Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Minggu, 28 April 2019

Ke Yogja Kita Kembali (Sebuah Catatan Perjalanan)

Ada yang berbeda pada liburan semester ganjil kali ini. Biasanya saya hanya pulang ke rumah, berkunjung ke rumah beberapa teman, kembali lagi ke rantau. Kali ini ada satu agenda yang telah saya rencanakan bersama istri, yaitu berkunjung ke Jogjakarta.

Sabtu, 27 April 2019

Akhlak, amal Saleh, dan Salat Jamaah

Beberapa waktu lalu, saya mendapat pesan whatsapp dari salah satu ustazah yang meminta biodata singkat dan pesan untuk kelas XII yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan di madrasah dan mahad tempat saya bekerja. Saya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk menasihatkan hal yang sama dengan yang saya nasihatkan kepada generasi sebelumnya.

Pesan pertama adalah perihal akhlak mulia. Saya membaca salah satu kata mutiara yang menerangkan bahwa seseorang perlu belajar adab (akhlak mulia) sekitar 20 tahun, dan belajar keilmuan selama 10 tahun. Tentunya angka 20 dan 10 bukan yang ingin saya bahas. Saya fokus pada betapa akhlak begitu didahulukan atas segalanya, termasuk ilmu pengetahuan. Akhlak memang menjadi hal yang menjadi perhatian dari dahulu sampai sekarang. Bahkan, hari-hari ini kita tahu pendidikan Indonesia sedang gencar dengan program pendidikan karakter. Hal ini tentu menjawab kegelisahan banyak pihak bahwa keberadaan akhlak akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan.

Pesan kedua adalah perihal berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Berbuat baik akan membuat hati tenang. Sebaliknya, berbuat kemaksiatan akan menimbulkan rasa resah berkepanjangan dan tak berkesudahan. Hal ini juga bisa dikaitkan dengan perihal mencari ilmu. Ilmu adalah cahaya. Sedangkan cahaya Allah tidak diturunkan bagi mereka yang masih bergelimang dengan dosa dan maksiat. Maka, mulai konsistenlah dengan hal-hal positif dan jauhi hal-hal negatif dan kemaksiatan sejauh mungkin.

Pesan ketiga sekaligus terakhir adalah perihal salat berjamaah. Hal inilah yang berkali-kali saya sampaikan kepada para santri. Saya mendapat pesan ini dari ketua Mahad Sunan Ampel Al Aly ketika saya sowan bersama para pengurus tiga tahun lalu. Beliau menegaskan bahwa salat itu sebab dari banyak sebab terbukanya banyak pintu. Pintu rezeki, pintu ilmu, pintu kemudahan, dan pintu-pintu kebaikan lainnya. Saya benar-benar merasakan manfaat dari salat jamaah yang digaungkan berkali-kali oleh ketua Mahad saya dahulu. Maka, di media sosial saya pun saya tuliskan, 'benahi salatmu, Allah benahi kehidupanmu.'.

Itulah tiga pesan saya kepada para santri yang akan memasuki dunia kampus, sebuah miniatur kecil dari gambaran realita masyarakat. Semoga pesan-pesan tersebut dapat diperhatikan dan dijalankan oleh mereka, khususnya bagi saya pribadi. Sebab, saya tak mau menjadi orang yang berdosa sebab hanya berkata namun tidak melaksanakan. Nauzubillahi min zalik.

#day101 of #365 #11042019 #HikmahKehidupan #latepost

Usaha dan Doa

Akan sampai di suatu masa
Berbagai pilihan hadir di depan mata
Meminta diri menentukan segera
Akan ke mana masa depan kan dibawa

Akankah pendidikan menjadi yang utama
Akankah mengejar pundi rupiah dengan bekerja
Akankah melangsungkan pernikahan yang didamba
Semua pilihan benar-benar nyata, tak hanya cerita

Terkadang bingung melanda
Terkadang resah merajai jiwa
Tetapi jangan sampai dibiarkan begitu saja
Gantilah dengan optimis dan semangat membara

Iringi segala pilihan dengan doa
Jangan sampai lupa restu orang tua
Juga dorongan positif dari orang-orang tercinta
Semoga segala usaha berbuah manis pada akhirnya.

#day102 of #365 #12042019 #JumatBerpuisi #latepost

Menjelang Pilpres dan Pileg

Malam ini menjadi malam terakhir berkampanye bagi dua paslon capres dan cawapres, juga bagi para calon legislatif. Malam ini diadakan debat capres cawapres keempat atau terakhir. Debat kali ini tentu saja bisa dibilang menjadi penentu bagaimana akhirnya masyarakat menjatuhkan pilihan pada 17 April nanti.

