Selalu Ingat Awal Kita Saling Kenal (Momentum Satu Bulan Perkenalan) Part 2


Setelah pernyataan janji kedua insan itu, kita kembali asyik pada tulisan yang semakin mengalir, semakin mesra dari hari ke hari. Ada kerinduan mendalam pada yang dicinta. Ada rasa yang semakin nyata dalam dada. Ada jumpa yang didamba.


Begitulah manusia. Mungkin benar bahwa pertemuan adalah obat mujarab bagi para pecinta. Hari demi hari terlewati dengan sempurna. Berbalas tulisan masih kita lakukan. Arahan dari orang tua terus kupinta.

Hingga Rabu malam itu hadir, hatiku tak tenang. Ingin pulang tetapi tanggung jawab di sini masih harus dilangsungkan. Setelah menimbang satu dan banyak hal, akhirnya kuputuskan menjelang tengah malam untuk membuat surat izin. Izin meninggalkan mahad sejenak. Aku tak pernah sebelumnya senekat ini. Tetapi, ini perihal masa depan kawan. Perihal niat baik yang harus disegerakan. Tak dapat ditunda lagi. Begitu kurang lebih alasan yang bisa aku kemukakan.

Istirahat Rabu malam itu menjadi sangat indah. Membayangkan pertemuan denganmu di suatu waktu, di suatu tempat. Pertemuan yang syahdu. Dua manusia beradu pandang, bertukar senyuman, bersilang pendapat tentang banyak hal. Indah sekali.

Kamis pun menyapa. Membangunkan diri dari tidur sekian jam yang bisa jadi tak nyenyak. Bukan karena waktunya yang singkat, tetapi lebih karena ada Adinda di seberang kota yang begitu dirindukan sapa dan jumpa dengannya. Waktu berjalan begitu lambat. Rasanya ingin melipat jarak dan waktu. Berharap pintu Doraemon benar-benar ada, lantas akan kugunakan semauku untuk menemuimu.

Ah, mengkhayalku kejauhan. Sudahlah, cukup. Pagi itu, Kamis, 12 April 2018, aku memohon izin ke ketua mahad. Kali ini agak sulit menjelaskan sebab kepulanganku yang memang cukup lama. Biasanya maksimal dua hari, tetapi kali ini sampai tiga hari. Tetapi, alhamdulillah izin sudah kukantongi setelah sempat berbasa-basi ini dan itu terlebih dahulu. Selepas salat Zuhur yang ditunaikan, aku bergegas mengemasi barang-barang yang kubutuhkan, kupacu sepeda motor menuju terminal Arjosari. Sudah lama rasanya tidak pulang kampung. Lebih kurang tiga bulan aku tidak pulang.

Perjalanan kali ini lancar. Aku bersyukur akan hal itu. Belum lagi sambutan keluarga di rumah yang cukup antusias. Sedikit berbeda dari biasanya. Entah karena apa. Mungkin sebab agenda masa depanku ditentukan sekian hari ini. Setelah bersih diri dan makan malam, kurenda mimpi. Berharap esok berjalan sebagaimana yang didamba dan sesuai rencana.

Jumat, 13 April 2018 
Fajar menyingsing di bumi Mliwis, matahari menggantikannya segera beberapa saat kemudian. Sinarnya merekah indah. Membuncahkan semangat dalam dada. Menggairahkan semangat untuk bekerja dan berkarya. Kukirimkan pesan singkat pada Adinda perihal pertemuan siang ini. Kuminta Adinda untuk mengecek tempat pertemuan terlebih dahulu. Kau pun mengiyakan. Satu kesyukuran kembali mendarat dalam diri. Meski kita belum pernah bertatap muka barang sekali.


Terik mentari tak menyurutkan niat dua insan untuk berjumpa. Siang itu, untuk pertama kalinya sepasang bola mata beradu denganmu. Siang itu, senyum itu benar-benar hadir dan nyata. Dirimu duduk di hadapan, mengulas senyum. Balutan jilbab hitam dengan seragam mengajar itu membuatmu begitu anggun. Ah, kau jauh lebih memesona dari yang pernah kubayangkan.

Cerita-cerita mengalir begitu indah. Kisah PKL yang mengundang gelak tawa. Sampai akhirnya, kita berbincang seputar hal-hal yang jauh lebih serius. Seputar pernikahan tentu saja. Rencana khitbah, mahar, prosesi adat dan lain-lain. Rasanya kesesuaian di antara kita berdua cepat sekali terjadi. Alhamdulillah bini'matihii tatimmus shoolihaat.

Azan Asar berkumandang, sepertinya pertemuan memang seharusnya disudahi. Kutanyakan padamu apakah akan langsung pulang ke rumah atau masih ada urusan lain. Kau bilang masih harus membeli beberapa keperluan rumah tangga yang memang dibutuhkan. Aku berpikir sejenak. Menimbang untuk ikut menemanimu berbelanja atau pulang saja. Akhirnya aku menawarkan diri untuk menemanimu, kau pun setuju. Baiklah, paling tidak kesempatan bertemu kali ini bisa jauh lebih lama dari yang kukira.

