Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Selasa, 10 Desember 2019

Perjalanan Meraih Mimpi

Apakah mimpi setiap orang dapat dicapai? Mengapa di antara mereka banyak yang mengubur impiannya? Mengapa hanya sedikit yang benar-benar merealisasikan mimpinya? Buku Paulo Coelho yang satu ini mencoba menjawab kegundahan tersebut.

Aktor utama dalan novel yang tidak terlalu tebal ini adalah seorang bocah bernama Santiago. Ia adalah seorang gembala di Andalusia. Setiap jengkalnya ia tahu. Ia akan meneruskan pengembaraannya untuk mencari harta di Mesir.

Dalam perjalanan yang sesungguhnya penuh pesan spiritual, ia terkadang bingung sendiri, mengapa orang berbicara dengan bahasa yang ia sama sekali tak mengerti sebelum akhirnya ia paham bahwa ada satu bahasa yang dipahami semua orang dan makhluk di dunia ini.

Setting tempat mengambil Andalusia dan gurun pasir, selain itu juga ada pertemuannya dengan pedagang kristal, bekerja padanya sekian lama, orang Inggris dalam berkelana, seorang wanita yang akan senantiasa ia rindu, juga dengan Alkemis yang menuntunnya mencapai mimpi yang ia idam-idamkan.

Pesan-pesan spiritual terselip sepanjang perjalanan meraih mimpi. Dalam novel ini diajarkan bahwa hendaknya kita mengikuti kata hati yang sesungguhnya ia pun terus bergejolak sepanjang waktu. Pergumulan diri dengan jiwa buana - istilah untuk hati yang jernih dan paripurna - membuat segala halnya menjadi mungkin.

Pembelajaran penting dari novel ini bahwa segala sesuatu itu mungkin bila kita meyakini sepenuh hati disertai dengan usaha-usaha nyata. Bisa jadi, mimpi-mimpi itu ada di sekitar kita, tetapi kita diminta untuk berkelana jauh, menjelajahi berbagai rupa suasana dan tempat sebelum akhirnya sampai pada mimpi tersebut. Inilah sesungguhnya ujian bagi seorang pemimpi sejati. Ia tak patah semangat sebelum impiannya benar-benar terwujud.

Buku ini cocok dibaca bagi mereka yang ingin memahami lebih mendalam sisi spiritual dari agama samawi yang mungkin bagi sebagian orang terdengar mustahil. Mari menyelami lautan pembelajaran spiritual yang kaya dalam novel ini.

#ulasanbuku #09122019 #reviewbuku

Senin, 09 Desember 2019

Talkshow Parenting Ketemubuku Malang #4

Pagi ini, Ahad, 8 Desember 2019, saya berkesempatan hadir dalam acara Talkshow Parenting bersama Kak Abyz dari Pondok Parenting dan pendongeng Kak Tyaz Gendhong. Acara ini adalah rangkaian event literasi di @ketemubukumalang4 @pameranbuku. Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari talkshow kali ini.

Bahwa apa pun kondisi orang tua ketika mendongeng, anak selalu senang. Maka, lakukan semuanya dari hati. Ada pertanyaan bagaimana cara membangun karakter anak tanpa mengurangi kesibukan bekerja? Saat ini, kita dimudahkan oleh teknologi. Optimalkan manfaat kemajuan teknologi. Selalulah membersamai anak lewat telepon, video call yang isinya respon positif. 

Lalu, kalau telepon jangan formal-formal. Ketika berkomunikasi via telepon atau video call sebauknya lebih kepada sharing. Komunikasi harus hangat, jangan jaim jaiman. Misalnya cerita tentang keseruan hari ini, lalu nanti baru menuju ke inti pembicaraan. Selingi dengan humor agar lebih mencairkan komunikasi.

Saat ini rumah lebih difungsikan sekadar house bukan home. Rumah hanya sebagai tempat makan dan istirahat. Interaksi sehat masih kurang antara suami dan istri, juga dengan anak. Coba fungsikan rumah sebagai home (suasana), jangan hanya house (bangunan). Dengan begitu, maka keluarga akan semakin betah di rumah. Setiap orang tidak hanya fokus pada gawai masing-masing, tetapi fokus pada membangun keluarga yang benar-benar mau hadir sepenuhnya dan sesadar-sadarnya saat itu.

Apa saja manfaat mendongeng? 
1. Menambah imajinasi anak
2. Orang tua bisa lebih banyak menulis cerita
3. Punya memori yang bagus
4. Bertanya banyak hal ke orang tua.
Hendaknya ambil kisah keseharian. Jangan langsung ke cerita yang terlalu imajinatif. Jadikan kisah sebagai solusi masalah yang dihadapi anak.

Dalam mengasuh, jangan pakai persepsi kita kepada anak. Misalnya yang terbaik, yang boleh, dan seterusnya semua menurut pandangan kita. Teknik kepengasuhan berbeda di tiap fase. Hendaknya kita belajar teknik komunikasi efektif di tiap fase agar semua pesan sampai dengan tepat kepada anak.

Sekadar cerita, Kak Abyz punya anak pertama yang suka main game. Awalnya hal ini dibawa oleh ayahnya yang sepertinya kalau suntuk bekerja di kantor, memanfaatkan waktu untuk bermain game. Kebiasaan main game ini dibawa ke rumah. Maka, ada kontradiksi antara bunda yang melarang main game dengan ayah yang menggunakan media main game sebagai cara mengasuh. Akhirnya ketemu solusi dengan main game bareng. Setiap kemenangan ayah dan bunda akan bersorak. 

Selain main game bareng, bunda juga meminta sang anak untuk mengajarinya bahasa Inggris dari game. Akhirnya sang anak sering membuka kamus, mengajari ibunya bahasa Inggris dan sesekali menggambar semacam komik. Akhirnya, bunda tahu potensi sang anak pada menggambar. Sang anak menjadi lebih sibuk menggambar daripada main game. Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan UN, sang anak malah fokus menyelesaikan komik pertamanya.

Maka, marilah mengoreksi cara kita mengasuh. Ketahui kesalahan-kesalahan parenting di masa lalu supaya tidak terulang kembali ketika nanti kita punya anak. Belajar dari kesalahan juga merupakan satu cara yang efektif. Terlebih belajar dari pengalaman.

Pesan berikutnya, jangan membanding-bandingkan anak. Setiap anak itu unik. Bayangkan di antara sekian juta sel sperma, hanya satu yang dapat menhuahi sel telur. Maka sesungguhnya setiap anak itu baik. Cara mengatasi membanding-bandingkan anak adalah bayangkan seolah-olah kita yang dibandingkan oleh anak. Tentu kita tidak mau dibandingkan dengan orang tua lainnya dalam mengasuh. Pun dengan anak.

Berikut adalah kebutuhan dasar emosi anak, yaitu 
1. Merasa disayangi
2. Merasa aman
3. Merasa dipercaya
Ketiganya harus dipenuhi. Kalau ketiganya tidak ada, maka akan ada luka batin yang belum sembuh. Efek buruknya, suatu saat perasaan tidak disayangi, tidak aman, dan tidak dipercaya akan terulang kembali ketika punya anak.

Maka, jangan mengulang kesalahan parenting masa lalu. Putus mata rantai kesalahan parenting mulai saat ini. Syaratnya harus ada kemauan dari diri sendiri. Kita harus merasa ada yang harus diperbaiki. Kita harus belajar lagi. Lebih banyak luangkan waktu untuk belajar parenting lalu dipraktikkan dalam kehidupan. Belajarlah sepanjang waktu karena masalah anak akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Anak yang patuh belum tentu baik baik saja. Dia tampak menurut, tetapi jangan-jangan di dalam hatinya ada yang disembunyikan. Sebaliknya, anak yang ekspresif belum tentu bermasalah. Karena dia begitu terbuka. Mari mengubah mindset kita terlebih dulu tentang anak penurut dan anak ekspresif. 

Cara mengasuh untuk anak di periode pertama (sekitar usia TK) adalah perlakukan seperti raja. Dibujuk, dirayu. Berikan apresiasi bukan perintah. Misal, alhamdulillah, anak bunda sudah pintar. Sudah boleh meletakkan sepatu di rak. Selalulah berpikir positif tentang segala hal yang dilakukan oleh anak.

Pesan terakhir dari Kak Tyaz Gendhong yang benar-benar membuat saya berpikir berkali-kali adalah bahwa setiap pasangan siap untuk berdua, tapi belum tentu siap untuk menjadi orang tua atau menantu. So, belajarlah. Selesaikan secara psikologi sebelum menikah. 

Semoga kita dimampukan menjadi orang tua saleh agar kelak memperoleh anak yang saleh dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

#talkshowparenting #KakTyazGendhong #KakAbyzPondokParenting #ketemubukumalang4 #pameranbuku #orangtua #anak #kepengasuhan #08122019 #latepost 

Selasa, 26 November 2019

Refleksi Hari Guru

akatnya orang yang punya ilmu adalah mengajar. Begitulah kira-kira petuah yang sering disampaikan para guru. Bagi saya hal ini menarik. Tentu petuah semacam ini mengandung hikmah yang besar.

Coba kita bayangkan, apa yang terjadi manakala orang yang berilmu begitu pelit berbagi ilmu? Tentu akan sedikit sekali orang yang paham akan kehidupan ini. Orang semakin susah menyelesaikan berbagai problematika hidup. Maka, beruntunglah kita dikaruniai guru-guru yang ikhlas membagikan ilmunya.

Mengapa membagikan ilmu? Sebab ilmu bila dibagi tidak semakin berkurang, malah bertambah. Berbeda dengan barang. Lima buah dibagikan kepada lima orang tentu tak tersisa sama sekali. Ilmu semakin dibagi akan semakin luas pengaruhnya. Pemiliknya pun akan semakin paham tentang ilmu yang disampaikannya kepada murid. Bahkan dalam kitab Taklim Al Mutaallim dijelaskan hendaknya kita sebagai murid mau menyimak penjelasan guru meskipun disampaikan sebanyak seribu kali. MasyaAllah.

Berbicara guru zaman sekarang memang berbeda dengan guru zaman dahulu. Dahulu guru masih belum disibukkan dengan tugas sertifikasi, seminar dengan berbagai tema, pengisian data rapot, data siswa, dan lain-lain. Saat ini semua hal yang disebutkan harus dilakukan demi kesejahteraan guru yang lebih baik. Maka, di sinilah peran pemerintah dalam hal menyejahterakan guru begitu dibutuhkan.

Saya menyoroti guru-guru yang mau tinggal jauh dari keluarganya demi mengajar di daerah tertinggal, bahkan tanpa dibayar. Mereka mengandalkan hasil panen kebun samping rumah untuk makan sehari-hari. Mereka rela melewati medan yang tidak mudah dan harus berjalan begitu jauh untuk sampai di sekolah. Belum lagi masalah fasilitas yang jauh dari kata layak untuk bisa digunakan untuk belajar.

Maka, tepat sekali pidato yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi bahwa belenggu yang selama ini dirasakan oleh guru dan siswa harusnya perlahan dilepaskan. Peraturan yang begitu ribet dan ruwet harus semakin disederhanakan. Pelajaran luar kelas, kepemimpinan, kemampuan berkarya harus mendapat tempat utama bagi murid untuk mendapatkannya. Ceriakan hari-hari mereka dengan permainan atau hal lain yang berbeda dari biasanya.

Ajakan untuk melakukan suatu perubahan kecil di hari guru merupakan langkah awal. Perubahan adalah keniscayaan. Perubahan harus dimulai bersama, meskipun dari hal yang kecil. Dari sana perlahan perubahan yang lebih besar diharapkan akan menyusul di kemudian hari.

Di era yang semakin dimanjakan dengan teknologi, peran guru begitu penting. Tugas mulia dan berat ditanggung olehnya. Semua harus berawal dan berakhir pada guru. Begitu pesan Bapak Menteri Pendidikan.

Lalu perihal kesejahteraan para guru. Saya beruntung pernah tinggal sebulan di Thailand. Negara tetangga yang satu ini begitu menjunjung tinggi pendidikan dan kesehatan. Anggarannya besar. Apalagi bicara masalah gaji guru dan dokter yang menempati prioritas tertinggi di sana. Saya kira Indonesia perlu mencontoh hal semacam ini.

