Tentang Menyeleksi Hal-hal Tidak Penting dalam Hidup

Pagi ini, pada liburan di hari kesekian, saya kembali disibukkan dengan bersih-bersih rumah. Kali ini gudang menjadi objek yang akan dibersihkan. Berbagai macam barang pecah belah dikeluarkan, dibersihkan, dipilah dan dipilih. Mana yang harus dibuang dan mana yang harus disimpan menjadi pekerjaan tersendiri ketika bersih-bersih semacam ini.


Ada kertas-kertas zaman kuliah sarjana, buku bacaan, sepatu zaman Aliyah, dan berbagai barang lainnya. Saya bersama keluarga gotong royong membersihkan gudang yang sesungguhnya hanya memiliki luas lebih kecil daripada ruang-ruang lainnya. Satu sampai dua jam pekerjaan tersebut akhirnya selesai. Beberapa barang terpaksa "dipertimbangkan" (istilah ayah saya) alias berakhir menjadi barang rongsokan. Beberapa lainnya kembali disimpan dan ditata dengan rapi. Ruangan dibersihkan, dipel, diberi pengharum dan kembali ditutup.


Pun begitu dalam hidup. Kadangkala banyak orang di luar sana merespon perilaku kita dengan hal-hal yang lebih bernuansa mengganggu daripada memberi saran atau sekadar apresiasi. Kalau sudah semacam itu pilihan ada di tanganmu. Kau boleh mengabaikannya, kalau perlu kau blokir saja. Kau pun boleh memilih untuk tetap membiarkannya mengganggumu sepanjang waktu, mengusikmu tiada jemu.

Tempatkan sesuatu sebagaimana seharusnya. Bila ia lebih baik berada bersama onggokan sampah, biarkan ia di sana. Namun bila ia lebih tepat berada di lemarimu bersama barang-barangmu yang lain, letakkan ia di sana. Mari belajar menyeleksi hal-hal yang perlu dan hal-hal yang tidak perlu dalam hidup. Sebab hidup sejatinya perkara memilih. Pilihanmu yang akan menentukan bagaimana kehidupanmu selanjutnya.

#renungan #bersihbersihrumah #21062018

Komentar