Jangan Sampai Kecintaan Terhadap Istri Mengalahkan Bakti Kepada Orang Tua!


Pagi itu, 16 Agustus 2018, saya membantu orang tua mencuci baju. Seperti biasa, kami asyik mencuci sambil mengobrol berbagai masalah kehidupan. Karena hari-hari ini adalah hari-hari menuju janji suci, tentu saja obrolan yang bergulir tak jauh dari pernikahan. Ketika saya membawa kaos muktamar IMM yang baru saja dibeli beberapa waktu lalu untuk dicuci, ibu tiba-tiba bilang kepada saya,
"Hmm, gini ya sekarang. Ibunya gak dibelikan kaos. Kemarin beli kaos berapa?"
"Beli dua buk, yang satu untuk Ul**."
"Jadi sekarang yang dibelikan calonnya. Apik yo."
"Bukan gitu buk, kemarin pas gak bawa uang lebih juga."
"Mas, kasih tahu anakmu. Nanti kalau sudah menikah jangan sampai lupa sama ibunya ini." Kata ibu ke ayah. 
"Ya buk, insyaAllah saya gak bakal lupa sama ibuk sampai kapan pun, pun ketika nanti sudah menikah. Tolong diingatkan kalau saya lupa."

Percakapan singkat itu rupanya mengetuk nurani saya. Ya Allah, apa benar saya sudah sejauh ini melupakan ibu saya sendiri. Apakah karena saya kenal calon istri saya yang baru beberapa bulan ini, lantas melupakan jasa ibu sepanjang kehidupan saya? Astaghfirullah. Memang, dalam Alquran disebutkan bahwa manusia dihiasi dengan kecintaan kepada istri, anak, harta benda, rumah, perniagaan yang ditakuti kerugiannya. Itu semua bisa jadi melalaikan hamba dari taat kepada Allah. Mereka juga bisa menjadi fitnah bila tidak mampu mengendalikannya dengan baik. Maka dari itu, kita diminta untuk bisa mengendalikan diri terhadap hal-hal duniawi dan mendahulukan urusan akhirat. 

Dalam Islam, kewajiban suami yang utama tetap taat kepada ibunya. Adapun seorang istri taat kepada suami. Terkadang, seorang anak laki-laki ketika telah menikah, banyak terbuai dengan keinginan untuk menyenangkan istri sehingga sering kali melupakan kewajibannya berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Hal ini memang tidak terasa di awal, tetapi bila pemahaman beragama seorang suami cukup baik, insyaAllah ia tahu mana yang harus diprioritaskan. Tentu saja dengan catatan istri juga diberi tahu tentang apa yang kita berikan kepada orang tua kita. Jujur saja, tak perlu berbohong. Misalnya kita memberi uang orang tua kita 100.000, kita bilang kepada istri kalau kita memberi uang 50.000. Memang, istri tidak tahu, tetapi kalau suatu saat rahasia itu terbongkar, bukan tidak mungkin bahtera rumah tangga akan sedikit goyah. 

Maka dari itu, pesan kepada diri saya pribadi, juga kepada setiap laki-laki yang telah dan hendak menikah, jangan pernah lupa untuk terus berbakti kepada ayah ibumu. Bila keduanya masih hidup, bahagiakanlah dengan memberi hadiah misalnya atau mengajaknya jalan-jalan ke tempat yang indah sesekali. Bagi yang orang tuanya telah meninggal dunia, sempatkan untuk mengunjungi kuburnya, doakan kebaikan untuknya agar ditempatkan di surga-Nya. Semoga kita menjadi anak saleh yang berbakti dan mampu membahagiakan orang tua kita. 

Malang, 24 Agustus 2018 22:25

Komentar