Bila guru semakin sejahtera, ia akan fokus kepada mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi cita-cita besar dan termaktub di dalam teks undang-undang dasar negara republik Indonesia tahun 1945. Ia tak lagi disibukkan masalah mencari penghasilan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal mendidik para murid.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mengajarkan banyak hal dalam kehidupan. Entah guru yang ditemui di dalam kelas maupun guru di luar kelas yang tak terhingga jumlahnya. Salam takzim dari murid yang sedang belajar menjadi sosok berguna bagi diri, agama, dan bangsanya sebagai seorang pendidik.

Selamat Hari Guru Nasional.

© Muhammad Amin
#26112019 #HGN #Indonesia #guru #ilmu #murid #renungan #selfreminder #refleksi 

Sabtu, 16 November 2019

Pergerakan dan Cinta

Judul : Canai
Penulis : Panji Sukma
Penerbit : UNSApress
Peresensi : Muhammad Amin
Tahun terbit : Mei 2019
Jumlah halaman : x + 173

Bagaimana bila cinta dua anak manusia bermula dari sebuah pergerakan mahasiswa? Itulah yang diceritakan oleh buku ini. Penulis mengajak pembaca terjun ke dalam arena demonstrasi 1980 an. Masa di mana militer begitu berjaya. Rakyat tertindas mengobarkan semangat mahasiswa.

Penggambaran demonstrasi, keterlibatan militer, orang dalam untuk membebaskan tahanan, kehadiran adik kandung Bara dari lain ibu membuat cerita semakin apik menuju akhir.

Cerita dituliskan dengan mengambil seting waktu tertentu, 1984, 1988, dan 2014. Cerita yang meloncat-loncat dari tahun yang satu ke tahun lainnya membutuhkan kejelian pembaca dalam merangkai cerita menjadi satu kisah yang runtut.

Kisah cinta memang terkesan dominan di sini, tetapi pergulatan pemikiran seorang aktivis juga tampak di novel ini. Seperti ketika demonstrasi, mengerahkan masa, menghadapi aparat, dipenjara. Meskipun sisi aktivis dijelaskan kurang detail.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini menginspirasi pembacanya untuk kritis terhadap pemerintah. Di samping itu, adanya bumbu kisah romantisme cinta selalu menghadirkan wajah lain dari sisi aktivis itu sendiri. Aktivis dan cinta berkelindan sedemikian rupa.

Jadi, bagi kamu yang mengaku aktivis dan barang kali sedang dilanda virus merah jambu, cobalah membaca buku ini. Siapa tahu ada solusi jitu menghadapi permasalahan keduanya yang memang rumit bin jlimet.
#reviewbukuAmin
#resensi
#16112019 #day320 of #365

Rabu, 06 November 2019

Masa(lah)

Masa adalah waktu. Pada setiap masa akan selalu ada masalah. Keduanya berkelindan, berteman.

Masa dahulu bergelut dengan masalah bagaimana mencari makan dan bertahan hidup.

Beberapa masa setelahnya punya masalah tentang penguasaan lahan.

Masa-masa berikutnya punya masalah tentang pertemanan, keluarga, juga percintaan.

Maknailah setiap masalah di setiap masa. Sebab tiap masa punya masalahnya sendiri. Bisa jadi masalah itu menjadi pembelajaran untuk masa selanjutnya. Agar tak terulang kembali masalah yang sama pada masa-masa selanjutnya.

Masalah di setiap masa melahirkan orang-orang hebat yang mampu menyelesaikannya dengan baik. Jadi, mau jadi orang hebat atau orang yang biasa saja? Sebab jejakmu di tiap masa dilihat dari bagaimana caramu menyelesaikan masalah di dalamnya.

#bermainkata #menguraimakna #menyibakrealita #06112019
Malang, 6 November 2019 22.36

Selasa, 29 Oktober 2019

Setelah Kemarau

Sore ini begitu membahagiakan. Suasana sejuk kembali menyelimuti kota Malang. Sudah beberapa kurun Malang terasa kering kerontang tak tersentuh air langit. Ketika kucium bau tanah yang bercampur air hujan menguar, kutengok melalui jendela. Aku keluar kamar dan memastika bahwa hujan memang benar-benar sudah turun.

Senja ini langit mendung berselimut awan hitam. Memang masih belum menghitam sepenuhnya, tetapi setidaknya titik-titik airnya sudah rela jatuh menyapa bumi. Sedari pagi, cuaca tidak sepanas biasanya dan alhamdulillah senja ini menyambut malam dengan gerimis syahdu.

Bila hujan turun, kukira petani pasti bahagia. Tanaman yang kering kini basah dan akan kembali menghijau. Bagi mereka yang berkutat di jalanan, hujan mungkin menghentikan langkah mereka sejenak. Menepi, meneguk secangkir kopi, ditemani sajak-sajak indah tentang perindu rinai atau tentang jatuh hati.

Bila hujan turun, murid sekolah berebut keluar kelas, menuju lapangan, bermain bola sambil bermesraan dengan hujan. Bagi seorang perindu, hujan akan menghasilkan larik-larik puisi dan sajak untuk sang kekasih. Berharap hujan terus menemani, membasuh kerinduan dalam hati, dan mungkin turut mengobati luka di masa lalu.

Begitulah anugerahnya kepada seluruh makhluk. Semua bergembira dengan kehadirannya. Meskipun tentu saja ada yang terus menghardik dan memakinya. Hardiknya pada hujan tak akan menghentikan rintik yang turun. Daripada menghardiknya tiada henti, lebih baik syukuri dan renungi makna di balik turunnya hujan. Sebab dalam segala hal selalu terkandung makna terdalam yang hanya mampu ditangkap oleh mereka yang mendapat gelar ulul albab.

#catatanhujan #catatansore #29102019 

Minggu, 13 Oktober 2019

Mencari Ketenangan di Tengah Keriuhan

Kita hidup pada zaman di mana kecepatan menguasai segala hal. Mulai dari informasi, pekerjaan, perjalanan, semua serba cepat. Rasa-rasanya cukup sulit menemukan setitik kedamaian di tengah hiruk-pikuk zaman ini. Mungkinkah ini pertanda akhir zaman? Mungkinkah ini tanda bahwa dunia semakin tua dan kelebihan beban menahan hasil olah pikir manusia yang hanya menguntungkan mereka belaka?

Jawabannya serba mungkin. Mungkin iya, mungkin tidak. Iya bagi mereka yang diperbudak dunia. Iya bagi mereka yang terus-nenerus mengejar kecanggihan teknologi yang tiada habisnya. Tetapi tidak bagi mereka yang mampu mengerem keinginan duniawi yang sesaat demi kenikmatan abadi di akhirat. Tidak bagi mereka yang tahu esensi hidup, dari mana ia hidup, untuk apa ia hidup, dan ke mana dia setelah hidup di dunia ini.

Bila dunia semakin cepat adalah keniscayaan, maka mencari keheningan, ketenangan adalah kebutuhan yang bisa jadi menjadi kebutuhan pokok hari-hari ini. Baru saja saya membaca satu posting instagram bahwa dengan membaca Alquran secara tartil dapat melancarkan kehidupan. Selain itu, dapat pula melambatkan kecepatan berbicara, mengatur pernapasan, mengatur harmoni dalam hidup. Betapa indahnya hal semacam itu.

Keamanan dan kebahagiaan adalah dua komponen batin yang terus menerus kita cari setiap hari. Ada yang bilang kalau kebahagiaan didapat melalui piknik. Bisa jadi benar, tetapi coba cek lagi, bukankah ketenangan batin didapat melalui ibadah, membaca kitab suci, mendengar kajian keislaman dan semacamnya? Bukan sebab pelesir ke tempat yang jauh dari keriuhan.

Maka, ingatlah firman Allah, ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ketenangan hati akan berdampak pada ketenangan jasmani. Ketenangan tersebut terus menyebar ke dalam segala sendi kehidupan. Maka kenyamanan akan tercipta sedemikian rupa.

Ahad, 13 Oktober 2019 20:18

Jumat, 11 Oktober 2019

Disrupsi (1)

Beberapa waktu, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku Disruption karya Rhenald Kasali. Ulasannya begitu detail disertai teori dan contoh mutakhir tentang disrupsi. Lalu, apa yang dimaksud dengan disrupsi?

Dari hasil bacaan saya, disrupsi terbagi ke dalam dua kata, yaitu distraktif dan inovasi kreatif. Intinya adalah kehadiran model bisnis saat ini mengguncang kenyamanan para pemain lama (inkamben). Pemain lama terlanjur senang dengan ekonomi kepemilikan yang jauh berbeda dengan konsep ekonomi berbagi para milenial.

Inkamben menganggap bahwa untuk memulai usaha dibutuhkan dana besar, SDM dalam satu lingkup, sarana prasarana yang dimiliki secara lengkap. Menurut milenial hal ini membuat banyak aset menganggur bila tidak dipakai. Bagi milenial, mereka hanya perlu menghubungkan para pemilik modal, barang, dan konsumen. Dengan begitu, semua aset terpakai dan tak ada yang terbengkalai.

Maka, pemenangnya bisa dibaca. Inkamben yang mau berbenah dan paham perubahanlah yang jauh lebih mampu mengimbangi hadirnya disruptor ala milenial ini. Misalnya Telkom yang awalnya bergerak di telepon kabel, diberi kewenangan pemerintah untuk mengembangkan bisnis sesuai zaman, yaitu jaringan nirkabel telkomsel. Terbukti, telkom selamat dari gencaran disruptor.

Berbeda halnya dengan perusahaan transportasi yang terdisrupsi aplikasi seperti uber, grab, atau gojek. Mereka meminta kesamaan dalam hal aturan kepada pemerintah. Hal ini tentu tidak mudah. Peran pemerintah diperlukan di sini. Pemerintah harus paham tentang konsep disrupsi agar aturan yang dibuat sejalan dengan apa yang diinginkan baik oleh inkamben maupun pendatang baru.

#ulasanbuku #Disruption #RhenaldKasali #11102019

Kamis, 03 Oktober 2019

Perhatikan Tertib Administrasi

Beberapa hari lalu, saya dibuat kaget ketika ketua OSIMA Putri berkata bahwa realisasi anggaran dana LPJ OSIMA minus. Lha, kok bisa? Ternyata kekhawatiran saya terjadi. Saya merasa ada yang tidak beres dengan proses realisasi dana yang saya berikan kepada pengguna anggaran.

Beberapa saat lalu, bagian konsumsi meminta uang sekian ratus ribu kepada saya untuk membeli konsumsi. Dia meminta uang lagi beberapa hari kemudian. Saya kira jumlahnya cukup besar dan saya khawatir bagian putri kekurangan. Kemudian bendahara panitia berkata bahwa ia butuh uang sekian ratus ribu dan saya beri tahu bahwa sisa uang di saya tidak sampai segitu. Berarti mestinya ada sisa uang yang sedang dipegang oleh panitia lainnya.

Saya pun meminta bendahara untuk meminta nota dan sisa uang dari bendahara. Sisa uang konsumsi LPJ OSIMA Putri saya berikan kepada ketua OSIMA Putri untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Beruntung LPJ OSIMA Putri hanya dua hari, berbeda dengan putra yang sampai tiga hari.

Setelah dikorescek ternyata ada sisa dan saya kira cukup untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Setelah LPJ usai, ketua OSIMA Putri menyatakan bahwa uang yang dipegang tidak cukup untuk kebutuhan selama LPJ. Saya katakan bahwa coba bendahara kroscek lagi, saya akan berikan sisa uang yang ada di saya dan bila masih kurang berarti harus ditanggung oleh santri yang menggunakan. Hal ini supaya mereka belajar tanggung jawab dalam memanfaatkan uang dengan sebaik-baiknya.

