Jeda, Temu, Restu (Mengenang Satu Bulan Pernikahan)



Sempat diri berjeda beberapa waktu dari urusan mencintai lawan jenis. Bukan karena tak mau, tetapi lebih karena ingin fokus pada hal-hal lain yang dirasa lebih penting. Sekitar setahun lalu, sempat terlontar ingin kepada orang tua untuk menggenapkan setengah agama. Keinginan itu hadir beserta studi yang akan segera paripurna. Betapa bahagia bila keduanya berjalan dengan sempurna. 

Kukira, tak ada yang spesial dari pernyataanku kala itu. Tak dinyana, semesta menggerakkan kuasa-Nya segera. Tak berselang lama, banyak hal yang terjadi begitu saja. Sampai akhirnya, aku dipertemukan denganmu pada suatu senja. Perkenalan singkat lewat dunia maya berlanjut pada alam nyata. Tiada pura-pura sebab hati dituntun dengan keridaan orang tua. Dua keluarga akhirnya berjumpa, bersepakat menikahkan anak mereka, membentuk mahligai rumah tangga bernuansa surga. 

Seminggu selepas hari raya, aku mengkhitbahmu. Malu-malu tentu saja menghiasi wajahku. Tetapi bahagia dalam hati tiada seorang pun ragu. Tiga bulan setelahnya menjadi saksi perjalanan menuju janji suci kala itu. Berbagai hal terjadi antara aku dan kamu. Berkompromi perihal ini dan itu agar kelak tak ada lagi yang berseteru.

Tepat satu bulan yang lalu, di depan kilatan kamera yang beradu, di depan puluhan pasang mata penuh haru, menyaksikan janji suci terucap dari mulutku. Seraya menggenggam erat tangan ayahmu, kuberjanji akan selalu membahagianmu. Mengajakmu meniti jalan kehidupan penuh liku dengan tuntunan Alquran dan sunnah nabi hingga akhir waktu. 

Terima kasih telah mengizinkanku menjadi imammu. Terima kasih telah bersedia menjadi penyempurna setengah agamaku. Mari terus membenahi diri untuk menjadi manusia yang layak ditiru. Mari bersama menyatukan visi dan mimpi, menyelaraskan langkah dan laku. Sebab bersamamu kuyakin surga selalu kulihat di kedua pelupuk matamu.

16092018 - 16102018 

Komentar