Mudik Bersamamu


Senin, 11 Juni 2018, kembali kau jejakkan kaki di Kota Sejuta Rindu. Aku sudah merindukannya sejak lama. Sejak kepulangan sebelum puasa waktu lalu, rindu ini mengakar kuat meski tak terucapkan. Rindu ini semakin menguat meski tak tertuliskan. Ia mengendap dalam hati mendamba pertemuan.


Kala itu, aku sedang di luar. Mengantar paket untuk alumni mahad. Satu jam antre membuat diri sedikit capek. Tapi seketika hilang tatkala mengetahui empat panggilan darimu. Maafkan sebab diri tidak mengangkatnya, maklum lagi nyetir. Semoga kau maklum. Baru saja diri mematikan mesin motor, kunyalakan kembali dan kupacu menuju terminal Arjosari. Diri hanya berharap tidak macet di jalan agar rindu ini segera tertuntaskan.

Tepat diri mematikan mesin di belakang salah satu bus yang menurunkan penumpang, kulihat dirimu mendekatiku. Ah, senangnya hatiku kala itu. Senyum itu kembali tersulam. Wajah teduh itu rasa-rasanya menghilangkan capek yang terasa.

Keesokan harinya, 12 Juni 2018

Kubonceng dirimu menuju Bumi Mliwis. Beristirahat di beberapa titik, melempar senyum dan canda seperti biasa, indah sekali. Perjalananku kali ini benar-benar membahagiakan. Lelah itu terbayar dengan memboncengmu. Memang benar kata orang kalau cinta terkadang membuat pelakunya memiliki tenaga yang tidak biasa, semangat yang luar biasa. 

Omelanmu sepanjang perjalanan menghiasi telinga. Kelak, hal itu akan lebih sering terdengar. Lagi-lagi aku bahagia dengan hal semacam itu. Kecerewetanmu padaku adalah satu modal besar dalam membesarkan keturunan kelak. Saling menasihati dalam kebaikan dan ketaatan. 

Menjelang Zuhur, sampai juga kita berdua di rumahmu. Bercengkerama ke sana kemari dengan orang tuamu, yang kelak juga menjadi kedua orang tuaku. Ada kehangatan, ada nuansa persaudaraan yang telah lama kudambakan. Ada perbincangan diselingi canda yang penuh keceriaan. Semoga seterusnya seperti ini ya, Dik. :)


Momen selanjutnya aku dibonceng oleh ayahmu, sudah macam anaknya sendiri. Melewati sawah yang terhampar luas. Satu pemandangan yang begitu sulit kutemui di kota. Asal kau tahu, ketika di Malang, ketika diri suntuk, aku pun akan memacu motor menuju tempat pengabdian masyarakat di daerah Sumberpucung, lantas berhenti di pinggir pematang sawah, memandanginya dari dekat. Memperhatikan kepak burung dan cuitnya yang bersahutan. Damai sekali. Sesekali membayangkan bahwa suatu saat aku dan dirimu berdiri di antara pematang sawah itu, berlarian, mungkin sesekali dirimu terjatuh, lantas kuulurkan tangan untuk membantumu. Bukankah itu romantis, Adinda?

Seusai salat Zuhur, perbincangan masih terus berlanjut. Menjelang pukul setengah satu siang, aku harus undur diri. Orang tua di rumah sudah menanti. Kembali kucium tangan ayah ibumu dan kuucap salam. Terima kasih sudah bersedia menerima diri ini. Semoga kecewa tidak bertahta di antara pertemuan hangat yang tercipta.

Adinda, besok kita akan kembali berjumpa. Jaga diri dan hatimu baik-baik. Doa terbaik senantiasa disenandungkan untuk kita berdua.

Bojonegoro, 13 Juni 2018 05:35

Komentar