Maka, di sinilah pentingnya siapa pun dalam organisasi harus paham alur pengajuan, penggunaan, sampai pelaporan dana. Jangan main serobot birokrasi yang sulit. Saya sendiri tidak menyulitkan, tetapi hanya mengingatkan bahwa memang dalam organisasi ada aturan dalam hal keuangan yang harus diikuti dan jangan dilanggar. Semoga kejadian semacam ini tidak terjadi pada masa mendatang. © Muhammad Amin
Kamis, 3 Oktober 2019 20:08

Sabtu, 28 September 2019

Berburu Ambisi Publik, Lupa Melihat Realita

Bila saya perhatikan, sekolah saat ini sedikit menyimpang dari tujuan sesungguhnya. Tujuan-tujuan membelajarkan sepertinya sudah mulai luntur. Hal ini seiring kebijakan yang semakin menekan peserta didik untuk mengikuti ambisi beberapa pihak yang memiliki posisi penting.
.
Nilai jual sekolah diperlombakan seolah-olah sekolah tertentu unggul di bidang satu dan sekolah lain unggul di bidang lain. Sesungguhnya persaingan dalam kebaikan sah dan baik-baik saja selama hal semacam itu berjalan alami dan tidak menjadi alat legitimasi sebagian orang yang ingin mengambil keuntungan.
.
Hegemoni inilah yang menjadi masalah yang harus dipecahkan. Beberapa sekolah mengejar prestasi tiada henti, berjuang siang malam demi penilaian publik dan menggaet siswa baru. Sekolah seolah tak otentik lagi. Standar-standar yang dibuat terkesan tak menggembirakan bagi semua civitas.
.
Saya jadi ingat bagaimana sekolah di Finlandia memiliki aturan-aturan yang begitu bagus agar tercipta keseimbangan dan harmoni antar civitas, pemegang kuasa sekolah, juga siapa pun yang berada di posisi-posisi penting di pemerintahan. Ada kesatuan visi, misi untuk meningkatkan prestasi tanpa mengesampingkan aspirasi dan sisi manusiawi.
.
Bila sekolah terus ditekan untuk mengalahkan sekolah lain, mana semangat sinergi? Saat ini kunci kesuksesan ada pada kerja sama yang baik dan saling mendukung satu sama lain. Peringkat memang perlu untuk memacu diri, tetapi jangan lupakan bahwa tujuan-tujuan pragmatis itu tak bertahan lama. Tujuan-tujuan filosofis harus dirumuskan sedemikian rupa agar masa depan pendidikan bangsa ini jauh melebihi zaman.
.
Ambisi yang terlalu tinggi terkadang tidak memperhatikan realita yang jauh sekali dari impian itu. Sebagai siswa misalnya, saya kira akan stres bila setiap hari dicekoki pemahaman bahwa kamu harus mencapai nilai sekian, kalau tidak sekolah ini akan jatuh nama baiknya.
.
Pemahaman semacam ini akan menekan siswa dan tidak membuat nyaman pembelajaran yang dilakukan. Proses edukasi sekadar transaksi nilai angka, tanpa nilai dalam diri. Edukasi sekadar transaksi jual beli ilmu dengan nilai dan ijazah yang nanti digunakan bekerja dan menghasilkan uang. Betapa rendahnya tujuan-tujuan pendidikan yang sesungguhnya mulia itu.
.
Lalu, apa sesungguhnya yang diinginkan? Siswa misalnya hanya ingin isi hati mereka dipahami dan didengar oleh guru, terlebih kepala sekolah. Jangan menyangka kalau siswa adalah objek yang tidak tahu dan harus selalu dijejali ilmu. Kepekaan sosial guru menjadi penting di sini.
.
Keinginan waka pun sederhana. Setiap usulnya didengarkan, kepala sekolah mudah ditemui dan tidak sok sibuk seolah tak ada waktu untuk pegawainya sendiri. Lantas, sesungguhnya kepala sekolah bekerja untuk siapa? Dirinya? Kementerian terkait? Atau yang lain-lain?
.
Kekecewaan yang hadir hari ini adalah bentuk akumulasi dari kekecewaan sepanjang sekian tahun yang mereka pendam. Mereka yang di atas merasa seolah semuanya baik-baik saja dan tak ada masalah. Nyatanya, ada fenomena gunung es di balik tenangnya lautan.
.
Semoga kesadaran segala pihak segera pulih agar keadaan tidak menjadi lebih buruk dari hari ini.
.
Dariku yang beberapa waktu lalu menjadi siswa dan saat ini telah menjadi guru.
.
© Muhammad Amin 28 September 2019 18:30

Jumat, 20 September 2019

Proses Itu Menyakitkan

Keras pada proses, bersabar pada hasil. Kira-kira begitulah kata-kata mutiara yang sering ditampilkan para pebisnis muda ketika membangun bisnisnya. Saya sendiri sangat sepakat tentang hal itu.

Beberapa hari lalu, saya menonton film The New King of Comedy. Seorang wanita berwajah tak begitu rupawan mengalami jatuh bangun dalam kariernya sebagai aktor. Ia awalnya berperan sebagai pemeran figuran, pengganti. Ketika pemeran utama mendapat perlakuan istimewa, ia diperlakukan tak ubahnya seperti budak atau pembantu.

Ayahnya, pada awal karier sang wanita menolak mentah-mentah rencana anaknya sebagai aktor. Lebih baik anak wanitanya menikah dengan lelaki kaya atau bekerja di bidang lainnya. Tetapi, sang anak tetap saja kukuh dengan keputusannya meskipun ia harus diusir dari rumah.

Ia menumpang di salah satu kawan laki-laki yang ia anggap akan menjadi pasangan hidupnya. Sayang sekali, wanita ini hanya dipermainkan dan diperas uangnya. Sang lelaki tak pernah benar-banr tulus membantu membangun karier sang aktor.

Beberapa saat, sang wanita beralih pekerjaan sebagai tukang antar makanan daring. Ia sempat bertemu beberapa kawan dan sutradara yang ia kira bisa membantu karier aktornya yang beberapa saat ini hilang. Nyatanya, cacian dan makianlah yang ia terima. Ia dilemahkan semangatnya.

Sampai suatu waktu ia bertemu dengan aktor favoritnya dan ia mendapat tugas menggoda sang aktor favorit. Sang aktor favorit karena sudah lama tak berkarier, ia sering lupa hapalan, semaunya sendiri, dan susah diatur. Sang aktor favorit sampai terkencing-kencing karena ulah sang aktor wanita tersebut.

Tetapi, sebab itulah sang aktor favorit menjadi perbincangan publik. Diundang ke stasiun televisi, diajak berfoto, dan sebagainya. Ia berterima kasih kepada sang aktor wanita yang telah membuatnya kembali berjaya. Ia menawarkan casting film bersama bintang aktor papan atas. Ia tak menyia-nyiakannya dan upayanya membuahkan hasil. Setahun kemudian, ia berhasil memperoleh penghargaan sebagai aktor terbaik.

Maka, ketika proses sedang menempamu, terima saja. Itu adalah ujian untuk bisa naik kelas. Jangan ditolak, apalagi lari darinya. Ingat bahwa sekian jengkal lagi, kesuksesan akan teraih.

© Muhammad Amin
Jumat, 20 September 2019 08:41

Senin, 16 September 2019

Kita, Satu, Cinta

Bertemu melalui kata
Bersatu pun melalui kata
Tak ada ruang bagi jeda
Yang ada hanya ruang untuk kita

Kala dua insan saling terikat
Janji suci nan keramat
Terlantun doa lamat-lamat
Semoga tercurah berkah dan rahmat

Sejak itu kita berjanji
Menyemai cinta tiada henti
Dalam kehidupan fana ini
Hingga bersatu di surga nanti

Happy 1st Anniversary @ulfaasyida
16 Sep 2018 - 16 Sep 2019

Selasa, 10 September 2019

Perbanyak Mendengarkan

Sering disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut supaya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Dalam hidup ini, kita sudah sepatutnya lebih sering mendengar daripada berbicara.

Maka, siang ini, seperti beberapa waktu lalu, saya kembali berbincang, lebih banyak mendengar salah seorang pegawai Mahad. Beliau sudah bekerja di Mahad sejak saya menjadi santri 10 tahun lalu, bahkan mungkin sebelum itu. Maka, tak ada salahnya mendengarkan banyak petuah yang tak akan didapat dari orang lain.

Beliau menyoroti persoalan air yang hampir setiap hari menjadi perbincangan hangat di kalangan pengasuh dan santri. Akar masalah sesungguhnya ada pada stok air di bawah tanah dan penggunaannya. Stok air di musim kemarau seperti saat ini tentu sedikit lebih sulit daripada ketika musim hujan. Jadi, harap maklum bila terkadang air tak selalu melimpah ruah sepanjang hari.

Masalah penggunaan menjadi tanggung jawab bersama. Penggunaan air harus hemat, baik oleh santri atau siapa pun yang menggunakan air. Seringnya air dibiarkan mengalir ketika tidak dipakai. Maka, sebanyak apa pun stok air, tentu akan cepat habis.

Selanjutnya perihal kebersihan. Kebersihan menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pekerjaan my darling, office boy madrasah atau pegawai mahad yang bertugas membersihkan. Setiap dua minggu, santri dikumpulkan di lapangan untuk mendapat pengarahan terkait kebersihan dan kesantrian. Sampah dimasukkan ke tong sampah dan kresek sampah setiap minggu. Betapa senangnya pegawai bila dibantu membersihkan lingkungan Mahad. Kebersihan pangkal sehat kan?

Selanjutnya perihal mengingatkan santri. Santri terkadang teledor dan melanggar aturan. Hal ini adalah hal yang lumrah. Tetapi, pengasuh punya peran mengingatkan dengan baik. Jangan ketika melanggar langsung dimarahi. Mereka akan sangat jengkel. Nasihati dengan pelan-pelan, seraya doakan, insyaAllah lambat laun mereka akan paham dengan sendirinya.

Problem selanjutnya adalah keteladanan. Santri tak hanya mau disuruh. Mereka mau ditemani. Sebab pada usia mereka, pengasuh berperan sebagai teman. Dengan memberi keteladanan, ditemani, tentu santri akan semakin gembira dan semangat dalam menjalankan aturan yang ada.

Beliau juga sering mendengar komentar negatif dari pegawai madrasah bahwa banyak santri yang melanggar. Beliau hanya mengingatkan bahwa kalau mereka salah ya wajar, diingatkan saja dengan proporsional.

Kritik dan saran dari beliau menurut ssya pribadi adalah dalam rangka kebaikan Mahad ke depan. Tak ada keinginan yang lain. Saya simpulkan bahwa solusi dari masalah yang ada sesungguhnya ada pada hal-hal yang sepele. Seperti penghematan air, saling mengingatkan, mengerjakan bersama-sama, saling membantu satu pihak dengan yang lain.

Selain hal di atas, kesadaran dan kepekaan membaca dan meneliti masalah. Jangan hanya melihat masalah dari sisi lahiriah, gali lebih mendalam apa sebab yanh menjadi akar masalahnya. Bila akar masalah itu selesai dan terus dikontrol, saya yakin segala masalah akan lebih mudah diatasi.

Begitu banyak hikmah dari mendengarkan orang-orang yang terkesan tak terlihat, padahal nyatanya kerja mereka begitu nyata. Jangan remehkan mereka, hargai meski hanya dengan mendengarkan keluh kesah mereka, hal semacam itu sudah sangat membuat mereka senang.

وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.
© Muhammad Amin
10092019 21:13 #koreksi #masalah #solusi #menasihati

Senin, 09 September 2019

Kesehatan Mental

Malam ini, (08/09) telah dilaksanakan seminar kesehatan mental oleh Bagian Kesehatan OSIMA Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang. Acara bertema kesehatan mental ini diisi oleh Dr. Iswinarti, M.Si, Psikolog, dosen fakultas Psikologi UMM.

Acara dimulai pukul 8. Diawali dengan bacaan ayat suci Alquran, menyanyikan mars Mahad Al Qalam, disusul dengan sambutan ketua panitia, Ghaly Ahmadtra dan ketua Mahad, Ustaz H. Ahmad Taufiq.

Ustaz Taufiq berpesan tentang pentingnya memperbanyak zikir yang mampu menenangkan jiwa. Hal ini termaktub jelas dalam Alquran. Alaa bizikrillahi tathmainnul quluub. Disebutkan pula hadis bahwa bila segumpal daging yang bernama hati baik, maka baiklah jasad secara keseluruhan, dan sebaliknya.

Dr. Iswinarti memulai pemaparan seminar dengan bertanya apa saja problem generasi milenial. Lantas tentang kecanduan gadget, game, dan sebagainya. Dijelaskan pula tentang apa itu revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang hangat diperbincangkan warganet.

Di akhir, beliau memaparkan bahwa kesehatan mental tak kalah pentingnya dari kesehatan fisik. Kesehatan mental mampu mempengaruhi kesehatan fisik, pun sebaliknya. Beliau juga menerangkan bagaimana menanggulangi stres yang banyak dialami orang masa kini.

