Minggu, 28 Juli 2019

Mengapa Ia Hadir Saat Pilihan Telah Diambil?

Hidup adalah rotasi kebahagiaan dan kesedihan. Hidup juga tentang perputaran hasil pilihan yang kadang sulit untuk diterima dan dinalar.

Dahulu, sebelum memutuskan untuk melanjutkan kerja di tempat ini, sesungguhnya ada keinginan kuat untuk beralih ke instansi lain. Misi pengabdian tak pernah berubah. Diri hanya ingin mencari suasana baru, lingkungan baru, mencoba beradaptasi dengan lebih banyak orang lagi.

Nyatanya, mimpi itu tak berujung pada realita. Lowongan tak kunjung mendapat jawaban memuaskan. Hingga pada akhirnya, pilihan harus diambil. Akhirnya memutuskan berada di tempat sekarang sepertinya pilihan terbaik kala itu.

Beberapa waktu setelahnya, kubaca banyak begitu banyak lowongan pada instansi yang ingin dituju. Posisi dan lokasi saat ini yang membuat langkah ini terhenti di tempat ini. Masih perlu waktu, begitu kata hati kecilku.

Meskipun terbesit sedikit kecewa, keyakinan akan banyaknya maslahat di tempat ini membuat hati tenang. Tak lagi terpikirkan ketakutan yang sering kali hinggap dalam diri. Kumantapkan langkah bahwa untuk saat ini, di sinilah yang terbaik. Makna sabar dapat dipelajari dari kejadian ini. Kuberharap semoga ke depan, segala mimpi ini tak hanya sekadar ilusi.

#renungan #renunganmalam #28072019
Continue reading Mengapa Ia Hadir Saat Pilihan Telah Diambil?
,

Berkompetisi Adalah Jalan Dakwah

Kemarin, Sabtu, 27 Juli 2019, saya dan beberapa teman diminta menjadi juri pada PORSENI MI se-kabupaten Malang. 32 kecamatan turut serta dalam berbagai ajang lomba. Semua merasakan aura kegembiraan di tengah-tengah panasnya kompetisi.

Saya sendiri menjadi juri pada lomba pidato bahasa Arab. Lama tidak bergumul dengan bahasa Arab membuat saya bekerja ekstra untuk menilai. Secara konten sesungguhnya ada banyak kesamaan, jadi perbedaan dilihat dari penampilan di atas panggung.

Putra putri dari tiap kecamatan pun unjuk gigi dan membuktikan kepada dewan juri bahwa mereka layak menjadi juara. Di antara mereka ada yang bersuara lantang, beberapa lainnya dengan nada tinggi sepanjang pidato, ada yang benar-benar mampu menerapkan intonasi dan lain sebagainya.

Di luar itu semua, saya bersyukur turut serta dalam dakwah mulia ini. Jangan dikira dakwah melulu menghadiri ceramah ustaz ternama di dalam masjid atau mendengarkannya melalui radio atau menonton videnya melalui youtube. Kompetisi semacam ini juga jalan dakwah yang tak bisa dianggap remeh.

Kompetisi menjadi ajang persaudaraan, silaturahmi antar siswa madrasah. Melalui kegiatan ini, saya kira masa depan Islam tampak cerah secerah wajah siswa cilik ann imut yang berkompetisi kali ini.

#renungan #renungamalam #28072019 #kompetisi #Islam #dakwah
Continue reading Berkompetisi Adalah Jalan Dakwah

Jumat, 26 Juli 2019

Jaga Emosi dan Akhlakmu

Segerombolan anak sekolah merasa tidak terima dengan keputusan kepala sekolah tentang peminatan yang beralih pada 'pemanutan'. Mereka merasa dicurangi seolah impian mereka kandas sejak awal. Lalu, apa yang mereka lakukan? Apakah mereka hanya diam?

Jawabannya bisa dilihat dari celoteh mereka di sosial media. Bisa juga dilihat pada papan tulis sepulang sekolah. Makian dan cacian tertulis di sana. Kata-kata kotor tak terhindarkan. Sebenarnya apa yang benar-benar terjadi?