Segala visi dan misi telah dijelaskan dengan gamblang. Dibarengi dengan adu data dan juga argumen serta fenomena yang didapati di masyatakat. Masyarakat sudah waktunya melek politik. Jangan jadi apatis dengan politik yang ada. Mengapa? Sebab kebijakan politik nantinya, mereka juga yang akan merasakan.

Presiden nantinya dituntut untuk menyelesaikan berbagai problematika bangsa yang rumit bin jlimet. Dibantu dengan para menteri dan legislatif di tiap provinsi, kabupaten dan kota diharapkan segala permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan menganut asas kekeluargaan dan mengedepankan kepentingan rakyat Indonesia.

Dalam memilih, amati sepak terjangnya selama ini. Bagaimana ia memepelakukan dirinya sendiri, keluarganya, kerabatnya, juga sumbangsih kepada bangsanya. Jangan lupa pula strategi-strategi apa yang akan dilakukan demi menuntaskan segala masalah bangsa di masa kini dan masa mendatang.

Dengan menimbang segala hal di atas, semoga akan jatuh pilihan kepada sosok yang tepat. Mungkin ada yang bilang, ah, semua calon gak baik. Aku mau golput aja deh. Bagi saya sendiri, saya mengikuti anjuran memilih yang terbaik di antara yang baik. Bila memang buruk, saya akan memilih yang paling sedikit keburukannya.

Akhirnya, pilihlah capres cawapres dan caleg pada 17 April nanti dengan hati yang tenang. Kalau perlu istikharah dahulu tidaklah mengapa. Semoga segala ikhtiar kita dengan turut serta memeriahkan pesta demokrasi kali ini diganjar dengan hadirnya pemimpin yang adil, membela rakyat, menjunjung tinggi keadilan, ksatria, dan mampu mengangkat harkat martabat Indonesia menjadi satu negara yang selalu disegani oleh rakyat maupun bangsa lainnya.

#day103 of #365 #13042019 #pengamatanbermakna #latepost

Amarah itu Redam Seketika

Judul : Hati Suhita
Penulis : Khilma Anis
Halaman : 406 halaman
Penerbit : Telaga Aksara

Saya tak mampu membayangkan bagaimana pernikahan semasa Siti Nurbaya kembali terjadi pada adegan Gus Birru dan Alina Suhita. Entah nyata atau fiksi, saya kira memang buku ini mengungkap hal-hal yang tak terlihat oleh kasat mata. Menjadi rahasia bagi yang menjalaninya.

Diawali dengan kisah perjodohan Gus dan Ning. Perjodohan semacam ini sebenarnya lumrah saja terjadi, tetapi bagaimana bila sang suami tidak lantas menghadirkan rasa cinta yang sama dengan yang diinginkan oleh sang istri? Tentu cerita akan lain dan tentu saja seru. Terlebih, ada pihak ketiga yang dirasa ikut campur di dalam kehidupan rumah tangganya.

Sepanjang cerita, saya dibuat takjub dengan penggambaran tokoh yang seolah nyata. Dibumbui dengan falsafah Jawa yang penuh dengan nilai-nilai luhur kehidupan. Inilah yang membedakan novel ini daripada novel lain.

Kelebihan lainnya adalah ditampilkannya sudut pandang yang berbeda-beda. Ada sudut pandang orang ketiga, Aruna, Rengganis, dan Kang Dharma. Kesemuanya diracik dengan sempurna. Pembaca harus jeli pada bab yang dibaca. Sebab bila salah menerka sudut pandang, tentu saja pemahaman yang didapat tidak akan utuh.

Antiklimaks yang begitu membahagiakan dengan ungkapan pengabsah wangsa dan mustika ampal menjadi haru-biru bersama perjuangan selama tujuh bulan lamanya. Penerimaan atas segala hal yang dilakukan luruh dengan sekian baris kalimat yang meruntuhkan amarah dalam dada.

Novel ini layak dibaca kalangan muda, terutama bagi yang telah menikah. Ada banyak hal menarik seperti nama raja, cerita kerajaan, dan tanaman-tanaman alami yang bermanfaat bagi kesehatan. Baca sampai selesai dan rasakan bagaimana jatuh bangun dalam membangun sebuah mahligai rumah tangga yang diidam-idamkan semua pasangan.

#day107 of #365 #17042019 #RabuBincangLiterasi #latepost

Back to top