Pada sesi tanya jawab, pertanyaan yang muncul aeputar apakah bila seseorang yang awalnya pernah berada pada satu kondisi depresi sebab lingkungan, kini ia telah pindah ke lingkungan yang lebih kondusif, apakah ia akan kembali terpapar depresi tatkala kembali ke lingkungan lamanya. Semua itu bisa saja terjadi, tergantung seberapa kuat pribadi kita mengendalikan diri, emosi dalam merespon lingkungan tersebut.

Pertanyaan kedua adalah apakah tertawa menjadi obat atau efek stres? Tertawa adalah bagian dari terapi stres. Stres hanya bisa direduksi melalui perasaan yang diluapkan. Kalau masalah berat, tidak cukup dengan tertawa, perlu konseling dan konsultasi dengan orang yang lebih dewasa.

Pertanyaan ketiga tentang teman yang menjadi saingan dalam berprestasi. Maka, bersainglah dalam hal positif. Yang penting tidak menyiksa diri kita dan tidak menimbulkan hal-hal negatif. Saling memotivasi sesama teman itu penting.

Pertanyaan keempat adalah bisakah dua watak bertentangan berkumpul dalam satu orang? Yang diturunkan itu temperamen. Karakter bisa dibangun karena ia dipengaruhi banyak oleh lingkungan (jujur, kreatif, tanggung jawab).

Pertanyaan kelima tentang apa itu mental baja? Mental baja adalah tahan banting, ia tidak mudah terpengaruh dan punya motivasi kuat. Apa hubungan antara kesehatan fisik dan mental? Orang yang punya banyak masalah, lama-lama stres, menyerang yang lemah di fisiknya, misal sakit lambung dll. Maka, disembuhkan fisik dan mentalnya. Ada yang kena sakit fisik lalu dipikirkan berlebihan. Biasanya penyakit akan bertambah parah.

Pertanyaan keenam tentang cara mempertahankan motivasi dan bangkit dari kegagalan adalah salah satunya melakukan sesuatu bersama-sama, dengan mentor, motivator, atau teman. Misal cara belajar yang termotivasi adalah dengan musik, dan lain-lain. Kegagalan bukan akhir segalanya, maka munculkan pikiran positif bahwa kegagalan adalah guru terbaik.

Pesan untuk kelas XII dalam hal menentukan kampus dan cita-cita masa depan, bahwa selalu sediakan alternatif lain dan jadilah fleksibel. Pilih yang tepat, sesuai minat dan bisa berhasil di sana. Dipertimbangkan keinginan, kemampuan, orang tua, biaya, dan sebagainya.

Melalui acara ini, semoga mental santriwan dan santriwati Mahad Al Qalam semakin sehat dari waktu ke waktu.

(Amin, red)
#seminarkesehatan #OSIMA #SEMKES2019 #08092019 #latepost #Mahad #santrisehatmental #MahadAlQalam #MAN2KotaMalang

Sabtu, 07 September 2019

Terus Merajut Cinta

Tepat dua hari lalu, Kamis, 6 Muharram 1441 H, saya telah menjalani pernikahan selama setahun, versi kalender hijriyah. Telah banyak lika-liku kehidupan yang dialami dari hari ke hari. Kini tiba saatnya mengevaluasi dan merencanakan kembali apa yang akan diperbuat untuk hari esok.

Menjalani biduk rumah tangga adalah sebuah upaya untuk terus merajut cinta sepanjang waktu. Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah terlama sebab dijalani seseorang sepanjang hidup hingga ajal menjemput. Maka, tentu saja bekal dalam menjalani pernikahan harus cukup, kalau bisa lebih. Pernikahan tentu tak hanya dihiasi hal-hal yang berjalan sesuai rencana awal, terkadang ada onak dan duri di tengah jalan yang harus disikapi secara positif dan dewasa agar cinta terus tumbuh subur di dalam jiwa.

Mari bersama menilik kembali apa-apa yang belum tercapai dalam berumah tangga, terutama target-target ukhrowi yang seharusnya menjadi fokus utama dibandingkan hal lain. Jangan sampai target ukhrowi terkalahkan oleh target keduniaan yang semu dan fana. Seimbanglah dalam mengusahakan keduanya. Berikan porsi yang cukup untuk keduanya agar tak berat sebelah.

Lantas, rencanakan ulang apa yang akan dilaksanakan selama setahun mendatang. Bila perlu direncanakan juga untuk tahun-tahun berikutnya. Tulislah dalam buku agenda rumah tangga. Pastikan setiap anggota keluarga saling mengingatkan dalam mrnggapai cita-cita tersebut.

Bila terjadi masalah, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Ajak duduk bersama dengan kepala dingin, cari waktu yang tepat untuk berdiskusi. Bersamalah tak hanya dalam menikmati anugerah, tetapi juga dalam bersabar dalam cobaan yang menimpa. Saya yakin, dengan kebersamaan tersebut, kuncup-kuncup cinta akan semakin mekar dan berbunga dengan begitu indahnya.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk terus menjaga pernikahan ini sampai akhir hayat. Mari terus menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

© Muhammad Amin
7 September 2019 07:33

#selfreminder #pernikahan #UALoveJourney #6Muharram1440H #6Muharram1441H #annual #nasihat #islam #latepost

Rabu, 04 September 2019

Saat Gagal Menyapamu (Lagi)

Siapa sih yang gak pernah merasakan kegagalan dalam hidup? Saya rasa seluruh manusia pernah mengalaminya. Entah kegagalan tersebut dalam hal akademik, cinta, cita-cita, dan kegagalan-kegagalan lainnya. Lalu, apa ada yang salah dengan kegagalan?

Kegagalan dalam hidup mengajarkan banyak makna bagi diri kita. Ia menjadi pembelajaran berharga bahwa dalam menggapai satu hal selalu ada yang tidak mencapainya. Alasannya beragam. Mulai kurang persiapan, macet di tengah jalan, terlalu sombong ketika sudah mendekati garis akhir, atau mungkin karena salah tujuan. Semuanya sah untuk kita jadikan alasan dari kegagalan yang menimpa diri.

Kalau kata motivator, bagi kamu yang gagal, ayo move on, jangan terperangkap jebakan kegagalan yang membuatmu tak mau bangkit dan berusaha lagi. Pada sisi lain, ada yang berpendapat bahwa berpikir terlalu positif terhadap suatu kegagalan adalah sebuah kesalahan. Terima saja kegagalan itu sebagai bagian dari perjuangan.

Menurut saya pribadi, kedua teori itu ada benarnya. Jadi, kita ambil saja jalan tengah. Ketika kegagalan terjadi, mari menerimanya sebagai bagian dari proses panjang kehidupan. Tak ada sukses tiba-tiba. Semua membutuhkan jatuh bangun berkali-kali. Para peneliti dan penemu saja sekian kali mencoba dan pada akhirnya baru sampai pada impian. Masak, kita yang baru diberi jatah kegagalan satu kali sudah menyerah pada keadaan.

Di sisi lain, mari mengevaluasi diri. Barang kali ada yang lewat dari pengawasan kita terkait persiapan dan pelaksanaan apa yang sudah direncanakan. Bisa juga kita masih kurang sabar proses, tetapi hanya ingin segera melihat hasil instan. Kata motivator sih, keraslah pada proses dan bersabarlah pada hasil.

Dari penjelasan di atas, maka tak perlulah merasa galau dan cemas yang berlebihan dalam menyikapi sebuah kegagalan. Selagi masih ada kesempatan, selalu ada jalan menuju impian yang kita inginkan. Lanjutkan segala usaha, sertai usaha dengan doa, lantas bertawakalah kepada Yang Maha Kuasa. Semoga segala cita benar-benar menjadi realita, tak hanya harapan semu belaka.

© Muhammad Amin
3 September 2019

Kuncinya Adalah Kebersamaan

Beberapa waktu terakhir, saya mengikuti akun dari salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Kebetulan, beberapa minggu sebelumnya, saya berkesempatan mengikuti tes seleksi dosen di kampus tersebut. Saya memperhatikan beberapa posting yang dimiliki akun kampus tersebut. Saya menemukan satu pola yang sangat bagus untuk pengembangan layanan kampus.

Dari akun utama yang saya ikuti, kemudian saya tahu bahwa setiap fakultas, unit layanan, sampai markas komando satpam memiliki akun instagram. Bagi saya, hal ini unik dan baru menemukan untuk pertama kalinya. Biasanya, kampus hanya punya satu akun utama dan akun fakultas.

Yang lebih membuat saya takjub adalah ketika kampus mengadakan lomba 17 Agustus, tampak kekompakan dan kebersamaan tercipta. Salah satu lomba, yaitu #DietSampahPlastik begitu mengena bagi saya pribadi. Lomba video pendek tersebut melibatkan seluruh civitas akademika kampus. Mulai dari fakultas, unit layanan, sampai berbagai fasilitas pendukung juga turut berpartisipasi.

Terlepas dari diwajibkan atau tidaknya lomba tersebut untuk diikuti oleh civitas akademika, saya ingin fokus pada betapa bahagianya civitas akademika melihat apa yang telah mereka kerjakan sejauh ini. Mahasiswa menjadi sangat terbantu melalui akun-akun tersebut. Informasi penting seputar kampus tentu lebih cepat sampai kepada seluruh warga kampus.

Selain itu, layanan seperti whatsapp pengaduan di tiap fakultas, badan administrasi akademik, badan administrasi umum, dan lain sebagainya semakin meneguhkan sikap kampus yang mengutamakan pelayanan prima. Saya kira hal inilah yang patut dicontoh oleh kampus lainnya.

Ide yang segar dari para pimpinan universitas misalnya, harus cepat disosialisasikan, baik secara luring maupun daring kepada warga kampus. Jangan sampai ada salah paham yang nantinya menimbulkan masalah pelik di belakang hari. Dari tulisan ini, saya mengajak kepada seluruh warga kampus lain untuk meningkatkan layanan, mutu, serta hal-hal substantif lainnya agar semua kampus di negeri ini semakin layak menjadi tempat menimba ilmu bagi seluruh warga negeri.

© Muhammad Amin
4 September 2019 12:46

Minggu, 25 Agustus 2019

Renungan Kematian

Pagi ini, selepas Subuh, saya mendapat kabar duka. Ayah dari salah seorang santri Alexandria meninggal dunia. Saya dan beberapa santri memutuskan untuk bertakziyah.

Kami berangkat pukul setengah 8 ke lokasi. Sampai di lokasi, kami mendoakan almarhum, turut menyolatkan beliau dan sempat berbincang dengan rekan almarhum yang bekerja di Jakarta.

Rekan almarhum ini memiliki anak yang lahir di tahun 1976 dan ikut bekerja di perusahaan milik almarhum. Kalau masalah harta, almarhum adalah pemilik beberapa perusahaan, salah satunya di Surabaya. Ketika istri rekan almarhum meninggal dunia, almarhum menyempatkan hadir di Jakarta. Maka, sangat wajar bila hari ini, rekan almarhum datang untuk memberi kesaksian dan penghormatan terkahir sebelum disemayamkan di pemakanan Mergan.

Beliau mengungkapkan bahwa almarhum adalah orang baik. Banyak membantu sekitarnya. Rekan almarhum berpesan bahwa kita ini menjalani 4 fase, yaitu fase mati, hidup, mati lalu hidup lagi. Menyadur satu ayat di Al-Baqarah, beliau menguatkan pernyataannya. Almarhum meninggal di usia sekitar 50 tahun, sedangkan rekan almarhum telah berumur 60 atau 70 an tahun. Maka, kematian bisa menghampiri siapa pun, tak peduli usia muda atau sudah tua, sakit atau sehat.

Sudah selayaknya, sebagai muslim sejati, kita mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal saleh. Menjalankan perintah-Nya dengan maksimal, menjauhi larangan-Nya sejauh-jauhnya. Semoga kita semua nanti ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.

© Muhammad Amin
#kematian #renungan #reminder #selfreminder #25082019 #bekal #jalankanperintah #jauhilarangan

Pernikahan di Desa dan di Kota

Malam ini, saya bersama asatiz dan ustazat menghadiri resepsi pernikahan Ustazah Syarifah dan Mas Khoiron. Saya sendiri bersyukur sebab penantian sekian waktu Ustazah Syarifah berakhir indah. Saya yakin beliau begitu bahagia telah menemukan setengah jiwanya yang telah ditunggu kedatangannya beberapa kurun.