Sehari setelahnya, hal itu dikonfirmasi oleh bagian kurikulum sekolah. Sebagaimana yang dinyatakan kemarin bahwa sekolah menyarankan siswa untuk mengambil peminatan pada mata pelajaran dengan nilai yang melewati ambang batas, atau bahkan yang terbaik. Lantas, bagaimana nasib mereka yang tetap kukuh menginginkan suatu mata pelajaran peminatan meskipun nilai tidak melewati ambang batas?

Dijawab oleh bagian kurikulum bahwa hal semacam itu disiasati dengan membuat surat pernyataan yang berisi kesediaan siswa untuk memaksimalkan diri pada peminatan yang mereka pilih. Risiko nantinya bila mereka tidak mampu, maka akan ditanggung oleh siswa. Begitulah perjanjiannya.

Yang saya mau tegaskan bahwa selalu ada iktikad baik dari sekolah ketika membuat suatu peraturan. Di luar semua itu, sekolah pun tak boleh semena-mena mengharuskan siswa mengikuti ambisinya. Harus ada jalan tengah, diskusi, asas kekeluargaan, dan keadilan sehingga sekolah dan siswa sama-sama diuntungkan. Istilah kerennya keduanya harus menghasilkan win-win solution atau simbiosis mutualisme.

Terkait respon siswa terhadap kebijakan madrasah, hendaknya siswa bisa lebih tenang, tidak grasa-grusu, dan menyikapinya dengan menutup diri dari semua kemungkinan yang bisa saja benar adanya. Jangan tanggapi kebijakan dengan asumsi yang keliru, apalagi asumsi kebencian dan pemberontakan. Hal semacam itu tak baik bila dibiasakan. Terlabih bila sudah berbaur dengan masyarakat nanti. Kita harus pintar mengatur emosi, menjaga perilaku agar segala yang terjadi tak merugikan siapa pun. 

© Muhammad Amin, Jumat, 26 Juli 2019 menanggapi isu alih peminatan pada sebuah instansi.
Continue reading Jaga Emosi dan Akhlakmu

Rabu, 24 Juli 2019

Ketika Kekecewaan Memenangkan Segalanya

Kala kecewa menjadi raja, saat itulah segala kebaikan yang ada menjadi sirna.

Kala kecewa hadir menjadi tuan rumah, maka tak lagi mampu tampak kebenaran di sempitnya celah.

Begitulah manusia. Kecewa sering kali membutakan mata, otak, juga hati. Sakit hatinya tak mudah diobati. Tak semudah mengobati penyakit fisik.

Aku tersentak ketika kuminta bantuan padamu, kau tak menggubris. Tidak membisu, tetapi kata-katamu seolah makian dan cacian yang entah kautujukan pada siapa.

Aku memang tak tahu benar apa masalahmu. Aku tak tahu bagaimana kaumelewatinya. Tetapi, kukira kau harus mampu mengendalikan dirimu sendiri. Jangan mau kalah oleh ego yang merusak akal sehatmu.

Keikhlasan dalam bekerja dan beramal memang berat. Terlampau banyak cobaan dan rintangan. Kau harus banyak melatih keikhlasan agar hadir dalam hati, bukan dalam ucapan.

Kecewa itu wajar saja sebenarnya. Ketidakwajaran ada pad sikapmu yang terlampau dikuasai oleh nafsu amarah. Lalu, padaku kautumpahkan segalanya.

Aku hanya menanggapi dengan diam. Membatin dalam hati, "baiklah kalau tak mau, kukerjakan sendiri saja. Aku hanya tak mau amanah ini lewat dan aku menjadi pengkhianat".

Continue reading Ketika Kekecewaan Memenangkan Segalanya

Jumat, 12 Juli 2019

Menjadi Pelopor

Malam ini adalah malam yang istimewa. Mengapa? Saya bisa bertatap muka langsung dengan siswa jurusan MAKBI (keagamaan) lintas generasi secara langsung. Rasanya baru kemarin saya lulus dari MAN ini, nyatanya saya sudah punya adik tingkat 10 generasi.

