Ke Yogja Kita Kembali (sebuah catatan perjalanan)

Ada yang berbeda pada liburan semester ganjil kali ini. Biasanya saya hanya pulang ke rumah, berkunjung ke rumah beberapa teman, kembali lagi ke rantau. Kali ini ada satu agenda yang telah saya rencanakan bersama istri, yaitu berkunjung ke Jogjakarta.

Setelah disibukkan dengan tes SKB CPNS di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, resepsi saudara di Ngawi, pada Senin, 24 Desember 2014 pagi, saya bersama istri berangkat menuju Jogjakarta dengan armada travel Rama Sakti. Kami berencana menghabiskan liburan di Jogjakarta selama dua hari dua malam. Perjalanan membutuhkan waktu hampir 10 jam. Maklum, liburan natal kali ini memang cukup panjang. Kami sampai di Jogjakarta menjelang pukul 5 sore. Berbekal google maps, kami pun sampai di penginapan Selo Homestay 3.

Sampai di penginapan, kami disambut dengan ramah oleh pemilik penginapan. Setelah cek in, kami disilakan masuk kamar. Ibu pemilik penginapan menjelaskan perihal penginapan mulai aturan keluar, penggunaan kamar mandi, cek out, dan lain-lain. Meski berbeda keyakinan, nyatanya tak menghalangi kami untuk cepat akrab dengan Beliau. Saya merasakan suasana kedamaian dan toleransi yang luar biasa di penginapan ini. Rasanya ingin lebih lama berada di penginapan ini, tetapi sayang seribu sayang, kami hanya memesan satu hari. Kami harus berpindah penginapan di hari selanjutnya. Karena lelah, kami malas untuk sekadar keluar mencari makan malam. Grabfood menjadi pilihan kami malam itu. Setelah makan malam, kami beristirahat.

Keesokan harinya, 25 Desember 2019,  selepas Subuh, kami menunggu pesanan motor yang akan digunakan selama berada di Jogjakarta. AB Rental Motor menjadi pilihan kami kala itu. Meski terlambat karena hujan, kami memaklumi hal tersebut. Grabfood kembali melengkapi kebutuhan sarapan kami. Menjelang siang, cuaca cukup bersahabat. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat.

Tempat pertama adalah Langgar Kidoel K. H. Ahmad Dahlan. Musala yang menjadi saksi berdirinya Muhammadiyah di negeri ini. Menemukan Langgar Kidoel sebenarnya cukup mudah sebab terpampang jelas plang bertuliskan Langgar KHA Dahlan Kauman dibarengi logo Muhammadiyah di sisi jalan.

Jalan ke tempat ini cukup sempit. Hanya bisa dilewati satu sepeda motor. Mungkin masih banyak yang belum tahu tempat ini. Saya kira perlu disediakan akomodasi yang cukup mudah agar sampai ke lokasi ini. Kami mengamati langgar ini dengan saksama. Menyempatkan mengambil beberapa foto lalu beranjak pergi. Kami berharap bisa datang kembali suatu hari nanti.

Kami pun beranjak ke tempat lain. Tetapi, sebelum menuju tempat lain, kami kembali ke penginapan untuk salat Zuhur. Selepas Zuhur, kami makan siang dan melanjutkan perjalanan. Kami juga memindahkan barang ke penginapan baru di Belfa Guest House. Kami menuju benteng Vredeburg.  Sayang sekali, karena hari itu hari libur nasional, jadi benteng ini juga tidak melayani pengunjung. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan di Malioboro. Kami membeli kaos bertuliskan hal-hal yang berkaitan dengan Jogja. Kalau batik sudah terlampau banyak kami miliki.

Kami juga berfoto di bawah tanda jalan Malioboro. Di bawah rinai yang mulai turun, kami duduk di tempat duduk yang disediakan di sepanjang trotoar Malioboro. Tak dinyana, kala itu ada semacam parade budaya. Mereka mengenakan baju khas Yogya dan menyanyikan lagu-lagu Jawa yang menarik. Benar-benar suatu anugerah tak terkira. Menjelang malam, kami kembali ke penginapan untuk salat Magrib. Selepas Isya, kami menuju tugu Yogya. Hujan turun deras menyertai perjalanan kami sampai di angkringan dekat tugu Yogja. Kami pun memesan nasi goreng dan susu hangat sebelum kemudian berfoto di Tugu Yogja. Setelah puas berfoto, kami pun pulang ke penginapan.

Rabu, 26 Desember 2019. Kami melanjutkan jalan-jalan ke benteng Vredeburg yang kemarin tutup. Kami belajar sejarah Yogyakarta yang tak banyak dibahas di buku pelajaran. Bagaimana perkembangan Indonesia dan perjuangan kemerdekaan juga diadakan di kota ini. Provinsi ini menjadi saksi perjuangan para pejuang di masa lalu. Setelah puas berkeliling di area benteng Vredeburg, kami berdua makan siang di sekitar Alun-Alun Kidul. Lalu, kami berfoto di Alun-Alun Kidul sebelum akhirnya kami harus pulang ke penginapan untuk persiapan pulang ke Bojonegoro.

Selepas Asar, kami menuju kantor Rama Sakti Travel dan menunggu jemputan AB Rental motor. Setelah 45 menit, jemputan datang. Kami mengucapkan terima kasih atas motor yang kami sewa selama dua hari ini. Sekitar pukul empat sore kami pun meninggalkan Yogyakarta menuju Bojonegoro.

Kenangan tentang Yogyakarta akhir tahun ini begitu berharga dan berkesan bagi kami. Semoga suatu saat di masa depan dapat kembali mengulang hal yang sama dalam keadaan yang jauh lebih baik dari hari ini.

Selesai ditulis di Malang, 28 April 2019 setelah berbulan-bulan ingin dipublikasikan dan baru benar-benar selesai pada tanggal tersebut.

Komentar