Saya ingin menyoroti masalah perbedaan resepsi pernikahan antara di kota dan desa. Bagi masyarakat kota, resepsi biasanya dilakukan di gedung, desain panggung dan catering konsumsi melalui jasa penyewaan. Makan dengan setting prasmanan. Tak jarang mereka menggunakan jasa EO (Event Organizer) agar segala yang menjadi resepsi impian terlaksana maksimal. Belum lagi berbicara masalah make up, gaun, jas, dan segala pernak-perniknya.

Berbeda lagi dengan resepsi di desa. Biasanya, resepsi dilaksanakan di depan rumah. Maka, jangan heran bila mengetahui setiap rumah di desa selalu memiliki halaman yang cukup luas. Salah satu fungsinya sebagai tempat resepsi pernikahan. Untuk konsumsi, mereka melibatkan orang satu desa, atau minimal satu RT dan keluarga dekat. Tradisi 'cinjo' atau 'nyunjung' masih sangat kental terutama di Jawa Timur. Cinjo adalah tradisi mengirimi setiap rumah kerabat, terutama yang dekat nasi, sayur-biasanya kare atau opor-, dan jajanan.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, resepsi di desa mengikuti tradisi di kota. Terutama bagi mereka yang punya uang lebih. Makan prasmanan, panggung mewah, make up berharga mahal, orkestra, dan lain-lain menjadi hal yang semakin biasa ditemui.

Satu hal yang kadang membuat saya jengkel adalah ketika tidak disediakan kursi untuk makan dan minum. Hadirin diminta makan dan minum berdiri. Standing party istilahnya. Padahal, secara Islam, makan dan minum dianjurkan dengan duduk. Hal semacam itu jauh lebih sehat secara medis. Sudah banyak penelitian menyatakan hal semacam itu.

Terlepas dari perbedaan tradisi pernikahan di desa dan kota, yang jauh lebih penting adalah doa-doa yang mengudara, memberikan selamat dan restu kepada kedua mempelai semoga langgeng dunia akhirat, membina keluarga sakinah, mawadda, wa rahmah.

© Muhammad Amin
#pernikahan #wedding #EO #Islam #23082019

Haramain Itu Keramat

Malam ini, saya bersama beberapa asatiz dan ustazat mengunjungi kediaman Pak Jasa yang baru saja selesai menjalankan ibadah haji di tanah suci. Kami sampai lokasi ketika iqamah Isya akan dikumandangkan, selepas Isya, kami baru bertamu ke rumah beliau.

Kami disambut dengan sangat ramah oleh tuan rumah. Beliau mendoakan kami agar bisa mengambil sendiri air zam zam dari sumbernya. Sembari minum air zam zam dan menikmati hidangan yang ada, Pak Jasa mulai bercerita panjang lebar tentang pengalaman selama haji.

Salah satu yang saya ingat adalah bahwa ketika kita melontarkan kata-kata, meski itu guyonan, maka balasannya adalah beberapa saat setelah ucapan itu terlontarkan. Misalnya, berkata, 'ah, saya tidak akan kena batuk, yang kena batuk ya unta'. Beberapa saat kemudian, yang berkata semacam itu langsung batuk selama sekian waktu.

Pernah pula saya mendapat cerita dari ibu. Ketika ibu di Mekkah, ada jamaah yang berkata, 'saya bisa kembali ke maktab sendiri, sudah hafal jalannya'. Ternyata, beliau tidak sampai ke maktab. Beliau hanya beputar-putar di maktabnya. Allah seakan-akan tak ingin kesombongan hamba-Nya ada di tanah suci-Nya.

Maka, meski belum pernah menginjakkan kaki di Haramain, pesan saya untuk pribadi dan pembaca adalah berhati-hatilah tatkala berbicara di Haramain. Jangan sampai terlontar kata buruk, guyonan yang kelewatan, dan hal-hal kurang pantas lainnya. Semoga kita semua dimampukan untuk sampai di Haramain, salat di Hijr Ismail, berdoa di Multazam, wukuf di Arafah, lempar jumrah di Mina, Sai di Bukit Safa dan Bukit Marwa, tawaf di Masjidil Haram, salat di Masjid Nabawi. Aamiin.

© Muhammad Amin
#mekkah #madinah #haji #sambanghaji #keramat #jagalisan #jagaperkataan #24082019

Tes Dosen UMM hari ke-2

Saya lanjutkan cerita tes dosen UMM di hari kedua. Selepas urusan santri dan gedung Alexandria beres, saya langsung sarapan dan menuju UMM kampus III. Di sana masih cukup pagi ketika saya sampai. Saya segera menuju GKB (Gedung Kuliah Bersama) VI lantai 4. Saya cari di mana kelas yang akan saya masuki untuk tes Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Saya kembali bertemu dengan kawan sewaktu tes dosen kemarin. Kami berbincang panjang soal asal kampus, daerah, jurusan, dan lain-lain.

Pukul delapan lewat, penguji datang. Kita dipanggil satu per satu sesuai urutan presensi yang tertempel di tiap kelas. Saya masuk urutan keempat. Alhamdulillah, tes Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) berjalan lancar. Pertanyaan seputar apa itu Islam secara bahasa dan istilah, 4 dimensi Islam (Aqidah, Syariah, Muamalah, dan Akhlak), NKRI harga mati, sampai dengan konsep khilafah. Untuk kemuhammadiyahan pertanyaan seputar pendirian Muhammadiyah, siapa, di mana, mengapa, kelebihan, kekurangan, kritik, struktur organisasi dari bawah sampai pusat, dan organisasi otonom.

Selesai tes AIK, saya menunggu giliran tes microteaching. Menjelang pukul 11, Pak Syarif, Wadek 2 FAI, datang ke depan kelas dan meminta saya dan kawan saya untuk menuju kantor Fakultas di GKB 2 lantai 5 ruang 5.05 A. Di sana, Pak Syarif dan Kaprodi PBA, Pak Ahmad Fathoni menguji microteaching. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Selepas Zuhur, saya kembali menghadap Pak Syaruf untuk sekadar konfirmasi berkas dan ditanyai beberapa hal. Selesai sudah rangkaian panjang tes dosen UMM selama  dua hari ini. Sekarang tiba waktunya memperbanyak doa dan menunggu pengumuman kelulusan dosen.

Itulah gambaran tes dosen di UMM. Bisa jadi ada kesamaan atau perbedaan dengan tes dosen di kampus lain. Saya menulis hanya sebagai sharing pengetahuan dan pengalaman pribadi. Semoga ada guna dan manfaatnya.

© Muhammad Amin
#tes #dosen #dosenmuda #UMM #UMM1964 #FAI #PBA #22082019 #StudentsTodayLeadersTomorrow #DariMuhammadiyahuntukBangsa

Tes Dosen UMM hari ke-1

Hari ini aku begitu bersemangat. Hari di mana aku akan menjalani serangkaian tes sebelum nanti akan menjadi seorang dosen atau tidak. Aku berangkat setelah urusan santri dan Alexandria selesai. Selepas sarapan di soto ayam Lamongan, saya segera menuju UMM kampus III.

Sampai di UMM, saya parkir motor, menghirup udara pagi yang begitu segar sembari membayangkan beberapa tahun ke depan dari hari ini, udara di wilayah ini yang akan kuhirup lebih sering dari tempat lainnya. Melintasi heliped, memandang tulisan Universitas Muhammadiyah Malang beserta lambang miring di bawahnya seolah ada pesan kuat yang ingin disampaikan, 'berjuanglah di sini bersamaku'.

Kucari lokasi tes, yaitu di Ruang Sidang Senat lantai 2. Saya lantas masuk dan mengambil tempat duduk tepat di depan para penguji dengan jarak yang sangat aman tentunya. Sebab bentuk meja ruangan ini adalah leter U dengan beberapa meja satu bari di hadapannya.

Kutenangkan diri, meskipun sedari kemarin, sakit flu belum kunjung pergi dari dalam diri. Kuambil alat tulis, kuikuti arahan untuk mengerjakan English For Proficiency. Ada 3 tes, yaitu Listening, Grammar, dan Reading. Listening diakhirkan karena ada sedikit kendala. Alhamdulillah tes ini dapat dijalani dengan sangat baik.

Masuk ke tes kedua, yaitu tes potensi akademik (TPA) dari bagian kepegawaian UMM. Tes ini memiliki waktu tertentu di tiap sesi. Tes aritmatik selalu menjadi halangan di bagian ini. Dari 20 soal, hanya kukerjakan setengahnya saja. Tes berlangsung hingga menjelang azan Zuhur. Tes mengambil jeda istirahat untuk istirahat, salat Zuhur, dan makan siang.

Aku segera makan terlebih dahulu, lantas salat Zuhur di masjid AR Fachruddin dan kembali memasuki ruangan menjelang pukul setengah satu. Pukul satu tepat, PLP (Pusat Layanan Psikologi) memasuki ruangan untuk memulai tes Psikotes. Setiap sesi memiliki durasi tertentu, sama seperti TPA. Saya pun kembali hanya bisa mengerjakan setengah dari total jumlah soal matematika berbentuk cerita. Dalam psikotes ada tes pilih cepat, menentukan lanjutan bentuk, menggambar bebas dengan bantuan beberapa item, menggambar pohon, dan menggambar orang. Tiga jam kemudian tes ini berakhir.

Bagi calon dosen FAI (Fakultas Agama Islam) masih harus mengikuti wawancara dengan pejabat fakultas. Pak Dekan FAI, Prof. Thobroni datang pukul 04.45 dan langsung melakukan wawancara dengan calon dosen FAI.

Begitulah pengalaman hari pertama tes dosen di UMM. Nantikan pengalaman tes dosen UMM di hari kedua. See you!

© Muhammad Amin
#tes #dosen #dosenmuda #UMM #StudentsTodayLeadersTomorrow #kampusputih #kotamalang #kuliah #UMM1964 #FAI #PBA #21082019

Sabtu, 17 Agustus 2019

Tentang Kejadian dan Waktu

Dulu, dulu sekali, kita masih dihantui rasa canggung berlipat-lipat. Kala kita harus berkenalan satu sama lain. Ada rasa waswas, juga gembira. Rasanya keduanya berkelindan begitu saja di dalam diri.

Sejurus kemudian, kita disibukkan dengan mencatat pelajaran, mengerjakan tugas, membuat makalah, presentasi dan berbagai hal akademik lainnya. Di samping itu, kita juga diselingi berbagai agenda yang menambah kekompakan semacam lomba bahasa, lomba Agustusan, lomba keagamaan, dan lain-lain.

Lama kelamaan, kita semakin erat. Kekeluargaan semakin terbentuk dan nyata. Ketika rasa itu hadir, tak terasa telah setahun kita bersama. Artinya, tersisa waktu dua tahun untuk mengukir segala hal yang indah. Pertengakaran, perdebatan tak ayal terjadi. Tetapi, itu semua tidak berarti menjadikan kita kalah pada perasaan kecewa. Mengedepankan kebersamaan haruslah menjadi prioritas.

Kebersamaan yang hampir 24 jam itu menjadikan kita semakin erat dan hebat. Banyak kelas lain iri melihat kebersamaan kita. Semoga kita tak menjadi tinggi hati karenanya. Tetaplah merunduk meski semesta menyanjung ke tempat tertinggi.

Di Mahad, mayoritas kita menggerakkan roda organisasi. Dari yang awalnya anggota, beberapa dari kita kini menjadi koordinator bagian. Kita berikan contoh terbaik bagi generasi selanjutnya. Jangan sampai kita dicap hal-hal negatif oleh mereka.

Sampailah kita pada akhir perjalanan. Kesibukan belajar yang semakin intens dalam mempersiapkan ujian akhir tak bisa diganggu gugat. Kita mulai berkelompok sesuai peminatan masing-masing. Sesekali kita belajar bersama guru di sekolah di malam hari. Kita harus beegotong royong agar lulus dengan hasil maksimal.

