Ilmu Negosiasi


Menjadi bagian persidangan (perlengkapan) dalam suatu acara yang cukup besar benar-benar membuat saya banyak belajar. Kalau pada acara lingkup mahad yang sekupnya kecil, saya masih bisa menanganinya dengan cukup baik. Tetapi, untuk sekup yang lebih luas tentu bukan satu hal yang mudah. Meski bukan berarti satu hal yang sulit juga selama mau belajar.


Hari ini saya mendapat satu masalah. Apa itu? Dari perjanjian awal sekian juta rupiah ternyata sewa panggung dan lain-lain belum termasuk jenset. Padahal keberadaan jenset dalam pagelaran seni di tahun kedua ini menjadi satu hal yang krusial dan harus ada. Mau tidak mau saya harus berkonsultasi dengan Mr. Yoga untuk mencari solusi terbaik. Mengingat dua hari lagi acara akan dilangsungkan. Beruntung, Mr. Yoga begitu terbuka dan mau membantu menyelesaikan dengan baik.

Mr. Yoga langsung meminta nomor gawai yang biasa saya pakai untuk menghubungi pihak panggung. Beberapa saat kemudian, mereka terlibat dalam negosiasi yang cukup apik saya kira. Mr. Yoga dengan gaya yang sedikit selengekan dan canda tawa yang renyah akhirnya berhasil membujuk pihak panggung untuk memberi sewa jenset di bawah harga normal. Konsekuensinya adalah ada beberapa item yang harus dikurangi. Bagi Mr. Yoga hal itu tak terlalu menjadi masalah.

Saya diberitahu oleh Mr. Yoga bahwa begitulah salah satu cara negosiasi yang baik. Bawaannya jangan serius terus. Bumbui dengan canda tawa yang enak dan tawarkan solusi yang sama-sama baik untuk kedua pihak. Misalnya dengan iming-iming promosi ke kepala madrasah dan iming-iming lainnya.

Terima kasih Mr. Yoga. Ilmu negosiasi adalah ilmu baru yang saya dapatkan. Saya memang bukan tipe orang yang mudah membujuk orang untuk mau mengikuti setting acara kecuali terpaksa. Terkadang, ilmu-ilmu semacam ini diperlukan terutama ketika anggaran dana yang ada memang mepet dan kecil. Sehingga dengan begitu, semua pihak merasa senang dan tak ada yang merasa dirugikan.

Malang, Senin, 30 April 2018

Komentar