Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Minggu, 25 Agustus 2019

Renungan Kematian

Pagi ini, selepas Subuh, saya mendapat kabar duka. Ayah dari salah seorang santri Alexandria meninggal dunia. Saya dan beberapa santri memutuskan untuk bertakziyah.

Kami berangkat pukul setengah 8 ke lokasi. Sampai di lokasi, kami mendoakan almarhum, turut menyolatkan beliau dan sempat berbincang dengan rekan almarhum yang bekerja di Jakarta.

Rekan almarhum ini memiliki anak yang lahir di tahun 1976 dan ikut bekerja di perusahaan milik almarhum. Kalau masalah harta, almarhum adalah pemilik beberapa perusahaan, salah satunya di Surabaya. Ketika istri rekan almarhum meninggal dunia, almarhum menyempatkan hadir di Jakarta. Maka, sangat wajar bila hari ini, rekan almarhum datang untuk memberi kesaksian dan penghormatan terkahir sebelum disemayamkan di pemakanan Mergan.

Beliau mengungkapkan bahwa almarhum adalah orang baik. Banyak membantu sekitarnya. Rekan almarhum berpesan bahwa kita ini menjalani 4 fase, yaitu fase mati, hidup, mati lalu hidup lagi. Menyadur satu ayat di Al-Baqarah, beliau menguatkan pernyataannya. Almarhum meninggal di usia sekitar 50 tahun, sedangkan rekan almarhum telah berumur 60 atau 70 an tahun. Maka, kematian bisa menghampiri siapa pun, tak peduli usia muda atau sudah tua, sakit atau sehat.

Sudah selayaknya, sebagai muslim sejati, kita mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal saleh. Menjalankan perintah-Nya dengan maksimal, menjauhi larangan-Nya sejauh-jauhnya. Semoga kita semua nanti ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.

© Muhammad Amin
#kematian #renungan #reminder #selfreminder #25082019 #bekal #jalankanperintah #jauhilarangan

Pernikahan di Desa dan di Kota

Malam ini, saya bersama asatiz dan ustazat menghadiri resepsi pernikahan Ustazah Syarifah dan Mas Khoiron. Saya sendiri bersyukur sebab penantian sekian waktu Ustazah Syarifah berakhir indah. Saya yakin beliau begitu bahagia telah menemukan setengah jiwanya yang telah ditunggu kedatangannya beberapa kurun.

Saya ingin menyoroti masalah perbedaan resepsi pernikahan antara di kota dan desa. Bagi masyarakat kota, resepsi biasanya dilakukan di gedung, desain panggung dan catering konsumsi melalui jasa penyewaan. Makan dengan setting prasmanan. Tak jarang mereka menggunakan jasa EO (Event Organizer) agar segala yang menjadi resepsi impian terlaksana maksimal. Belum lagi berbicara masalah make up, gaun, jas, dan segala pernak-perniknya.

Berbeda lagi dengan resepsi di desa. Biasanya, resepsi dilaksanakan di depan rumah. Maka, jangan heran bila mengetahui setiap rumah di desa selalu memiliki halaman yang cukup luas. Salah satu fungsinya sebagai tempat resepsi pernikahan. Untuk konsumsi, mereka melibatkan orang satu desa, atau minimal satu RT dan keluarga dekat. Tradisi 'cinjo' atau 'nyunjung' masih sangat kental terutama di Jawa Timur. Cinjo adalah tradisi mengirimi setiap rumah kerabat, terutama yang dekat nasi, sayur-biasanya kare atau opor-, dan jajanan.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, resepsi di desa mengikuti tradisi di kota. Terutama bagi mereka yang punya uang lebih. Makan prasmanan, panggung mewah, make up berharga mahal, orkestra, dan lain-lain menjadi hal yang semakin biasa ditemui.

