Am I Ready?


Pertanyaan di atas layaknya berulang kali kutanyakan pada diriku sendiri. Sebuah self-talk terkadang terjadi begitu saja. Sekian hari dari hari ini, kehidupanku akan berubah. Diri akan menapaki satu tangga kehidupan, satu fase kehidupan yang akan dijalani hingga tutup usia, insyaAllah.

Berbagai persiapan tentu saja dilakukan. Ibarat orang akan berlayar selama sekian tahun, tentu saja bekal yang harus dibawa harus cukup. Sehari-hari kubaca buku-buku seputar pernikahan, kutonton berulang-ulang video tentang pranikah dan bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga seperti contoh dari Baginda Rasulullah, juga beberapa kali berdiskusi dengan kawan yang sudah terlebih dahulu menjalani pernikahan. Semua itu dilakukan semata-mata agar tercapai rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah.

Tujuan rumah tangga puncak adalah sakinah. Hadirnya ketentraman dalam rumah tangga. Menurut Ustaz Adi Hidayat, diperlukan dua hal untuk mencapai sakinah, yaitu mawaddah dan rahmah. Mawaddah condong kepada hal-hal fisik, seperti sandang, pangan, papan, kendaraan, rumah, dan seterusnya. Mawaddah ini tentu saja tidak cukup. Sebab bila ia hilang atau berkurang, kebanyakan manusia akan berkurang pula cintanya. Maka dari itu, di sanalah letak penting rahmah. Rahmah adalah bentuk cinta kasih yang datang dari hati, datang dan tumbuh dari sikap, akhlak, kepribadian, bagaimana menjalankan ajaran agama dengan baik. Rahmah condong kepada hal-hal tak kasat mata namun mampu dirasa dan kedudukannya lebih tinggi daripada mawaddah. Perpaduan mawaddah dan rahmah yang pas akan menghasilkan sakinah tercipta dalam mahligai rumah tangga, insyaAllah. Tentu saja tujuan dari sakinah itu sendiri agar suami istri bisa bersama tak hanya di dunia, tapi sampai surga-Nya.

Bekal ilmu agama tentu saja harus diperhatikan. Bahkan ia harus mendapat porsi tertinggi. Sebab, dengan pemahaman agama yang benar, maka praktik agama yang dijalankan insyaAllah sesuai tuntunan syariat. Entah itu praktik ibadah hablun minallah, beribadah kepada Allah, maupun hablun minan naas, muamalah dengan sesama manusia.

Diri menyadari bahwa masih banyak yang harus dipersiapkan. Masih banyak yang harus dipelajari. Tetapi, the show must go on. Sebab konsekuensi dari komitmen pernikahan memang diarahkan pada bagaimana suami istri dapat saling mendukung dalam menjalankan ketaatan jauh lebih sempurna dari sebelumnya. Diarahkan pada bagaimana ia mampu bekerja lebih maksimal, bagaimana ia mampu lebih menghidupkan kerja-kerja peradaban, bagaimana ia mampu membawa dampak positif bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Maka, pertanyaan Am I Ready di atas tentu saja harus dijawab dengan tegas, I Am Ready. Siap untuk menjalani apa pun yang akan terjadi, siap menghadapi bahagia dan duka yang tentu saja silih berganti, siap menempa diri jauh lebih baik dari sebelumnya sampai akhir nanti.

Semoga diri ini mampu membimbing keluarga kecil kelak mendapat rida-Nya, menggapai surga-Nya, dan menjauhkan dari api neraka. Semoga pernikahan semakin mendewasakan pemikiran dan sikap. Semoga pernikahan mampu memilin cinta yang terus menumbuhkan semangat berjuang dalam menjalani kehidupan ini.

Pada Asar yang syahdu 
Di bawah naungan langit biru
Kutuliskan selarik harap dan pengingat untuk diriku, juga dirimu
Berharap senantiasa menjadi penyemangat di kala duka mengharu biru.


Pada pernikahan yang akan dijalani
Terpatri kuat keyakinan bersama doa kepada Ilahi
Agar Ia senantiasa memberkahi langkah ini
Memberi kekuatan untuk terus konsisten dan tak mudah berbangga diri.


Malang, 29 Agustus 2018 16:00

Komentar