Ibu Adalah Madrasah Pertama dan Ayah Adalah Kepala Madrasahnya


Bersyukur kepada Allah bahwa pagi ini saya bersama jamaah lainnya masih diberikan nikmatnya menimba ilmu. Terutama ilmu syari. Pagi ini saya berkesempatan hadir di kajian Ustad Salim A. Fillah. Figur ulama yang banyak menghiasi layar youtube. Beruntung kali ini bisa bertatap muka langsung dengan beliau. Tema kajian hari ini adalah الأم مدرسة الأولى yang artinya Ibu Adalah Madrasah Pertama. Tetapi, di awal kajian, beliau menambahkan والأب مديرها dan Ayah Adalah Kepala Madrasahnya. Apa alasan beliau menambahkan redaksi atau judul kajian menjadi sepanjang itu? Sebab menurut beliau, dalam Alquran banyak sekali dialog yang terjadi antara ayah dan anak. Contoh antara Nuh AS dan Kanan, antara Luqman dan anaknya, antara Ibrahim dan Ismail dan seterusnya. 


Tujuan sebuah keluarga hendaknya adalah berkumpul di surga-Nya, tidak hanya berkumpul dan bahagia di dunia. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat At-Tur ayat 21 yang artinya, 

"Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

Maka, terkadang kita melihat bahwa 
Yang terpenting bukanlah pergi ke mana, tetapi pergi bersama siapa
Yang terpenting bukan makan apa, tetapi makan bersama siapa.
Maka, kebersamaan itu lebih mahal dari apa pun. 

Untuk memperoleh tujuan mulia dalam keluarga, menuju surga-Nya, maka diperlukan pendidikan untuk menjadi ahli surga. Perlu adanya pengarahan sejak penyiapan sekolah agar tujuannya tetap surga. 

Perlu diketahui bahwa kewajiban calon ayah kepada anaknya ada 4, yaitu: 
1. Mencari calon ibu yang salehah
2. Menamai anak dengan nama yang baik
3. Memberi makan anak dari rezeki yang halal
4. Mengajarkan kepada anak adab-adab Islam

Sesungguhnya wanita itu terlihat cantik ketika kita tidak punya masalah dengan dia. Sebab masalah yang hadir akan menutup kecantikan wanita yang dipandang. 

Semakin lama kita mengenal makhluk, maka kita semakin tahu aibnya.
Semakin lama kita mengenal khalik (pencipta), maka kita semakin tahu kesempurnaannya.

Tidak ada jodoh yang sempurna, yang ada adalah jodoh yang tepat. 

فاظفر بذات الدين تربت يدك
Utamakanlah yang agamanya baik, maka kau akan beruntung. Begitulah bunyi nukilan hadis yang populer seputar memilih calon istri. Lantas, apa ukuran baiknya agama seseorang? 
1. Memiliki paduan antara ilmu dan amal. Ditambah dengan konsistensi dalam menambah ilmu dan mengamalkannya.
2. Salat senantiasa ditunaikan, lebih baik bila bisa tepat waktu. 
3. Hubungan dengan ibunya. 
4. Hubungan dengan teman sebaya 
5. Hubungan dengan anak kecil

Sekolah yang baik tentu harus dikomandani oleh kepala sekolah yang baik, yang teruji kualitasnya. Maka, ketika masih ada yang kurang baik, maka kita mengikhtiarkan yang terbaik sambil bermohon hidayah dari Allah. Sebab Allah adalah pemilik hak hidayah atas hamba. Lantas, mengapa kecantikan jangan dijadikan acuan dalam memilih calon istri? Sebab kecantikan adalah sumber fitnah yang paling besar. Lalu, mengapa kekayaan jangan dijadikan patokan? Sebab, dengan begitu kita telah menganggap diri kita miskin, sehingga terkesan ingin dikasihani. 

Tugas kedua suami atau ayah adalah memberi nama yang baik bagi anaknya. Tidak hanya nama, tetapi juga panggilan yang baik, perkataan yang baik. Sebab nama dan panggilan ini akan berpengaruh pada anak. Maka, biasakan untuk memanggil istri, teman, dan seterusnya dengan namanya yang baik. Bukan dengan nama julukan misal si kriwul, di jenggotan, dan seterusnya. Sebab, hal ini akan tertanam kuat dalam benak anak. 

Tugas awal ibu adalah menggantikan Allah. Ingat bahwa Allah mengajarkan Adam seluruh nama benda. Maka, tugas ibu adalah mengajarkan nama-nama dan kosakata kepada anaknya. Maka, cerewet terkadang perlu. Tentu saja cerewet dalam berkata baik. 

Contohnya seperti ini: Nak, sebelum pakai baju, baca bismillah dulu. Terus doa Alhamdulillahil ladzii kasaanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wala quwwatin. Kita harus bersyukur sama Allah. Allah itu Maka Kuasa. Coba perhatikan, Allah menyuruh para petani kapas untuk menanam kapas. Lantas kapas itu dipintal menjadi benang. Benang itu dijahit menjadi baju. Baju dijual oleh penjual di pasar, terus ibu beli. Terima kasih ya Allah sudah memberi Adik pakaian yang baik. Adik bisa menutup aurat. Alhamdulillah. 

Nah, itu sedikit contoh. Mungkin bisa diperpanjang lagi. Supaya apa? Supaya anak terbiasa menghubungkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan keberadaan Allah. 

Apa tugas ayah? Ayah mengajarkan falsafah kehidupan. Ayah mengajarkan prinsip-prinsip dalam hidup. 