Jurusan keagamaan berawal dari MAPK (Madrasah Aliyah Program Keagamaan). Kala itu MAPK khusus putri. Sedangkan MAPK putra berada di Jember. Beberapa tahun kemudian MAPK berganti nama menjadi MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan). Pernah ada satu kejadian penting, MAK hanya dihuni 4 orang saja. Oleh bagian kurikulum hendak digabung dengan jurusan bahasa, tetapi penghuni kelas keagamaan menolak mentah-mentah permintaan ini. Hal ini dikisahkan Ustaz Taufiq supaya mengobarkan semangat militansi siswa MAKBI saat ini.

Siswa jurusan keagamaan juga menginisiasi berbagai program kebaikan, seperti safari dakwah. Hingga suatu waktu, program ini dipandang madrasah sebagai satu kegiatan yang harus diikuti oleh siswa dari kelas mana pun. Akhirnya, sampai saat ini peminat safari dakwah selalu membeludak setiap dibuka pendaftaran peserta.

Daei uraian di atas, satu pesan penting yang harus dipegang dalam hidup adalah menjadi pelopor kebaikan. Jangan mau diwarnai keadaan. Jadilah orang yang mewarnai kehidupan dengan segudang prestasi yang membanggakan. Bertebaran di berbagai lini kehidupan dengan tidak melupakan jati diri sebagai seorang muslim yang baik. Terutama terkait peribadatan dan akhlak mulia.

Hakikat hidup ini adalah menebar kebermanfaatan sebanyak mungkin. Hidup adalah tentang memberi tanpa banyak menyimpan dengki. Hidup adalah tentang terus menginspirasi tanpa mau diintervensi.

© Muhammad Amin, 12 Juli 2019, 23:15

Continue reading Menjadi Pelopor

Kamis, 11 Juli 2019

Buang yang Tidak Perlu

Beberapa hari lalu, saya merapikan kontak di gawai saya. Saya mendapati begitu banyak konyak yang tidak saya kenal. Saya pun menghapusnya, lalu rona wajah saya menjadi begitu gembira.

Tak lupa pula grup whatsapp yang berjumlah puluhan, saya pilah satu per satu. Saya keluar dari beberapa grup yang saya rasa kurang bermanfaat atau terasa terlalu banyak informasi. Setelahnya, media penyimpanan jauh lebih lega dari sebelumnya.

Hal semacam ini juga berlaku pada pikiran kita. Masa lalu yang tak perlu dikaji ulang, lupakan saja. Ambil hikmahnya untuk melangkah ke depan. Jangan terjebak dan bahkan tenggelam di dalamnya. Takutnya kamu tidak mau kembali ke realita hidupmu di masa sekarang.

Coba kita perhatikan, akhir-akhir ini jumlah informasi di sekitar kita begitu banyak. Berlebihan, luber ke mana-mana. Sampai-sampai kita bingung, informasi mana yang harus kita konsumsi. Terkadang, jauh lebih banyak informasi yang tak perlu kita ketahui. Dalam hidup, kita perlu fokus dalam memilah dan memilih, mana yang penting, mana yang kurang penting.

Bila hal di atas mampu dilakukan secara konsisten, sesungguhnya kita sedang memupuk rasa bahagia untuk terus tumbuh setiap hari, bahkan setiap waktu. Kita tak lagi disibukkan dengan gosip, berita yang tak penting untuk kita konsumsi. Kita akan menjadi orang yang selektif, tetapi tetap terbuka terhadap saran dari orang lain.

Akhirnya, kehidupan kita pun akan berujung pada hal-hal prinsipil yang seharusnya segera kita sadari keberadaannya. Jangan sampai kita terlambat tahu sehingga menjadikan kita makhluk paling sengsara dan merugi sepanjang masa.

Untukmu yang masih enggan membuang yang tidak perlu, mulailah dari sekarang dan rasakan perbedaan dan dampaknya dalam hidup.

