Turn to 24, You


Bagaimana perasaanmu dapat merayakan hari berkurangnya jatah umur bersama calon pasangan penyempurna agama? Tentu bahagia bukan? Nah, itulah yang aku rasakan kemarin, Rabu, 13 Juni 2018. Dua momen bahagia beradu menjadi satu. Kedua orang tua merayakan ulang tahun peenikahan ke 25. Silver anniversary, plus Dik Ulfa Rosyidah merayakan ultahnya yang ke-24.


Rasanya hari itu ingin berjalan cepat menuju senja. Selepas Asar aku bersiap-siap untuk menjemputmu di KUA Kapas. Hampir setengah jam aku sampai. Long dress warna pink itu kembali mewarnai mataku. Menyadarkan bahwa ini nyata, tidak ilusi belaka. Kau berdiri di hadapanku. Sesekali mencuri pandang. Ah, tidak mencuri lagi, sengaja lebih tepatnya. You look so beautiful this afternoon, baby.

Kau kubonceng untuk kesekian kalinya. Kemarin kita berkendara dari Malang menuju Bojonegoro, kali ini kembali kujemput dirimu untuk merayakan hari bahagiamu. Kau bilang mau membeli bunga, sayangnya toko bunga tak ada yang buka. Sampai di rumah, kau duduk malu-malu, bersalaman dengan ayah, ibu, dan adikku. Aku sesekali bercengkerama. Tidak sebebas ketika di Malang memang, tapi kutahu kebahagiaan itu terpancar jelas di wajah kita berdua.

Menjelang magrib, kita berangkat bersama menuju tempat berbuka puasa. Meski sempat keliru mengambil tempat karena nama yang tertera di meja tidak terlihat, kami tampak baik-baik saja. Kau duduk dekat denganku. Sesekali melempar senyum, canda, berkelakar, juga makan sisa makananmu, satu hal yang akan sering aku lakukan nantinya. Rasanya indah sekali.

Selepas makan, kita segera pulang ke rumah. Salat magrib berjamaah di rumah. Kau berdiri di belakangku. Rasanya aku tak sabar segera menjadi imammu. Kusalami tangan kedua orang tuaku. Ah, beberapa saat lagi kau akan menyalami tanganku. Syahdu sekali. Isya mengumangkan azan, kau berjalan bersana ibu dan adikku menuju musala dekat rumah. Aku yakin orang bertanya-tanya tentangmu. Ibuku bercerita sesudah kau pulang dik.

Selepas Isya dan tarawih, kita berkumpul di ruang tamu untuk mengaji. Kau duduk tepat di hadapanku. Mengambil Quran, mengaji. Sayang kau begitu lirih melantunkan kalam Ilahi. Semoga itu bukan karena sungkan. Kau tahu, sesekali aku memandangmu. Satu hal yang aku harapkan sejak dulu, mendengar bacaan Quran istriku, membenarkan bacaannya kalau memang ada yang salah. Sesekali membaca Quran bersama dalam satu mushaf. Indah sekali dik.

Selepas itu, kami antarkan dirimu kembali ke rumah. Canda dan tawa menghiasi selama perjalanan. Ah, indah sekali. Aku berharap hal semacam ini bisa terus berlangsung sampai kapan pun. Akhirnya, sampai pula kita di kediamanmu. Kau turun dari mobil, kami bercengkerama sebentar, mengunjungi rumah Mbak Lely yang dekat dari rumahmu, dan kami pun pulang. Semoga kebersamaan kedua keluarga bisa terus berjalan harmonis sampai kapan pun. Terim kasih untuk hari ini. Senantiasa terkenang dalam hati sampai nanti.

Bojonegoro, 13 Juni 2018

Komentar