Hari ujian tiba. Kita mengerjakan ujian dengan tenang. Menanti pengumuman dengan terus memanjatkan doa setelah ikhtiar maksimal selama beberapa bulan terakhir. Sampailah kita pada prosesi wisuda sebagai bagian akhir pertemuan di madrasah ini. Pengukuhan wisudawan menjadi momen penting dalam kehidupan kita masing-masing.
Beberapa tahun berjalan. Kita mulai menapaki kehidupan kampus dengan segala hiruk-pikuknya. Dunia akademik, non akademik, organisasi, pengabdian masyarakat, dan penelitian adalah hal-hal yang tak terhindarkan selama berada di kampus. Komunikasi kita paling banter hanya berakhir pada emoticon atau komentar di grup facebook yang kemudian beralih kepada grup whatsapp hingga hari ini.

Keramaian grup terjadi hanya ketika ada salah satu dari kita memasuki jenjang kehidupan baru, kehidupan rumah tangga. Undangan yang disebar di grup beroleh komentar 'baarakallah' adalah pemandangan standar. Selebihnya, sebagian kita akan menyempatkan hadir, meskipun tidak selalu semuanya bisa hadir. Sisanya hanya menitipkan uang kepada mereka yang hadir.
 
Ketika perjalanan setiap kita telah sampai pada titik rumah tangga, maka intensitas komunikasi tak akan sesering dahulu ketika masih menjadi siswa atau santri. Beberapa mungkin belum memaklumi, tapi cobalah berpikir jernih, segala hal punya waktu.
 
Pada akhirnya, fase pernikahan akan memasukkan kita pada problematika baru, lingkungan baru, yang bisa jadi memisahkan banyak hal dari kehidupan sebelum menikah. Pahamilah itu jauh sebelum memasuki tangga kehidupan bernama rumah tangga. Kompleksitas permasalahan, kedewasaan penyelesaian masalah mutlak menjadi kemampuan setiap kita.
 
Pada akhirnya, selamat menempuh hidup baru bagi kedua kawan selama masih belajar di masa yang kata orang 'masa paling indah'. Maaf belum bisa hadir secara jasadiah dalam momen bahagia kalian. Semoga sambungan doa ini tidak terputus hanya karena diri tidak hadir.
 
Baarakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir Akhi Fikri Syuhada dan Ukhti Wilda Nur Rahmah. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
© Muhammad Amin
#wedding #FikridanWilda #pernikahan #friendship #dreamcomestrue #truelovewithwedding #17082019 #latepost

Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Bagi sebagian orang, kemerdekaan hanya dimaknai secara sempit. Merdeka dari penjajahan Belanda atau Jepang misalnya. Tetapi, seiring bertambahnya pengetahuan dan usia, pemahaman terhadap kemerdekaan tentu saja berubah. Ada lebih banyak hal substansial daripada sekadar merdeka dari jajahan asing.

Jumat, 16 Agustus 2019

Peringatan Iduladha Sebagai Momentum Perjuangan Meraih Cita

Bersyukur malam hari ini, saya bersama beberapa ustaz dan ustazah dapat hadir pada PADAM (Peringatan Idul Adha MAKBI) yang diselenggarakan oleh keluarga besar MAKBI di aula MAN 2 Kota Malang. Acara semacam ini sudah menjadi agenda tahunan. Tak hanya yang masih bersekolah yang hadir, para alumni pun menyempatkan diri hadir pada momen ini.

Setelah dibuka oleh pembawa acara dan disambung bacaan ayat suci Alquran, sambutan disampaikan oleh ketua panitia PADAM dilanjutkan dengan Ustaz Sukardi.

Ustaz Sukardi berpesan bahwa anak MAKBI bukanlah anak buangan. Anak MAKBI adalah generasi unggulan. Jangan terlena pada masa lalu. Setiap masa ada kisahnya masing-masing. Ukirlah prestasi positif. Jangan tinggalkan jejak negatif di madrasah dan mahad ini.

Menurut Beliau, keunggulan MAKBI yaitu bidang bahasa (bilingual-bahasa Arab dan bahasa Inggris), Alquran, agama, akhlak, dan ubudiyah. Maka, jangan lupa pada identitas MAKBI. Jangan jadi orang yang kalau kata pepatah, kacang lupa pada kulitnya. Prestasi itu harus diperjuangkan. Pelajaran Iduladha adalah tentang totalitas ketundukan kepada Tuhan-Nya. Ibrahim dan Ismail sama-sama berkorban. Jangan ragu pada impian kalian. Agar tidak ragu, maka milikilah ilmu dan keyakinan dari Allah swt.

Acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Husnul Abid tentang semangat berkorban dalam berbagai hal. Berkorban dalam hal cinta, ketaatan, kehidupan, dan lain sebagainya. Kemudian, acara ramah tamah dilaksanakan ditemani banjari dan pemutaran video dan foto kenangan selama berada di MAKBI. Saya berharap agenda semacam ini terus dilanjutkan pada tahun berikutnya. Semoga generasi MAKBI mampu meneladani Ibrahim, Ismail, dan menjadi pejuang Islam sejati demi memajukan bangsa Indonesia. 
© Muhammad Amin

Rabu, 14 Agustus 2019

Qurban Adalah Bukti Cinta

Sejak Ahad, 11 Agustus 2019, hewan qurban mulai disembelih di berbagai masjid, musala, instansi, dan banyak tempat di seluruh dunia.

Qurban memiliki akar kata qaruba yaqrubu yang artinya dekat. Maksud dari qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Hewan sembelihan hanyalah simbol ketaatan seorang hamba kepada Allah.

Kita tentu mengingat kisah Ibrahim yang sekian lama menanti kehadiran putra dari istri pertama. Pada akhirnya, ia memperoleh keturunan dari istri kedua, Hajar. Ismail yang lucu diminta oleh Allah agar Ibrahim menyembelihnya. Pada detik terakhir, Ismail digantikan kibas oleh Allah. Itulah syariat qurban yang diikuti oleh muslim hingga hari ini.

Jadi, terkadang bukti cinta tidak hanya terbatas pada kata-kata. Bukti sesungguhnya dari cinta adalah tindakan nyata dan pengorbanan tak terkira. Jadi, sudah berkorban apa tahun ini? Kambing, sapi, atau masih sama seperti sebelumnya, korban perasaan? :peace. 

Minggu, 11 Agustus 2019

Cinta Itu... (7)

Cinta itu tentang pembuktian
Tidak hanya dengan omongan

Cinta itu tentang pengorbanan
Tidak hanya soal memenangkan pertarungan

Cinta itu tentang keseimbangan
Tidak hanya sepihak yang berjalan

Cinta itu tentang kedalaman perasaan
Tidak hanya yang ada di permukaan

Cinta itu tentang rasa yang bertautan
Tidak hanya raga yang melulu bersentuhan

Cinta itu tentang yang dihalalkan
Tidak hanya yang setiap hari diajak jalan-jalan tanpa kejelasan

#renungan #cinta #malam #latepost #11082019

Minggu, 28 Juli 2019

Mengapa Ia Hadir Saat Pilihan Telah Diambil?

Hidup adalah rotasi kebahagiaan dan kesedihan. Hidup juga tentang perputaran hasil pilihan yang kadang sulit untuk diterima dan dinalar.

Dahulu, sebelum memutuskan untuk melanjutkan kerja di tempat ini, sesungguhnya ada keinginan kuat untuk beralih ke instansi lain. Misi pengabdian tak pernah berubah. Diri hanya ingin mencari suasana baru, lingkungan baru, mencoba beradaptasi dengan lebih banyak orang lagi.

Nyatanya, mimpi itu tak berujung pada realita. Lowongan tak kunjung mendapat jawaban memuaskan. Hingga pada akhirnya, pilihan harus diambil. Akhirnya memutuskan berada di tempat sekarang sepertinya pilihan terbaik kala itu.

Beberapa waktu setelahnya, kubaca banyak begitu banyak lowongan pada instansi yang ingin dituju. Posisi dan lokasi saat ini yang membuat langkah ini terhenti di tempat ini. Masih perlu waktu, begitu kata hati kecilku.

Meskipun terbesit sedikit kecewa, keyakinan akan banyaknya maslahat di tempat ini membuat hati tenang. Tak lagi terpikirkan ketakutan yang sering kali hinggap dalam diri. Kumantapkan langkah bahwa untuk saat ini, di sinilah yang terbaik. Makna sabar dapat dipelajari dari kejadian ini. Kuberharap semoga ke depan, segala mimpi ini tak hanya sekadar ilusi.

#renungan #renunganmalam #28072019

Berkompetisi Adalah Jalan Dakwah

Kemarin, Sabtu, 27 Juli 2019, saya dan beberapa teman diminta menjadi juri pada PORSENI MI se-kabupaten Malang. 32 kecamatan turut serta dalam berbagai ajang lomba. Semua merasakan aura kegembiraan di tengah-tengah panasnya kompetisi.

Saya sendiri menjadi juri pada lomba pidato bahasa Arab. Lama tidak bergumul dengan bahasa Arab membuat saya bekerja ekstra untuk menilai. Secara konten sesungguhnya ada banyak kesamaan, jadi perbedaan dilihat dari penampilan di atas panggung.

Putra putri dari tiap kecamatan pun unjuk gigi dan membuktikan kepada dewan juri bahwa mereka layak menjadi juara. Di antara mereka ada yang bersuara lantang, beberapa lainnya dengan nada tinggi sepanjang pidato, ada yang benar-benar mampu menerapkan intonasi dan lain sebagainya.

Di luar itu semua, saya bersyukur turut serta dalam dakwah mulia ini. Jangan dikira dakwah melulu menghadiri ceramah ustaz ternama di dalam masjid atau mendengarkannya melalui radio atau menonton videnya melalui youtube. Kompetisi semacam ini juga jalan dakwah yang tak bisa dianggap remeh.

Kompetisi menjadi ajang persaudaraan, silaturahmi antar siswa madrasah. Melalui kegiatan ini, saya kira masa depan Islam tampak cerah secerah wajah siswa cilik ann imut yang berkompetisi kali ini.

#renungan #renungamalam #28072019 #kompetisi #Islam #dakwah

Jumat, 26 Juli 2019

Jaga Emosi dan Akhlakmu

Segerombolan anak sekolah merasa tidak terima dengan keputusan kepala sekolah tentang peminatan yang beralih pada 'pemanutan'. Mereka merasa dicurangi seolah impian mereka kandas sejak awal. Lalu, apa yang mereka lakukan? Apakah mereka hanya diam?

Jawabannya bisa dilihat dari celoteh mereka di sosial media. Bisa juga dilihat pada papan tulis sepulang sekolah. Makian dan cacian tertulis di sana. Kata-kata kotor tak terhindarkan. Sebenarnya apa yang benar-benar terjadi?

Sehari setelahnya, hal itu dikonfirmasi oleh bagian kurikulum sekolah. Sebagaimana yang dinyatakan kemarin bahwa sekolah menyarankan siswa untuk mengambil peminatan pada mata pelajaran dengan nilai yang melewati ambang batas, atau bahkan yang terbaik. Lantas, bagaimana nasib mereka yang tetap kukuh menginginkan suatu mata pelajaran peminatan meskipun nilai tidak melewati ambang batas?

Dijawab oleh bagian kurikulum bahwa hal semacam itu disiasati dengan membuat surat pernyataan yang berisi kesediaan siswa untuk memaksimalkan diri pada peminatan yang mereka pilih. Risiko nantinya bila mereka tidak mampu, maka akan ditanggung oleh siswa. Begitulah perjanjiannya.

Yang saya mau tegaskan bahwa selalu ada iktikad baik dari sekolah ketika membuat suatu peraturan. Di luar semua itu, sekolah pun tak boleh semena-mena mengharuskan siswa mengikuti ambisinya. Harus ada jalan tengah, diskusi, asas kekeluargaan, dan keadilan sehingga sekolah dan siswa sama-sama diuntungkan. Istilah kerennya keduanya harus menghasilkan win-win solution atau simbiosis mutualisme.

Terkait respon siswa terhadap kebijakan madrasah, hendaknya siswa bisa lebih tenang, tidak grasa-grusu, dan menyikapinya dengan menutup diri dari semua kemungkinan yang bisa saja benar adanya. Jangan tanggapi kebijakan dengan asumsi yang keliru, apalagi asumsi kebencian dan pemberontakan. Hal semacam itu tak baik bila dibiasakan. Terlabih bila sudah berbaur dengan masyarakat nanti. Kita harus pintar mengatur emosi, menjaga perilaku agar segala yang terjadi tak merugikan siapa pun. 

© Muhammad Amin, Jumat, 26 Juli 2019 menanggapi isu alih peminatan pada sebuah instansi.

