Terminal, representasi Kehidupan Manusia


Sore ini kembali aku pulang. Di terminal bus Bungurasih aku harus transit, sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. Di terminal ini kulihat berupa-rupa manusia. Para penjual asongan menjajakan dagangannya kepada penumpang, ada pula seorang suami yang harus rela melepas istrinya untuk pergi. Ada pula sepasang suami istri yang tampak mencari tempat duduk bersebelahan sebab sang istri sedang sakit. 
.
Di terminal, kerasnya kehidupan tampak dari orang yang lalu lalang. Betapa terpaan kehidupan jalanan telah membentuk satu ciri khas dan menjadikan karakter mereka cukup berbeda dari orang kebanyakan. Di terminal ini, tak jarang kau jumpai lontara kata-kata makian dari sesama sopir, keluhan tak berkesudahan dari para pedagang asongan yang dagangannya tak kunjung laku, atau tentang pengemis yang sedari tadi melongo dan hanya mampu melihat lalu-lalang orang yang pergi dari satu tempat ke tempat lain. 
.
Terminal ini menggambarkan kehidupan kita. Bahwa hidup hakikatnya adalah perpindahan. Perpindahan dari hidup sementara di dunia menuju kehidupan abadi di akhirat. Bahwa hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Bahwa hidup adalah perjuangan sekuat tenaga dan tiada henti. Bahwa hidup adalah tentang menunggu. Kadang yang ditunggu datang dengan cepat, meski terkadang juga harus rela menunggu cukup lama. Akhirnya, semoga segala perpindahan dalam hidup dipenuhi dengan kebahagiaan dan keberkahan.
.
Bungurasih, 15 Mei 2018 15:25 menuju Kota Angling Dharma.

Komentar