Menyambutmu di Kota Sejuta Rindu

Sabtu, 28 April 2018
Selalu ada kejutan dalam hari-hari bersamamu. Beberapa waktu lalu, tersiar kabar kehadiranmu di kota tempat kita pernah menimba ilmu beberapa tahun lalu. Aku begitu senang mendengarnya. Aku persiapkan segalanya. Aku begitu siap menyambutmu. Ini spesial, sangat spesial.


Kamu berangkat dari kota kelahiran pukul 6.30 bersama adik sepupu. Seperti biasa, kuselipkan kata ucapan hati-hati di jalan untukmu. Sekian jam berlalu, aku sibuk dengan penerjemahan skripsi yang belum juga selesai. Menjelang zuhur aku pergi untuk salat zuhur di masjid. Usai zuhur aku kembali menerjemah.

Pukul satu siang lewat, aku mengikuti acara tasyakuran kelas XII IPA 1. Aku bertemu dengan beberapa orang tua dan wali siswa kelas XII IPA 1. Aku benar-benar terharu dengan persembahan mereka kepada orang tua. Begitu menyentuh dan membuat suasana bahagia penuh haru. Usai itu, aku mempersiapkan segalanya untuk menyambut tamu spesial, kamu. Kupakai kemeja terbaik, kutata penampilan sebaik mungkin. Hari ini harus menjadi hari bahagia, semoga semesta merestui. Lagipula orang tua di rumah memintaku untuk menemaninya. Kalau sudah semacam itu, aku hanya bisa mengiyakan sambil mengupayakan yang terbaik.

Detik waktu berlalu begitu cepat. Azan Asar berkumandang. Selepas bersih diri, aku salat Asar dan bersiap menjemputmu. Sampai di depan tempat menginap, aku menunggumu. Beberapa saat setelahnya kamu hadir di depan mata. Hanya sekian meter saja jarak hari ini. Kau kenakan kerudung pink itu. Kacamatamu menambah pesona diri. Ah, sempurna. Kau cantik sekali hari ini, calon bidadari surgaku.

Untuk pertama kalinya, kubonceng dirimu. Canggung awalnya, tapi mau bagaimana lagi. Sepanjang perjalanan, aku serasa masih tak percaya dengan hadirmu hari ini. Percakapan mengalir dan bergulir begitu saja. Yang pasti sore itu bahagia membuncah, keceriaan tak mau beranjak, kejutanmu setelah seminar proposal beberapa hari lalu menambah sempurna episode hidupku.

Sore ini kita menuju Cokelat Klasik. Ini kali kedua aku ke sana, bersama satu orang yang akan membersamai sisa hidup. Kita duduk berhadapan, sama seperti yang kita lakukan dua minggu sebelumnya di tempat yang berbeda. Bercerita banyak hal dan bertukar buku selalu membuat diri rindu. Rindu senyum manismu. Rindu canda tawamu. Rindu wajah teduhmu. Rindu nasihat-nasihat yang terus menguatkanku.

Mulai dari basa-basi sampai hal-hal serius dibahas sore ini. Rencana khitbah beberapa waktu lagi, juga harapan-harapan di masa depan. Aku berkisah tentang buku terakhir yang kubaca. Kau mendengarnya dengan saksama. Sambil sesekali menyeruput es Chocopuchino dan makan roti bakar. Percakapan demi percakapan terus berjalan hingga tak terasa detik waktu berlalu begitu cepat. Minuman sudah tandas, makanan sudah ludes, senja mulai turun dan menggiring cahaya kuning untuk kembali ke peraduannya.

Kita berdua beranjak untuk pulang dan menuju masjid untuk salat. Entah mengapa, suasana menjelang magrib kali ini berbeda. Udara dingin menusuk kulit. Kamu merasa kedinginan. Aku memacu motor lebih cepat. Sampai di penginapan, kamu salat magrib. Aku pun mencari masjid terdekat untuk salat Magrib. Seusai magrib, lapar melanda. Aku mengajakmu makan malam. Kamu sekadar menemani, tak mau memesan apa pun. Selepas itu, rencana ke acara memperingati Chairil Anwar di UMM Inn kita batalkan. Kita salat Isya di salah satu masjid dekat pusat perbelanjaan di Kota Malang lantas memilih untuk pergi ke toko buku Toga Mas. Kita berputar-putar di sekitar buku-buku. Kita tertawa, sesekali berdebat, memberi masukan mana yang lebih baik dibeli, ah, pokoknya bahagia hatiku malam ini. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Kita harus segera beranjak dari toko buku ini. Sudah mau tutup katanya.

