Hari H Pernikahan


Pukul tiga pagi aku sudah terbangun dengan sempurna. Tiada lagi rasa kantuk menyerang seperti biasanya. Bagaimana bisa aku tidur lagi tatkala diri akan melangsungkan satu tahapan kehidupan, menjejak langkah pasti, menautkan dua hati dalam ikatan janji suci pernikahan.

Aku salat Subuh, membaca kalam Ilahi, mempersiapkan segala hal terkait akad. Tak lupa mempersiapkan apa saja yang akan dibawa selama kurang lebih seminggu ke depan. Aku akan tinggal di rumah mertuaku untuk sementara waktu.

Jarum jam terus beradu dengan aktivitas yang tentu saja menguras waktu. Aku mandi, memakai kemeja putih dan celana kain hitam, membawa dasi, jas, juga satu tas besar berisi baju dan segala pernak-perniknya.

Aku terlebih dahulu sarapan. Sembari menunggu ibu yang mencoba memulihkan kondisinya yang sempat drop kemarin. Rencana awal kami akan berangkat pukul 6 pagi. Nyatanya menjelang pukul 8 pagi aku bersama ayah ibu baru berangkat. Rombongan lainnya menyusul.

Sampai di Bakung undangan masih sepi. Aku langsung menuju kamar pengantin untuk dirias sedikit. Aku menunggu sesi foto di rumah bagian depan.

Pukul 9 lewat sedikit aku melangkah menuju meja akad. Berhadapan langsung dengan calon mertua yang akan menikahkan anaknya sendiri, anak satu-satunya. Ada perasaan gugup, deg-degan tentu saja. Hal itu lumrah. Ini momen sakral. Tetapi aku mencoba menenangkan diri. Berjalan setenang mungkin, berekspresi sebiasa mungkin agar tak terlihat tegang. Aku tak tahu detak jantungku berdegup secepat apa kala itu.

Pembawa acara memulai dengan basmalah. Dilanjutkan dengan khutbah nikah yang ternyata disampaikan dalam bahasa Arab. Aku mencoba mencernanya meski hanya mendapat beberapa poin saja. Acara berlanjut pada pembacaan poin-poin penting terkait pernikahan dan yang tertulis di buku nikah. Selanjutnya aku mendengarkan beberapa kalimat dari wali calon istriku. Aku genggam tangannya erat. Aku perhatikan matanya berkaca-kaca dalam beberapa waktu. Aku paham bahwa menikahkan anak perempuan satu-satunya bukanlah hal yang mudah. Lafaz ijab terucapkan meski tersendat di lafaz "gram" dan lafaz "dzahab" tidak diucapkan. Langsung saja kuucapkan lafaz "Qabiltu nikaahaa wa tazwijahaa bil mahril madzkur". Setelah lafaz tersebut terucap, ada bahagia yang mengalir, ada haru yang berdesir.

Selepas itu, dirimu hadir di depan mata. Kau begitu indah dengan gaun putih dan jarit cokelat. Semacam ratu sehari. Kau duduk di sampingku. Menandatangani berkas yang dibutuhkan. Lantas kuserahkan mahar kepadamu. Kau salami tanganku dan kau letakkan tanganku di dahimu. Ada rasa bahagia dan haru yang terus saja mengalir. Tanganku sedikit gemetar memegangmu untuk pertama kalinya. Memang pernikahan membuat segala yang haram menjadi halal adalah sesuatu yang indah. Terima kasih ya Allah. Syukurku rasanya tiada pernah cukup mengungkapkan nikmat yang hadir sampai hari ini.

Kemudian, kita berdua melangkah naik ke pelaminan. Berfoto dengan berbagai gaya dua anak manusia yang mulai hari ini berjanji untuk bersama mengarungi bahtera suci pernikahan. Setelah puas berfoto, kita berdua kembali ke dalam rumah untuk ganti baju pengantin. Jas hitam kugantungkan di belakang pintu kamar depan. Aku kenakan jas cokelat emas beserta celananya. Tak lupa rompi dengan dasi kupu-kupu menghiasi pakaianku kali ini. Dikalungkan pula bunga melati yang masih begitu segar dan wangi. Sembari menunggu istriku berganti pakaian, aku duduk di kursi dan tak henti memandangi diri. Resepsi akan dilaksanakan beberapa saat lagi.

Setelah selesai berganti pakaian, aku dan istri, diikuti oleh kedua orang tua menuju karpet merah. Bersiap untuk naik ke pelaminan. Sekian menit kemudian, kami berdua telah sampai di atas pelaminan. Berdiri bersisian menghadap hadirin yang sedari tadi mengamati dan tak menyia-nyiakan momen kali ini dengan mengabadikannya dengan mengambil gambar. Acara selama dua jam lebih ini berlangsung dengan lancar. Alhamdulillah.

Semoga sedari hari ini, niat-niat kami berdua senantiasa beriringan dengan rida-Nya. Menggapai rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah. Bersamamu di dunia sampai akhirat kelak.

Bojonegoro, 21 September 2018 07:13

Komentar