Rabu, 24 Juli 2019

Ketika Kekecewaan Memenangkan Segalanya

Kala kecewa menjadi raja, saat itulah segala kebaikan yang ada menjadi sirna.

Kala kecewa hadir menjadi tuan rumah, maka tak lagi mampu tampak kebenaran di sempitnya celah.

Begitulah manusia. Kecewa sering kali membutakan mata, otak, juga hati. Sakit hatinya tak mudah diobati. Tak semudah mengobati penyakit fisik.

Aku tersentak ketika kuminta bantuan padamu, kau tak menggubris. Tidak membisu, tetapi kata-katamu seolah makian dan cacian yang entah kautujukan pada siapa.

Aku memang tak tahu benar apa masalahmu. Aku tak tahu bagaimana kaumelewatinya. Tetapi, kukira kau harus mampu mengendalikan dirimu sendiri. Jangan mau kalah oleh ego yang merusak akal sehatmu.

Keikhlasan dalam bekerja dan beramal memang berat. Terlampau banyak cobaan dan rintangan. Kau harus banyak melatih keikhlasan agar hadir dalam hati, bukan dalam ucapan.

Kecewa itu wajar saja sebenarnya. Ketidakwajaran ada pad sikapmu yang terlampau dikuasai oleh nafsu amarah. Lalu, padaku kautumpahkan segalanya.

Aku hanya menanggapi dengan diam. Membatin dalam hati, "baiklah kalau tak mau, kukerjakan sendiri saja. Aku hanya tak mau amanah ini lewat dan aku menjadi pengkhianat".

Jumat, 12 Juli 2019

Menjadi Pelopor

Malam ini adalah malam yang istimewa. Mengapa? Saya bisa bertatap muka langsung dengan siswa jurusan MAKBI (keagamaan) lintas generasi secara langsung. Rasanya baru kemarin saya lulus dari MAN ini, nyatanya saya sudah punya adik tingkat 10 generasi.

Jurusan keagamaan berawal dari MAPK (Madrasah Aliyah Program Keagamaan). Kala itu MAPK khusus putri. Sedangkan MAPK putra berada di Jember. Beberapa tahun kemudian MAPK berganti nama menjadi MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan). Pernah ada satu kejadian penting, MAK hanya dihuni 4 orang saja. Oleh bagian kurikulum hendak digabung dengan jurusan bahasa, tetapi penghuni kelas keagamaan menolak mentah-mentah permintaan ini. Hal ini dikisahkan Ustaz Taufiq supaya mengobarkan semangat militansi siswa MAKBI saat ini.

Siswa jurusan keagamaan juga menginisiasi berbagai program kebaikan, seperti safari dakwah. Hingga suatu waktu, program ini dipandang madrasah sebagai satu kegiatan yang harus diikuti oleh siswa dari kelas mana pun. Akhirnya, sampai saat ini peminat safari dakwah selalu membeludak setiap dibuka pendaftaran peserta.

Daei uraian di atas, satu pesan penting yang harus dipegang dalam hidup adalah menjadi pelopor kebaikan. Jangan mau diwarnai keadaan. Jadilah orang yang mewarnai kehidupan dengan segudang prestasi yang membanggakan. Bertebaran di berbagai lini kehidupan dengan tidak melupakan jati diri sebagai seorang muslim yang baik. Terutama terkait peribadatan dan akhlak mulia.

Hakikat hidup ini adalah menebar kebermanfaatan sebanyak mungkin. Hidup adalah tentang memberi tanpa banyak menyimpan dengki. Hidup adalah tentang terus menginspirasi tanpa mau diintervensi.

© Muhammad Amin, 12 Juli 2019, 23:15

Kamis, 11 Juli 2019

Buang yang Tidak Perlu

Beberapa hari lalu, saya merapikan kontak di gawai saya. Saya mendapati begitu banyak konyak yang tidak saya kenal. Saya pun menghapusnya, lalu rona wajah saya menjadi begitu gembira.

Tak lupa pula grup whatsapp yang berjumlah puluhan, saya pilah satu per satu. Saya keluar dari beberapa grup yang saya rasa kurang bermanfaat atau terasa terlalu banyak informasi. Setelahnya, media penyimpanan jauh lebih lega dari sebelumnya.

Hal semacam ini juga berlaku pada pikiran kita. Masa lalu yang tak perlu dikaji ulang, lupakan saja. Ambil hikmahnya untuk melangkah ke depan. Jangan terjebak dan bahkan tenggelam di dalamnya. Takutnya kamu tidak mau kembali ke realita hidupmu di masa sekarang.

Coba kita perhatikan, akhir-akhir ini jumlah informasi di sekitar kita begitu banyak. Berlebihan, luber ke mana-mana. Sampai-sampai kita bingung, informasi mana yang harus kita konsumsi. Terkadang, jauh lebih banyak informasi yang tak perlu kita ketahui. Dalam hidup, kita perlu fokus dalam memilah dan memilih, mana yang penting, mana yang kurang penting.

Bila hal di atas mampu dilakukan secara konsisten, sesungguhnya kita sedang memupuk rasa bahagia untuk terus tumbuh setiap hari, bahkan setiap waktu. Kita tak lagi disibukkan dengan gosip, berita yang tak penting untuk kita konsumsi. Kita akan menjadi orang yang selektif, tetapi tetap terbuka terhadap saran dari orang lain.

Akhirnya, kehidupan kita pun akan berujung pada hal-hal prinsipil yang seharusnya segera kita sadari keberadaannya. Jangan sampai kita terlambat tahu sehingga menjadikan kita makhluk paling sengsara dan merugi sepanjang masa.

Untukmu yang masih enggan membuang yang tidak perlu, mulailah dari sekarang dan rasakan perbedaan dan dampaknya dalam hidup.

© Muhammad Amin, 11 Juli 2019, 22:46

Rabu, 10 Juli 2019

Over Our Expertise

Apakah kau merasa cukup hanya dengan menguasai satu keahlian yang benar-benar membedakanmu dari kebanyakan manusia di atas muka bumi ini? Kiranya pertanyaan ini muncul beberapa waktu lalu ketika berbincang dengan seorang kawan.

Ia berkisah bahwa ia sudah maksimal untuk mengerjakan segala tanggung jawab yang diembankan kepadanya. Ia begitu suka fotografi. Hasil jepretannya tak perlu diragukan lagi. Ia pernah magang di aalah satu studio foto dan mendapat apresiasi yang cukup baik dari sana.

Di tempat kerjanya yang sekarang, ia mendapat tanggung jawab baru yang membutuhkan keuletan, kecepatan, dan ketepatan. Ia sendiri mengaku bahwa ia lemot, tidak bisa diajak kerja cepat, dan alasan lainnya yang tentu saja terus dicari demi pembenaran yang tak berkesudahan.

Saya hanya bilang padanya bahwa hidup tak melulu tentang memenuhi segala ingin dan bakat yang dimiliki, maupun bakat yang diasah dari hari ke hari. Hidup terkadang menawarkan asam pahitnya dengan setumpuk pekerjaan yang menuntut kita bekerja di luar passion. Hal semacam itu harus dipahami dengan baik terlebih dahulu.

Kemudian, belajarlah dengan cepat kepada yang benar-benar ahli di pekerjaan barumu. Tak usah gengsi dan takut dibilang anak kemarin sore. Lanjut saja. Lagipula kau tidak sedang melakukan kejahatan kan? Kemudian saya yakin, perlahan dirimu akan menguasai bidang baru tersebut. Bahkan, bisa jadi kecanduan dan minta jatah lembur untuk menggarap tugas semacam itu.

Kawan, jadilah manusia multifungsi. Mungkin keahlianmu cuma satu, tetapi jangan menutup diri untuk menambah keahlian lain yang bisa jadi akan menambah nilai dirimu di hadapan manusia dan Tuhan. Akhirnya, hidup adalah tentang berlomba menebar kebaikan yang kelak akan dipetik di hari abadi.

© Muhammad Amin, 10 Juli 2019, 17:04

Selasa, 09 Juli 2019

Berbelok Kali Ini Tak Semenyenangkan yang Dibayangkan

Sekitar 1 bulan terakhir saya berhenti dari aktivitas berbau literasi model klasik. Membaca buku dan menuliskan pemikiran tak banyak saya lakukan. Hal itu terus berlanjut dan baru perlahan berhenti ketika tulisan ini diselesaikan.

Saya mencoba menjadi orang kebanyakan. Keseharian diisi dengan permainan yang melenakan. Memikirkan hal-hal duniawi yang belum dimiliki, memainkan game gawai layaknya anak kecil, jalan-jalan tanpa tujuan yanh jelas, dan berbagai kesenangan semu yang menjemukan pada akhirnya.

Setelah sampai di suatu titik. Saya memutuskan untuk berhenti dan berbalok arah. Kembali ke titik awal di mana perjalanan berbelok itu dimulai. Titik di mana segala keseimbangan hidup seharusnya dilakukan dan dapat diraih dengan jauh lebih mudah.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kadang kala yang terlihat mata tak senantiasa mrmbahagiakan jiwa. Saya belajar bahwa kesenangan tiada akhir harus dibayar dahulu dengan keringat, air mata, perjuangan, jatuh bangun yang tidak terjadi satu sampai dua kali saja, tetapi berkali-kali dan bahkan sepanjang waktu.

Bagimu yang sedang mencari arah jalan pulang, ikutilah jalan kebenaran. Ikutilah jalan Tuhan yang telah termaktub dalam Alquran. Sebab hanya dengan itulah dirimu memperoleh keselamatan di dunia yang fana ini maupun di alam abadi nanti.

Salam Kebenaran
© Muhammad Amin 9 Juli 2019 05:47

Rabu, 08 Mei 2019

Jangan Terpedaya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ
Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Fathir, Ayat 5).

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kepada manusia bahwa kehidupan dunia itu melenakan. Sayangnya banyak manusia tidak menyadarinya. Ada lafaz inna yang menegaskan sesuatu. Lalu ada nun tasydid yang mengindikasikan perhatian penuh dari sekalian manusia tentang kehidupan dunia yang sangat melenakan.

Selain kehidupan dunia, ada satu hal lagi yang melenakan manusia, yaitu setan yang pandai menipu. Bagaimana menipunya? Menipunya dengan cara manusia menganggap dirinya seolah-olah telah taat kepada Allah. Padahal sikap semacam ini harus dijauhi oleh manusia.

Ada 4 hal yang menipu manusia, yaitu ilmu, ibadah, ahli tasawuf simbolik dan harta. Yang pertama adalah ilmu. Orang yang memiliki ilmu dan tertipu oleh ilmunya biasa dikategorikan sebagai ulama suu' atau ulama bejat. Ia menjual ilmunya demi kehidupan dunia yang sementara ini.

Yang kedua adalah ahli ibadah. Ahli ibadah ini ingin agar ibadahnya diketahui oleh orang lain. Kita tahu sekarang ini banyak orang berlomba mengunggah kegiatan ibadahnya di sosial media. Mau salat update status di instagram, mau berdoa update status di instagram, dan seterusnya. Hal-hal semacam ini sangat melenakan. Efek terjauhnya adalah lahirnya sifat riya dalam diri seseorang. Ia ingin amalannya diketahui orang lain.

Yang ketiga adalah ahli tasawuf simbolik. Orang semacam ini melabeli dirinya dengan simbol-simbol yang menurutnya merujuk pada satu orang yang dianggap alim, dianggap ahli ibadah. Misalnya, ia memakai jubah dan dengan jubah tersebut dianggap ahli ibadah. Ia memakai surban dan peci ke mana-mana agar dipanggil ustaz dan lain sebagainya.

Yang keempat adalah harta dan orang yang beramal dengan hartanya. Hanya saja, ia dilingkupi oleh riya, ingin dipuji sekelilingnya. Keikhlasannya luntur dengan cepat.

Empat hal inilah yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin. Semoga kita senantiasa dijauhkan oleh Allah dari terpedaya akan kehidupan dunia dan godaan setan yang memperdaya kita dari mengingat Allah. Aamiin.

#day4subuh #Ramadan #08052109

Selasa, 07 Mei 2019

Mengukur Derajat Takwa

Malam ini, ustaz Sutaman menyampaikan perihal takwa. Semua tahu bahwa melalui puasa, kita akan mencapai ketakwaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 183. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana ketakwaan sudah kita raih. Sudahkah kita benar-benar bertakwa setelah bertahun-tahun melaksanakan puasa sebulan penuh?