Kita pacu sepeda motor menuju pusat perbelanjaan kota yang tak jauh dari tempat kita semula bertemu. Di sana kita kembali bercerita, bercanda dan tertawa, mengitari barisan barang rumah tangga selama sekian menit. Rasanya bahagia sekali. Tak mampu diungkap dengan kata. Cukup dirasakan saja dalam hati.

Setelah selesai, kita kembali memintal jarak. Menggumamkan doa-doa terbaik kepada Sang Maha Cinta. Berharap rasa yang bersemayam terus bersemi tiada henti. Berharap cinta yang ada tak pernah dibumbui dusta dan duka nestapa.

Tulisan kita kembali beradu padu. Tentang pertemuan sore itu kita tuliskan sesuai versi masing-masing. Paling tidak itu menjadi penawar rindu yang terus bertalu-talu. Esok lusa dua keluarga akan bertemu. Satu momen yang sudah lama kudamba. Kuyakin kau pun merasakan hal yang sama. Bersabarlah sejenak. Semoga esok lusa berjalan sesuai rencana.

Ahad, 15 April 2018 
Barangkali Ahad ini ingin berkali-kali kuulang sepanjang hidup. Pagi hari selepas Subuh, kubaca kalam Ilahi seperti biasanya. Kusapu rumah sampai bersih. Aku sudah bersih diri terlebih dahulu. Kukira pagi ini kami sekeluarga akan tetap pergi ke Pengajian Ahad Pagi Masyarakat Madani seperti biasanya. Nyatanya, hal itu tidak terjadi. Kutanya pada ibu, ibu menjawab bahwa Ahad kali ini spesial buatku. Ah, terima kasih ibu. Kebunku kembali bermekaran dengan bunga-bunga indah. Aku kembali duduk di kursi, menikmati buku yang kubawa dari Malang.


Menjelang pukul tujuh pagi, kami sekeluarga berangkat. Pakaianku adalah kemeja biru dengan celana hitam kain andalanku. Seusai sarapan dan membeli buah. Kami meluncur ke Bakung. Perjalanan hampir satu jam kami tempuh. Sampai di Bakung, kami mampir terlebih dahulu ke rumah saudara, Mbak Leli namanya. Lima belas menit berlalu. Akhirnya kami putuskan untuk segera menuju rumah Adinda. Rumah yang tentu di masa depan akan sering kukunjungi. Aku turun dari mobil. Aku sedikit gugup. Tak pernah segugup ini sebelumnya. Beruntung, aku bisa mengendalikan semua itu dengan baik.

Kusalami ayah Adinda yang menunggu di teras rumah. Aku tak melihatmu kala itu. Sepertinya sedang sibuk di dapur dengan ibumu. Baru setelah memasuki ruang tamu, kulihat dirimu dengan gaun kuning atau cokelat ya, ah, maaf, aku lupa. Yang pasti kerudung panjangmu membuatmu semakin cantik. Serius, aku tidak berbohong.

Ayahku dan ayahmu terlibat perbincangan hangat. Tentang masa lalu keduanya. Sedang ibuku asyik bercerita dengan pamanku. Aku berada di antara keduanya. Aku hanya mendengarkan dengan saksama sembari sesekali tertawa dan menimpali. Tiba-tiba saja kamu memintaku untuk membantumu menyiapkan es di ruang tengah. Aku agak kikuk awalnya. Tetapi, tak apalah. Aku pun mengiyakannya. Kita berbicara sedikit sambil menuangkan es ke dalam gelas. Setelah selesai, dua keluarga makan bersama. Aku duduk di antara ayah dan ibuku, kau duduk di samping ayahmu.  Kita berhadapan meski tak berani untuk saling memandang dengan bebas. Sesekali kucuri pandang ke arahmu. Senyummu tak pernah lekang hari itu. Kunikmati hidangan pagi menjelang siang itu. Tak lupa salad buah yang kau janjikan, aku memakannya dengan lahap.

Pertemuan itu berujung pada keputusan bahwa kedua keluarga bersepakat untuk mengikatkan janji suci antara aku dan Adinda. Rasanya ingin aku menangis terharu kala itu. Beginilah cara Allah mempertemukan dua insan. Syahdu, penuh harap pada-Nya. Ia Maha Segalanya. Seminggu kenal, menyatakan, lantas seminggu berikutnya bertemua dua keluarga besar. Cepat dan tidak bertele-tele.

Pertemuan kala itu harus berakhir sebab aku dan adik pertamaku harus segera kembali ke perantauan. Mulai hari itu, kita telah bersepakat menuju ikatan halal. Selama masa itu, kuharap kita sabar menanti. Menyenandungkam doa tiada henti. Menambah ilmu sebagai bekal berumah tangga nanti.

Adinda, hadirmu adalah kabar bahagia. 
Adinda, mengenalmu adalah anugerah yang tiada sesal di antaranya.
Adinda, membersamaimu adalah jawaban atas pintaku pada-Nya. 
Adinda, izinkan diri menjadi imammu di dunia hingga Surga-Nya.


Dari Kota Sejuta Kenangan, dari Kota Hujan Kedua, untukmu di Bumi Mliwis, 2 Mei 2018 #latepost 

Komentar