Malam itu, kuantarkan dirimu ke penginapan. Aku pun kembali ke mahad untuk beristirahat. Yang membuat aku kaget bahwa malam itu kau berikan buku persiapan menikah. Kubaca bagian agak akhir, sampai aku tertidur. Nyenyak sekali.

Ahad, 29 April 2018 
Pagi ini, alarm kembali mengingatkanku dan membangunkan diri untuk segera melaksanakan sunnah tahajud. Doa-doa kembali dipanjatkan. Meski jarak antara kita berdua dua hari ini cukup dekat. Semoga tak pernah ada yang salah dalam niat diri.


Salat subuh ditunaikan, tak lupa senandung kalam Ilahi didendangkan dengan merdu. Aku berolahraga ringan hari ini. Sekadar berlari memutari daerah madrasah sepanjang jalan Bandung. Tetapi aku berbelok ke Simpang Balapan. Rasanya sudah cukup lama tak ikut senam di sana. Pukul 06.45 kusudahi senam itu. Sebab diri harus segera kembali ke mahad karena gladi haflah takhrij akan digelar. Sebelum kembali, kususuri jalan Ijen, menuju salah satu tempat dijajakannya berbagai dagangan di seberang gereja Ijen. Sesekali kutengok kanan kiri, mungkin saja kutemukan dirimu duduk atau sedang berjalan bersama kawan-kawan. Aku sengaja tidak membawa gawai. Kalau memang bertemu kali ini, aku begitu bersyukur. Kalau tidak pun, kurasa siang nanti aku yakin akan bertemu denganmu.

Aku tidak mendapatimu kali ini. Aku langsung saja kembali ke mahad, mempercepat langkah, takut terlambat dalam gladi. Kukondisikan santriwan kelas XII untuk segera menuju tempat gladi. Aku dampingi gladi sampai hampir selesai.

Pukul 10.30 aku terpikir untuk mengajakmu ke alun-alun Kota Malang. Aggap saja kenangan sebelum kembali ke tempat kelahiran. Kuajak dia dan dia mengiyakan ajakanku. Meski tidak lama, kita berdua sempat berfoto berdua. Satu hal yang dengan malu-malu aku memintanya. Beruntung kamu adalah wanita tangguh dan mudah sekali bercanda. Satu kesyukuran kembali terucap. Setelah puas berputar di alun-alun. Terlebih cuaca panas yang cukup terik menjelang tengah hari, kami duduk sejenak di kursi yang disediakan di sekitar alun-alun.

Beberapa menit berikutnya, azan Zuhur berkumandang. Kita menuju masjid Jami Agung Kota Malang untuk menunaikan Zuhur. Setelahnya, kuantarkan dirimu kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Bojonegoro. Kuantarkan dirimu ke terminal Arjosari. Siang itu jarak kembali merentang di antara kita berdua. Memaksa diri untuk kembali menyulam rindu dalam pinta syahdu. Mencoba menikmati rasa dalam hati yang semakin mengakar kuat. Tentang perjumpaan-perjumpaan menuju perjumpaan suci, menuju ikatan suci dengan restu dari orang-orang tercinta.
Terima kasih kunjunganmu dua hari ini. Terima kasih atas kesempatan yang tersuguhkan dan kejutan yang terbingkai rapi berselimut doa. 

Terima kasih atas kesempatan mengenalmu lebih jauh. 
Terima kasih atas rasa percaya yang kian hari kian bertunas dan kelak akan berbunga indah. 
Terima kasih atas pemahaman-pemahaman tentang diri. 
Semoga tiada sesal dan cukuplah kebahagiaan yang terukir dalam hati.


Kota Sejuta Rindu, Kota Hujan Kedua, Malang, Ahad, 29 April 2018

Komentar