Takwa bisa diukur dari akibat yang ditimbulkan olehnya. Dalam Alquran, Allah menyebutkan bahwa barang siapa yang bertakwa, maka ia akan diberi solusi atas permasalahan hidup dan diberi rezeki dari berbagai arah. Solusi dari masalah itu adalah akibat dari syarat takwa yang dilakukan. Solusi ini begitu dekat adanya sebab tak dalam Alquran memakai huruf syarat "man". Syaratnya takwa, akibatnya solusi permasalahan hidup. Sedangkan rezeki didahului oleh wawu athof, artinya ada jeda dari ketakwaan menuju rezeki yang dijanjikan Allah.

Lalu, beliau menjelaskan bahwa solusi permasalahan hidup dan rezeki yang dijanjikan Allah bisa diraih apabila kita melaksanakan tidak hanya puasa syar'i. Puasa syar'i adalah menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Sedangkan ada jenis puasa lain, yaitu puasa hakiki. Puasa hakiki adalah puasanya mulut dari berkata bohong. Puasa hakiki adalah puasanya kaki dari melangkahkan kaki menuju tempat maksiat. Puasa hakiki adalah puasanya mata dari melihat yang tidak diperkenankan oleh Allah. Puasa hakiki adalah jenis puasa yang banyak digolongkan ke dalam puasanya orang khowas atau khowasul khowas.

Dengan puasa syar'i dan puasa hakiki yang maksimal, insyaAllah janji Allah benar-benar terasa dalam hidup. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan untuk berpuasa secara syar'i dan hakiki, dengan penuh iman dan mengharap rida-Nya semata. Aamiin.

#catatanRamadan1440 #day3tarawih

Minggu, 05 Mei 2019

Pulang Sejenak Mengobati Rindu

Rindu itu telah berkecamuk. Setelah sekian waktu terpisah jarak, kini tiba saatnya melepas segala penat dan pengobat renjana. Kuharap setiamu senantiasa terjaga. Pada setiap detik waktu dan untaian doa, tiada bosan satu nama tersemat di antaranya.

Setelah semalam mengikuti perpisahan, kini tiba saatnya menjemput pertemuan. Meski lelah menemani sepanjang jalan, tetapi hal itu tiada menyurutkan langkah bertemu sang pujaan hati yang menawan.

Ramadan akan kita jumpai. Berbagai ritual tentu saja harus dijalani. Puasa, sahur, berbuka, sedekah, mencari ilmu, dan berbagai ibadah lain dilipatgandakan balasannya. Sungguh merugi siapa saja yang melewatkannya. Juga bagi mereka yang begitu-begitu saja melewatinya tanpa makna.

Terima kasih, Adinda. Atas kesabaran yang berbuah manis pada sua yang diharapkan. Pada hari ini telah genap separuh agama. Menjalani puasa bersama sungguh indah dirasa.
Selepas ini, izinkan diri tuk kembali mengabdi. Doaku untukmu akan selalu menyertai. Semoga Allah memberi kekuatan kepada diri. Agar terus berubah dan memperbaiki diri dari hari ke hari.

#day125 of #365 #05052019 #aboutlove #latepost

Minggu, 28 April 2019

Ke Yogja Kita Kembali (Sebuah Catatan Perjalanan)

Ada yang berbeda pada liburan semester ganjil kali ini. Biasanya saya hanya pulang ke rumah, berkunjung ke rumah beberapa teman, kembali lagi ke rantau. Kali ini ada satu agenda yang telah saya rencanakan bersama istri, yaitu berkunjung ke Jogjakarta.

Sabtu, 27 April 2019

Akhlak, amal Saleh, dan Salat Jamaah

Beberapa waktu lalu, saya mendapat pesan whatsapp dari salah satu ustazah yang meminta biodata singkat dan pesan untuk kelas XII yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan di madrasah dan mahad tempat saya bekerja. Saya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk menasihatkan hal yang sama dengan yang saya nasihatkan kepada generasi sebelumnya.

Pesan pertama adalah perihal akhlak mulia. Saya membaca salah satu kata mutiara yang menerangkan bahwa seseorang perlu belajar adab (akhlak mulia) sekitar 20 tahun, dan belajar keilmuan selama 10 tahun. Tentunya angka 20 dan 10 bukan yang ingin saya bahas. Saya fokus pada betapa akhlak begitu didahulukan atas segalanya, termasuk ilmu pengetahuan. Akhlak memang menjadi hal yang menjadi perhatian dari dahulu sampai sekarang. Bahkan, hari-hari ini kita tahu pendidikan Indonesia sedang gencar dengan program pendidikan karakter. Hal ini tentu menjawab kegelisahan banyak pihak bahwa keberadaan akhlak akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan.

Pesan kedua adalah perihal berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Berbuat baik akan membuat hati tenang. Sebaliknya, berbuat kemaksiatan akan menimbulkan rasa resah berkepanjangan dan tak berkesudahan. Hal ini juga bisa dikaitkan dengan perihal mencari ilmu. Ilmu adalah cahaya. Sedangkan cahaya Allah tidak diturunkan bagi mereka yang masih bergelimang dengan dosa dan maksiat. Maka, mulai konsistenlah dengan hal-hal positif dan jauhi hal-hal negatif dan kemaksiatan sejauh mungkin.

Pesan ketiga sekaligus terakhir adalah perihal salat berjamaah. Hal inilah yang berkali-kali saya sampaikan kepada para santri. Saya mendapat pesan ini dari ketua Mahad Sunan Ampel Al Aly ketika saya sowan bersama para pengurus tiga tahun lalu. Beliau menegaskan bahwa salat itu sebab dari banyak sebab terbukanya banyak pintu. Pintu rezeki, pintu ilmu, pintu kemudahan, dan pintu-pintu kebaikan lainnya. Saya benar-benar merasakan manfaat dari salat jamaah yang digaungkan berkali-kali oleh ketua Mahad saya dahulu. Maka, di media sosial saya pun saya tuliskan, 'benahi salatmu, Allah benahi kehidupanmu.'.

Itulah tiga pesan saya kepada para santri yang akan memasuki dunia kampus, sebuah miniatur kecil dari gambaran realita masyarakat. Semoga pesan-pesan tersebut dapat diperhatikan dan dijalankan oleh mereka, khususnya bagi saya pribadi. Sebab, saya tak mau menjadi orang yang berdosa sebab hanya berkata namun tidak melaksanakan. Nauzubillahi min zalik.

#day101 of #365 #11042019 #HikmahKehidupan #latepost

Usaha dan Doa

Akan sampai di suatu masa
Berbagai pilihan hadir di depan mata
Meminta diri menentukan segera
Akan ke mana masa depan kan dibawa

Akankah pendidikan menjadi yang utama
Akankah mengejar pundi rupiah dengan bekerja
Akankah melangsungkan pernikahan yang didamba
Semua pilihan benar-benar nyata, tak hanya cerita

Terkadang bingung melanda
Terkadang resah merajai jiwa
Tetapi jangan sampai dibiarkan begitu saja
Gantilah dengan optimis dan semangat membara

Iringi segala pilihan dengan doa
Jangan sampai lupa restu orang tua
Juga dorongan positif dari orang-orang tercinta
Semoga segala usaha berbuah manis pada akhirnya.

#day102 of #365 #12042019 #JumatBerpuisi #latepost

Menjelang Pilpres dan Pileg

Malam ini menjadi malam terakhir berkampanye bagi dua paslon capres dan cawapres, juga bagi para calon legislatif. Malam ini diadakan debat capres cawapres keempat atau terakhir. Debat kali ini tentu saja bisa dibilang menjadi penentu bagaimana akhirnya masyarakat menjatuhkan pilihan pada 17 April nanti.

Segala visi dan misi telah dijelaskan dengan gamblang. Dibarengi dengan adu data dan juga argumen serta fenomena yang didapati di masyatakat. Masyarakat sudah waktunya melek politik. Jangan jadi apatis dengan politik yang ada. Mengapa? Sebab kebijakan politik nantinya, mereka juga yang akan merasakan.

Presiden nantinya dituntut untuk menyelesaikan berbagai problematika bangsa yang rumit bin jlimet. Dibantu dengan para menteri dan legislatif di tiap provinsi, kabupaten dan kota diharapkan segala permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan menganut asas kekeluargaan dan mengedepankan kepentingan rakyat Indonesia.

Dalam memilih, amati sepak terjangnya selama ini. Bagaimana ia memepelakukan dirinya sendiri, keluarganya, kerabatnya, juga sumbangsih kepada bangsanya. Jangan lupa pula strategi-strategi apa yang akan dilakukan demi menuntaskan segala masalah bangsa di masa kini dan masa mendatang.

Dengan menimbang segala hal di atas, semoga akan jatuh pilihan kepada sosok yang tepat. Mungkin ada yang bilang, ah, semua calon gak baik. Aku mau golput aja deh. Bagi saya sendiri, saya mengikuti anjuran memilih yang terbaik di antara yang baik. Bila memang buruk, saya akan memilih yang paling sedikit keburukannya.

Akhirnya, pilihlah capres cawapres dan caleg pada 17 April nanti dengan hati yang tenang. Kalau perlu istikharah dahulu tidaklah mengapa. Semoga segala ikhtiar kita dengan turut serta memeriahkan pesta demokrasi kali ini diganjar dengan hadirnya pemimpin yang adil, membela rakyat, menjunjung tinggi keadilan, ksatria, dan mampu mengangkat harkat martabat Indonesia menjadi satu negara yang selalu disegani oleh rakyat maupun bangsa lainnya.

#day103 of #365 #13042019 #pengamatanbermakna #latepost

Amarah itu Redam Seketika

Judul : Hati Suhita
Penulis : Khilma Anis
Halaman : 406 halaman
Penerbit : Telaga Aksara

Saya tak mampu membayangkan bagaimana pernikahan semasa Siti Nurbaya kembali terjadi pada adegan Gus Birru dan Alina Suhita. Entah nyata atau fiksi, saya kira memang buku ini mengungkap hal-hal yang tak terlihat oleh kasat mata. Menjadi rahasia bagi yang menjalaninya.

Diawali dengan kisah perjodohan Gus dan Ning. Perjodohan semacam ini sebenarnya lumrah saja terjadi, tetapi bagaimana bila sang suami tidak lantas menghadirkan rasa cinta yang sama dengan yang diinginkan oleh sang istri? Tentu cerita akan lain dan tentu saja seru. Terlebih, ada pihak ketiga yang dirasa ikut campur di dalam kehidupan rumah tangganya.

Sepanjang cerita, saya dibuat takjub dengan penggambaran tokoh yang seolah nyata. Dibumbui dengan falsafah Jawa yang penuh dengan nilai-nilai luhur kehidupan. Inilah yang membedakan novel ini daripada novel lain.

Kelebihan lainnya adalah ditampilkannya sudut pandang yang berbeda-beda. Ada sudut pandang orang ketiga, Aruna, Rengganis, dan Kang Dharma. Kesemuanya diracik dengan sempurna. Pembaca harus jeli pada bab yang dibaca. Sebab bila salah menerka sudut pandang, tentu saja pemahaman yang didapat tidak akan utuh.

Antiklimaks yang begitu membahagiakan dengan ungkapan pengabsah wangsa dan mustika ampal menjadi haru-biru bersama perjuangan selama tujuh bulan lamanya. Penerimaan atas segala hal yang dilakukan luruh dengan sekian baris kalimat yang meruntuhkan amarah dalam dada.

Novel ini layak dibaca kalangan muda, terutama bagi yang telah menikah. Ada banyak hal menarik seperti nama raja, cerita kerajaan, dan tanaman-tanaman alami yang bermanfaat bagi kesehatan. Baca sampai selesai dan rasakan bagaimana jatuh bangun dalam membangun sebuah mahligai rumah tangga yang diidam-idamkan semua pasangan.

#day107 of #365 #17042019 #RabuBincangLiterasi #latepost

Kamis, 14 Maret 2019

Refleksi Milad IMM ke-55


Malam ini saya akan merangkum apa yang disampaikan oleh Pradana Boy ZTF, Ph.D. dan Dr. Haedar Nasir dalam acara Refleksi Milad IMM ke-55 malam ini di Muallimin Jogjakarta.
Back to top