Satu Langkah Awal Terlewati


Menjejaki satu langkah awal menuju janji suci terlaksana sudah. Pada hari yang telah ditentukan oleh kedua belah pihak, kita sama-sama bertemu. Tak hanya antara aku dan kamu. Tapi keluarga besarku dan keluarga besarmu. Mungkin ada yang berpikir, mengapa harus keluarga besar? Tidak cukupkah satu dua orang saja? Sebenarnya ini merupakan hikmah dari khitbah. Dengan hadirnya dua keluarga besar, artinya ada banyak saksi dan lebih ada banyak doa yang terlantun dari lisan-lisan dua keluarga untuk kelancaran menuju hari yang dinantikan.

Sejak beberapa hari lalu, aku menghitung mundur kapan pertemuan itu terjadi. Hari ini semua itu terlaksana. Pagi hari, kubuka mata, ketenangkan hati. Kulangkahkan kaki menunaikan dua rakaat subuh, tak lupa dengan qabliyah subuh. Lantunan ayat suci kembali menghiasi pagiku. Kupersiapkan segala sesuatunya. Berharap agenda suci kali ini berjalan tanpa halangan. Kubantu kedua orang tuaku mempersiapkan ini dan itu sembari menunggu rombongan dari paman, bibi, sepupu, dan tetangga yang beberapa waktu lalu telah ditunjuk khusus oleh kedua orang tua.

Sekitar pukul 9 lewat, kami berkumpul di ruang tamu. Aku duduk di antara mereka. Ayahku menyampaikan beberapa hal dan diakhiri dengan doa. Akhirnya, rombongan berangkat menjelang pukul 10 pagi. Sampai di dekat kediamanmu, aku berhenti sejenak di rumah sepupu. Sekadar menyapa saudara jauh yang kali ini bisa hadir. Kusalami mereka semua, tak lupa kumohon restu dari mereka.

Melajulah mobil yang membawa rombongan menuju kediamanmu. Di depan rumahmu, keluarga besar sudah menunggu. Aku turun dari mobil, membuntuti ayah, bersalaman dengan satu per satu keluarga besarmu. Ada rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Aku pun masuk ruang utama, masih berdiri. Menunggu seluruh anggota keluarga besarku masuk. Akhirnya kami semua duduk.

Acara dibuka oleh Pak Kaulan. Beliau mewakili ayahmu untuk mengomandani acara kali ini. Ayahku pun menjelaskan maksud kedatangan kami kali ini. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa pinangan dari keluargaku diterima. Kembali kesyukuranku hadir kala itu. Ucapan alhamdulillah tak lupa terucap. Kutelungkupkan kedua tangan bermohon pada-Nya semoga senantiasa diberi keberkahan dalam setiap langkah yang diambil. Ada haru yang menyeruak. Ada syahdu bersama isak. Isak bahagia, tanpa pura-pura.

Selanjutnya dua keluarga besar menentukan tanggal akad nikah dan resepsi. Terhitung tiga bulan dari hari ini janji suci akan benar-benar melangit bersama doa dan restu-Nya. Bersabarlah dik. Waktu itu akan datang. Ayahku memberi sedikit nasihat bahwa semua hari adalah baik. Bahwa mengapa ada keyakinan tidak boleh menikah di bulan Muharam, sebab sebenarnya kala itu, para raja yang sedang menikahkan anak-anaknya. Sedangkan rakyat diminta mengumpulkan seluruh hasil bumi untuk jamuan pernikahan anak raja tersebut. Kemudian pesan lainnya untukku dan kamu bahwa selepas khitbah hari ini akan ada banyak cobaan dan rintangan. Banyak godaan yang terus mengintai dan menguji keimanan serta kesetiaan. Berjanjilah untuk senantiasa saling mendoakan. Berjanjilah untuk terus saling setia. Acara ditutup dengan ramah tamah. Dua keluarga besar menikmati hidangan yang telah disiapkan. Selepas azan Zuhur, keluarga besarku undur diri. Tak lupa kita sempatkan foto bersama kedua orang tua kita masing-masing. Semoga menjadi kenangan tak terlupakan untuk diingat kelak ya, Dik.

Terima kasih atas jamuan keluarga besarmu hari ini. Terima kasih atas penerimaanmu atas segalanya yang ada pada diriku. Terima kasih atas segala doa dan restu yang terajut indah membingkai hari bahagia kita. Semoga langkah kita berdua menuju janji suci yang akan terucap senantiasa diberi kelancaran dan kemudahan. Kelak, semoga keluarga yang kita bangun menjadi miniatur keluarga bahagia, sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Kota Sejuta Rindu, 25 Juni 2018 19:54 
Mengenang langkah awal kita, 23 Juni 2018 di Bojonegoro.

Komentar