berkedip. Kuperhatikan satu pesan masuk. Akun bernama Ulfa R. Asyida mengirimkan pesan yang cukup panjang. Tak biasa untuk orang baru yang baru saja dikonfirmasi lewat akun media sosial. Kubaca dengan saksama, kubalas dengan kata-kata, "alhamdulillah, semoga bermanfaat.".

Cerita terus berjalan dengan berbalas tulisan sepanjang waktu. Semangatku tiba-tiba saja meluap-luap tiada jemu. Biasanya sehari aku hanya menulis satu tulisan, bahkan satu kata mutiara saja. Tetapi, sejak akhir bulan lalu, aku terkadang bisa menulis lebih dari satu tulisan. Kadang dua, kadang tiga, atau lebih. Tulisan kami sepintas adalah harapan-harapan muda-mudi yang ingin menggapai cita-cita bahagia. Jujur saja, paragraf terakhirlah yang berkali-kali aku cek dan kubaca. Sebab biasanya, di sanalah inti dari semuanya. Dan kau tahu, semuanya serasa hadir di depan mata.

Tulisan dari hari ke hari itu, candaan di akun sosial media itu, pemikiran-pemikiran aktivis dalam berbagai diskusi yang mengalir begitu saja, membuat diri semakin yakin akan takdir yang sebentar lagi akan hadir. Benar saja, tulisan pada hari minggu lalu benar-benar mengusik hatiku. Mengoyak keberanian seorang pria yang benar-benar ingin memperjuangkan masa depannya bersama pasangan halal.

Aku coba berkonsultasi kepada kedua orang tua. Dua orang yang kuyakin sudah banyak makan garam kehidupan. Mereka berdua memintaku untuk menyatakan apa yang terdetik dalam hati kepada ia yang dituju. Aku pun setuju untuk mengatakannya malam itu juga. Tetapi sebab satu dan lain hal, kuurungkan niatku. Tenang, semoga esok masih memberikan kesempatan kepada hamba untuk menyampaikan maksud baik kepada yang dicinta.

Benar saja, kupersiapkan segalanya dengan baik. Kumulai menghubunginya via suara pada senja yang terasa lamban menyapa malam. Ada suara yang tersendat, kata-kata meluncur begitu saja, bumbu-bumbu basa-basi benar-benar bermain kala itu. Masuklah aku pada penyampaian satu niat baik kepadanya.

Sambil menghela napas panjang, menyelaraskan degup jantung yang tak menentu sejak beberapa waktu lalu, sembari mengucap doa selalu. Kuucapkan segala pinta itu. Bersiap dengan apa pun tanggapan dan jawabannya. Ada jeda sekian waktu. Kita dikuasai diam dan waktu yang terus berdetik. Ada keraguan yang menggantung, ada jawaban yang benar-benar menjadi penentu masa depan. Akhirnya, meluncurlah jawaban itu. Keduanya bersepakat menuju satu hubungan yang lebih serius. Dengan basmalah, diiringi doa kepada-Nya, sore itu benar-benar menjadi momen berharga di antara dua insan yang mencoba merenda masa depan. Menyatukan usaha dan doa lantas bertawakal kepada Sang Maha Cinta. Hari itu segalanya berubah.

Ada satu hal yang selalu menggangguku setelah ungkapan rasa senja itu. Ada perjumpaan yang didamba. Ada sua yang diinginkan tercipta. Tapi kapan, aku berkali-kali bertanya dan meyakinkan diri. Ini harus secepatnya dilakukan. Bukankah niat baik harus disegerakan. Rabu malam lalu, kuputuskan pulang sejenak ke kampung halaman. Menemui ia yang selama seminggu terakhir mengisi baris-baris prosa dan puisi yang tidak biasa. Ia istimewa. Ia benar-benar hadir dari hati, tak hanya logika belaka.

Aku sampai di kampung halaman pada Kamis malam menjelang Isya. Ada rasa bahagia yang merasuki diri. Betapa tidak, pertemuan antara aku dan dia, juga keluargaku dan keluarganya menjadi agenda utama kepulanganku hari ini.

Waktu terasa ingin kulipat dan percepat. Sampai aku lupa bahwa ia hanya menjadi makhluk yang taat pada Sang Maha Pemberi Nikmat. Jumat siang adalah rencana kita bertemu. Mengambil tempat di satu tempat makan yang sederhana. Ah, sederhana tak mengapa, yang terpenting adalah dengan siapa kau menghabiskan waktu yang berjalan.

Aku turun dari sepeda motor, sebelum memasuki rumah makan itu, dengan sembunyi-sembunyi aku menerka, yang mana motornya, yang mana orangnya. Ah, sepertinya ia duduk tepat di arah jam 11 dari tempatku berada. Aku masuk rumah makan itu, kudekati dirinya, aku bahkan lupa siapa yang pertama kali memberi salam. Aku mengambil tempat duduk berhadapan dengannya. Memesan makan dan minum dan memulai percakapan yang penuh makna.

Pesonanya tiba-tiba saja begitu terasa. Jauh, jauh lebih memesona dari yang selama ini kukira. Basa-basi dan diskusi serius terjadi. Beberapa kesepakatan terbentuk, meski beberapa masih terasa menggantung dalam otak. Menyisakan tanya, berdoa semoga hasil diskusi pada acara selanjutnya adalah yang terbaik adanya.

Yang seru adalah aku menemaninya berbelanja senja itu. Awalnya aku ragu, tapi tak mengapa. Apa salahnya. Lagipula tak ada agenda lain senja itu. Mungkin ada yang bertanya, apa misiku sampai rela menemaninya berbelanja. Ah, rahasia. Yang pasti senja itu aku ingin berjalan lebih lamban dari biasanya. Tapi apalah daya, waktu berjalan sebagaimana mestinya dan mengharuskan kita berdua berjarak sekian kilometer kembali. Menyapanya dalam doa dan tulisan adalah kelanjutannya.

Esok hari, akan menjadi pertemuan dua keluarga. Kuharap segalanya berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Bukan hanya harapanku tentunya, tetapi harapan dua keluarga. Kupersiapkan yang terbaik yang kumampu. Semoga tak ada kecewa dan gelisah yang tercipta setelahnya. Malam ini aku hanya akan memperbanyak doa pada-Nya, semoga esok dilancarkan segalanya.

Akhirnya, pada malam yang bertahta
Selepas berkunjung ke beberapa destinasi wisata 
Kutuliskan satu cerita pada adinda 
Berharap tak mengganggu tidurmu di malam bahagia


Ledok Kulon, Bojonegoro, 14 April 2018 20:57

Komentar