Mengukur Derajat Takwa

Malam ini, ustaz Sutaman menyampaikan perihal takwa. Semua tahu bahwa melalui puasa, kita akan mencapai ketakwaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 183. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana ketakwaan sudah kita raih. Sudahkah kita benar-benar bertakwa setelah bertahun-tahun melaksanakan puasa sebulan penuh?

Takwa bisa diukur dari akibat yang ditimbulkan olehnya. Dalam Alquran, Allah menyebutkan bahwa barang siapa yang bertakwa, maka ia akan diberi solusi atas permasalahan hidup dan diberi rezeki dari berbagai arah. Solusi dari masalah itu adalah akibat dari syarat takwa yang dilakukan. Solusi ini begitu dekat adanya sebab tak dalam Alquran memakai huruf syarat "man". Syaratnya takwa, akibatnya solusi permasalahan hidup. Sedangkan rezeki didahului oleh wawu athof, artinya ada jeda dari ketakwaan menuju rezeki yang dijanjikan Allah.

Lalu, beliau menjelaskan bahwa solusi permasalahan hidup dan rezeki yang dijanjikan Allah bisa diraih apabila kita melaksanakan tidak hanya puasa syar'i. Puasa syar'i adalah menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Sedangkan ada jenis puasa lain, yaitu puasa hakiki. Puasa hakiki adalah puasanya mulut dari berkata bohong. Puasa hakiki adalah puasanya kaki dari melangkahkan kaki menuju tempat maksiat. Puasa hakiki adalah puasanya mata dari melihat yang tidak diperkenankan oleh Allah. Puasa hakiki adalah jenis puasa yang banyak digolongkan ke dalam puasanya orang khowas atau khowasul khowas.

Dengan puasa syar'i dan puasa hakiki yang maksimal, insyaAllah janji Allah benar-benar terasa dalam hidup. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan untuk berpuasa secara syar'i dan hakiki, dengan penuh iman dan mengharap rida-Nya semata. Aamiin.

#catatanRamadan1440 #day3tarawih

Komentar