Kewajiban ketiga seorang ayah adalah memberi makan dari rezeki yang halal. Maka, rezeki yang Allah turunkan, kita patut bertanya dua hal, dari mana ia seharusnya didapatkan dan untuk apa ia dibelanjakan. Tafakur terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh. Kerja yang dilakukan harus disertai dengan ketekunan, ihsan (berusaha memberikan lebih daripada yang diminta), ikhlas (karena Allah). 

Kita tentu hafal tentang ungkapan "Ibu pergi ke pasar membeli tempe". Coba kita ubah menjadi "Ibu pergi ke pasar menjual tempe". Terasa berbeda kan? Tentu saja berbeda. Ungkapan kedua lebih mengarah kepada melayani dan berperan sebagai produsen, sedangkan ungkapan pertama sebaliknya. 

Tugas keempat dari seorang ayah adalah mendidik anak. Dalam mendidik anak diperlukan kurikulum yang tepat. Berikut adalah kurikulum dalam mendidik anak: 
1. Tauhid. Mari hubungkan segala hal yang terjadi, segala hal yang berada di sekitar anak dengan Allah. Hal ini bisa dilakukan melalui nasihat, bercerita, atau lagu. 
2. Muroqobatullah (pengawasan Allah). Allah selalu mengawasi segala gerak-gerik manusia di mana pun dan kapan pun. Kurikulum kedua ini dapat dicapai bila kurikulum pertama, tauhid sudah kuat terlebih dahulu. 
3. Salat. Ajarkan kepada anak untuk terbiasa salat tepat waktu. Ajak dan kenalkan anak dengan masjid sejak dini agar kelak ketika dewasa terbiasa salat berjamaah di masjid, terutama untuk pria. 
4. Akhlak. Ajarkan pada anak etika universal. Ajarkan tentang pentingnya akhlak dalam Islam. Pahamkan kepada anak bahwa etika begitu penting dalam hidup. Pahamkan bahwa Rasul diutus kepada manusia untuk menyempurnakan akhlak. 
5. Adab/Urf/Kesopanan. Takaran kesopanan setiap daerah berbeda. Ajarkanlah kesopanan tersebut kepada anak supaya anak terbiasa berlaku sopan santun dan tidak seenaknya sendiri ketika nanti telah dewasa. 

Pertanyaan dari hadirin: 
1. Bagaimana cara meyakinkan orang tua supaya kami segera menikah meski belum punya penghasilan tetap?
2. Bagaimana berkompromi bagi pasangan yang beda harakah (gerakan keagamaan)?
3. Apa ukuran pria yang baik untuk dinikahi? 

Jawaban 
1. Caranya adalah, pertama, yakinkan orang btua bahwa kamu akan tetap bekerja untuk calon istri meski pekerjaannya tidak tetap. Kedua, sampaikan bahwa dengan tetap bekerja, seorang laki-laki menunjukkan tanggung jawabnya dalam memberi nafkah kepada keluarganya. Ketiga, penuhi dahulu ukuran kedewasaan. Memenuhi ukuran kedewasaan maksudnya adalah coba gantikan peran sang ayah calon istri. Bisakah kamu melakukannya? Bisa jadi orang tua tidak mengizinkanmu menikah karena kamu sampai saat ini masih sering mengeluh soal tugas kuliah. Kamu masih belum mampu mandiri dalam banyak hal.

2. Cara berkompromi adalah dengan segera mencari titik-titik persamaan. Kompromi untuk saling mendukung sebab keluarga adalah gambaran peradaban yang coba dibangun bersama, bukan salah satu saja (istri atau suami saja). 

3. Ikhwan dinikahi karena dua hal, agama dan akhlak. Ukurannya sama dengan yang sudah disampaikan di depan (bagaimana paduan ilmu dan amalnya serta istiqomahnya, bagaimana salatnya, bagaimana hubungan dengan ibunya, bagaimana hubungan dengan teman sebayanya, bagaimana hubungan dengan anak kecil. 

Bila kamu cinta karena Allah, maka ikutilah prosedur Allah. Taaruf, Khitbah, Akad. 

Ada beberapa tingkat kedudukan istri dan anak dalam keluarga: 
1. Penyejuk mata. Maka, kita dianjurkan berdoa "robbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a'yun" Ya Allah karuniakanlah kepada kami istri dan anak yang menyejukkan pandangan. 
2. Nikmat. Oleh karena keduanya nikmat, maka sikap yang hendaknya dihadirkan adalah senantiasa bersyukur. Bila tidak bersyukur, takutlah pada azab-Nya yang pedih. 
3. Amanah. Oleh karena keduanya amanah, maka hendaknya kita menjaganya dengan baik. Hendaknya kita tidak menyia-nyiakannya. 
4. Fitnah. Ketika keduanya menjadi fitnah, maka hendaknya kita bersabar dan berikhtiar agar mereka menjadi nikmat. 
5. Musuh. Ketika keduanya berubah menjadi musuh, maka sikap kita adalah mengajak mereka untuk taat kepada Allah. 

من عرف نفسه لا يضره ما قال له (سفيان الثوري) 
Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka apa yang dikatakan orang lain kepadanya tidak akan membahayakannya. (Sufyan Ats-Tsauri). 

Kita dianjurkan untuk memaafkan, bukan meminta maaf. Sebab memaafkan itu lebih mulia dan pahalanya begitu besar di sisi Allah. 
من غفر وأصلح فأجره على الله 
Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka balasannya adalah di sisi Allah. 

Ibadah kita akan terganggu bila kita terus memikirkan kejelekan orang lain. Hal ini disebabkan kita belum mampu memaafkan kesalahan orang lain kepada kita. 

Mendendam kepada orang lain itu layaknya menelan racun ke dalam diri kita sendiri, tetapi berharap orang lain yang mati. 

Masjid Ahmad Yani, Jl, Kahuripan Malang 
Ahad, 5 Agustus 2018 08.00 - 11.00


Komentar