© Muhammad Amin, 11 Juli 2019, 22:46

Continue reading Buang yang Tidak Perlu

Rabu, 10 Juli 2019

Over Our Expertise

Apakah kau merasa cukup hanya dengan menguasai satu keahlian yang benar-benar membedakanmu dari kebanyakan manusia di atas muka bumi ini? Kiranya pertanyaan ini muncul beberapa waktu lalu ketika berbincang dengan seorang kawan.

Ia berkisah bahwa ia sudah maksimal untuk mengerjakan segala tanggung jawab yang diembankan kepadanya. Ia begitu suka fotografi. Hasil jepretannya tak perlu diragukan lagi. Ia pernah magang di aalah satu studio foto dan mendapat apresiasi yang cukup baik dari sana.

Di tempat kerjanya yang sekarang, ia mendapat tanggung jawab baru yang membutuhkan keuletan, kecepatan, dan ketepatan. Ia sendiri mengaku bahwa ia lemot, tidak bisa diajak kerja cepat, dan alasan lainnya yang tentu saja terus dicari demi pembenaran yang tak berkesudahan.

Saya hanya bilang padanya bahwa hidup tak melulu tentang memenuhi segala ingin dan bakat yang dimiliki, maupun bakat yang diasah dari hari ke hari. Hidup terkadang menawarkan asam pahitnya dengan setumpuk pekerjaan yang menuntut kita bekerja di luar passion. Hal semacam itu harus dipahami dengan baik terlebih dahulu.

Kemudian, belajarlah dengan cepat kepada yang benar-benar ahli di pekerjaan barumu. Tak usah gengsi dan takut dibilang anak kemarin sore. Lanjut saja. Lagipula kau tidak sedang melakukan kejahatan kan? Kemudian saya yakin, perlahan dirimu akan menguasai bidang baru tersebut. Bahkan, bisa jadi kecanduan dan minta jatah lembur untuk menggarap tugas semacam itu.

Kawan, jadilah manusia multifungsi. Mungkin keahlianmu cuma satu, tetapi jangan menutup diri untuk menambah keahlian lain yang bisa jadi akan menambah nilai dirimu di hadapan manusia dan Tuhan. Akhirnya, hidup adalah tentang berlomba menebar kebaikan yang kelak akan dipetik di hari abadi.

© Muhammad Amin, 10 Juli 2019, 17:04

Continue reading Over Our Expertise

Selasa, 09 Juli 2019

Berbelok Kali Ini Tak Semenyenangkan yang Dibayangkan

Sekitar 1 bulan terakhir saya berhenti dari aktivitas berbau literasi model klasik. Membaca buku dan menuliskan pemikiran tak banyak saya lakukan. Hal itu terus berlanjut dan baru perlahan berhenti ketika tulisan ini diselesaikan.

Saya mencoba menjadi orang kebanyakan. Keseharian diisi dengan permainan yang melenakan. Memikirkan hal-hal duniawi yang belum dimiliki, memainkan game gawai layaknya anak kecil, jalan-jalan tanpa tujuan yanh jelas, dan berbagai kesenangan semu yang menjemukan pada akhirnya.

Setelah sampai di suatu titik. Saya memutuskan untuk berhenti dan berbalok arah. Kembali ke titik awal di mana perjalanan berbelok itu dimulai. Titik di mana segala keseimbangan hidup seharusnya dilakukan dan dapat diraih dengan jauh lebih mudah.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kadang kala yang terlihat mata tak senantiasa mrmbahagiakan jiwa. Saya belajar bahwa kesenangan tiada akhir harus dibayar dahulu dengan keringat, air mata, perjuangan, jatuh bangun yang tidak terjadi satu sampai dua kali saja, tetapi berkali-kali dan bahkan sepanjang waktu.

Bagimu yang sedang mencari arah jalan pulang, ikutilah jalan kebenaran. Ikutilah jalan Tuhan yang telah termaktub dalam Alquran. Sebab hanya dengan itulah dirimu memperoleh keselamatan di dunia yang fana ini maupun di alam abadi nanti.

Salam Kebenaran
© Muhammad Amin 9 Juli 2019 05:47

Continue reading Berbelok Kali Ini Tak Semenyenangkan yang Dibayangkan

Podcast Sang Pembelajar