Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Rabu, 08 Mei 2019

Jangan Terpedaya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ
Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Fathir, Ayat 5).

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kepada manusia bahwa kehidupan dunia itu melenakan. Sayangnya banyak manusia tidak menyadarinya. Ada lafaz inna yang menegaskan sesuatu. Lalu ada nun tasydid yang mengindikasikan perhatian penuh dari sekalian manusia tentang kehidupan dunia yang sangat melenakan.

Selain kehidupan dunia, ada satu hal lagi yang melenakan manusia, yaitu setan yang pandai menipu. Bagaimana menipunya? Menipunya dengan cara manusia menganggap dirinya seolah-olah telah taat kepada Allah. Padahal sikap semacam ini harus dijauhi oleh manusia.

Ada 4 hal yang menipu manusia, yaitu ilmu, ibadah, ahli tasawuf simbolik dan harta. Yang pertama adalah ilmu. Orang yang memiliki ilmu dan tertipu oleh ilmunya biasa dikategorikan sebagai ulama suu' atau ulama bejat. Ia menjual ilmunya demi kehidupan dunia yang sementara ini.

Yang kedua adalah ahli ibadah. Ahli ibadah ini ingin agar ibadahnya diketahui oleh orang lain. Kita tahu sekarang ini banyak orang berlomba mengunggah kegiatan ibadahnya di sosial media. Mau salat update status di instagram, mau berdoa update status di instagram, dan seterusnya. Hal-hal semacam ini sangat melenakan. Efek terjauhnya adalah lahirnya sifat riya dalam diri seseorang. Ia ingin amalannya diketahui orang lain.

Yang ketiga adalah ahli tasawuf simbolik. Orang semacam ini melabeli dirinya dengan simbol-simbol yang menurutnya merujuk pada satu orang yang dianggap alim, dianggap ahli ibadah. Misalnya, ia memakai jubah dan dengan jubah tersebut dianggap ahli ibadah. Ia memakai surban dan peci ke mana-mana agar dipanggil ustaz dan lain sebagainya.

Yang keempat adalah harta dan orang yang beramal dengan hartanya. Hanya saja, ia dilingkupi oleh riya, ingin dipuji sekelilingnya. Keikhlasannya luntur dengan cepat.

Empat hal inilah yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin. Semoga kita senantiasa dijauhkan oleh Allah dari terpedaya akan kehidupan dunia dan godaan setan yang memperdaya kita dari mengingat Allah. Aamiin.

#day4subuh #Ramadan #08052109

Selasa, 07 Mei 2019

Mengukur Derajat Takwa

Malam ini, ustaz Sutaman menyampaikan perihal takwa. Semua tahu bahwa melalui puasa, kita akan mencapai ketakwaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 183. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana ketakwaan sudah kita raih. Sudahkah kita benar-benar bertakwa setelah bertahun-tahun melaksanakan puasa sebulan penuh?

Takwa bisa diukur dari akibat yang ditimbulkan olehnya. Dalam Alquran, Allah menyebutkan bahwa barang siapa yang bertakwa, maka ia akan diberi solusi atas permasalahan hidup dan diberi rezeki dari berbagai arah. Solusi dari masalah itu adalah akibat dari syarat takwa yang dilakukan. Solusi ini begitu dekat adanya sebab tak dalam Alquran memakai huruf syarat "man". Syaratnya takwa, akibatnya solusi permasalahan hidup. Sedangkan rezeki didahului oleh wawu athof, artinya ada jeda dari ketakwaan menuju rezeki yang dijanjikan Allah.

Lalu, beliau menjelaskan bahwa solusi permasalahan hidup dan rezeki yang dijanjikan Allah bisa diraih apabila kita melaksanakan tidak hanya puasa syar'i. Puasa syar'i adalah menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Sedangkan ada jenis puasa lain, yaitu puasa hakiki. Puasa hakiki adalah puasanya mulut dari berkata bohong. Puasa hakiki adalah puasanya kaki dari melangkahkan kaki menuju tempat maksiat. Puasa hakiki adalah puasanya mata dari melihat yang tidak diperkenankan oleh Allah. Puasa hakiki adalah jenis puasa yang banyak digolongkan ke dalam puasanya orang khowas atau khowasul khowas.

Dengan puasa syar'i dan puasa hakiki yang maksimal, insyaAllah janji Allah benar-benar terasa dalam hidup. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan untuk berpuasa secara syar'i dan hakiki, dengan penuh iman dan mengharap rida-Nya semata. Aamiin.

#catatanRamadan1440 #day3tarawih

Minggu, 05 Mei 2019

Pulang Sejenak Mengobati Rindu

Rindu itu telah berkecamuk. Setelah sekian waktu terpisah jarak, kini tiba saatnya melepas segala penat dan pengobat renjana. Kuharap setiamu senantiasa terjaga. Pada setiap detik waktu dan untaian doa, tiada bosan satu nama tersemat di antaranya.

Setelah semalam mengikuti perpisahan, kini tiba saatnya menjemput pertemuan. Meski lelah menemani sepanjang jalan, tetapi hal itu tiada menyurutkan langkah bertemu sang pujaan hati yang menawan.

Ramadan akan kita jumpai. Berbagai ritual tentu saja harus dijalani. Puasa, sahur, berbuka, sedekah, mencari ilmu, dan berbagai ibadah lain dilipatgandakan balasannya. Sungguh merugi siapa saja yang melewatkannya. Juga bagi mereka yang begitu-begitu saja melewatinya tanpa makna.

Terima kasih, Adinda. Atas kesabaran yang berbuah manis pada sua yang diharapkan. Pada hari ini telah genap separuh agama. Menjalani puasa bersama sungguh indah dirasa.
Selepas ini, izinkan diri tuk kembali mengabdi. Doaku untukmu akan selalu menyertai. Semoga Allah memberi kekuatan kepada diri. Agar terus berubah dan memperbaiki diri dari hari ke hari.

#day125 of #365 #05052019 #aboutlove #latepost
Back to top