Satu hal yang kadang membuat saya jengkel adalah ketika tidak disediakan kursi untuk makan dan minum. Hadirin diminta makan dan minum berdiri. Standing party istilahnya. Padahal, secara Islam, makan dan minum dianjurkan dengan duduk. Hal semacam itu jauh lebih sehat secara medis. Sudah banyak penelitian menyatakan hal semacam itu.

Terlepas dari perbedaan tradisi pernikahan di desa dan kota, yang jauh lebih penting adalah doa-doa yang mengudara, memberikan selamat dan restu kepada kedua mempelai semoga langgeng dunia akhirat, membina keluarga sakinah, mawadda, wa rahmah.

© Muhammad Amin
#pernikahan #wedding #EO #Islam #23082019

Haramain Itu Keramat

Malam ini, saya bersama beberapa asatiz dan ustazat mengunjungi kediaman Pak Jasa yang baru saja selesai menjalankan ibadah haji di tanah suci. Kami sampai lokasi ketika iqamah Isya akan dikumandangkan, selepas Isya, kami baru bertamu ke rumah beliau.

Kami disambut dengan sangat ramah oleh tuan rumah. Beliau mendoakan kami agar bisa mengambil sendiri air zam zam dari sumbernya. Sembari minum air zam zam dan menikmati hidangan yang ada, Pak Jasa mulai bercerita panjang lebar tentang pengalaman selama haji.

Salah satu yang saya ingat adalah bahwa ketika kita melontarkan kata-kata, meski itu guyonan, maka balasannya adalah beberapa saat setelah ucapan itu terlontarkan. Misalnya, berkata, 'ah, saya tidak akan kena batuk, yang kena batuk ya unta'. Beberapa saat kemudian, yang berkata semacam itu langsung batuk selama sekian waktu.

Pernah pula saya mendapat cerita dari ibu. Ketika ibu di Mekkah, ada jamaah yang berkata, 'saya bisa kembali ke maktab sendiri, sudah hafal jalannya'. Ternyata, beliau tidak sampai ke maktab. Beliau hanya beputar-putar di maktabnya. Allah seakan-akan tak ingin kesombongan hamba-Nya ada di tanah suci-Nya.

Maka, meski belum pernah menginjakkan kaki di Haramain, pesan saya untuk pribadi dan pembaca adalah berhati-hatilah tatkala berbicara di Haramain. Jangan sampai terlontar kata buruk, guyonan yang kelewatan, dan hal-hal kurang pantas lainnya. Semoga kita semua dimampukan untuk sampai di Haramain, salat di Hijr Ismail, berdoa di Multazam, wukuf di Arafah, lempar jumrah di Mina, Sai di Bukit Safa dan Bukit Marwa, tawaf di Masjidil Haram, salat di Masjid Nabawi. Aamiin.

© Muhammad Amin
#mekkah #madinah #haji #sambanghaji #keramat #jagalisan #jagaperkataan #24082019

Tes Dosen UMM hari ke-2

Saya lanjutkan cerita tes dosen UMM di hari kedua. Selepas urusan santri dan gedung Alexandria beres, saya langsung sarapan dan menuju UMM kampus III. Di sana masih cukup pagi ketika saya sampai. Saya segera menuju GKB (Gedung Kuliah Bersama) VI lantai 4. Saya cari di mana kelas yang akan saya masuki untuk tes Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Saya kembali bertemu dengan kawan sewaktu tes dosen kemarin. Kami berbincang panjang soal asal kampus, daerah, jurusan, dan lain-lain.

Pukul delapan lewat, penguji datang. Kita dipanggil satu per satu sesuai urutan presensi yang tertempel di tiap kelas. Saya masuk urutan keempat. Alhamdulillah, tes Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) berjalan lancar. Pertanyaan seputar apa itu Islam secara bahasa dan istilah, 4 dimensi Islam (Aqidah, Syariah, Muamalah, dan Akhlak), NKRI harga mati, sampai dengan konsep khilafah. Untuk kemuhammadiyahan pertanyaan seputar pendirian Muhammadiyah, siapa, di mana, mengapa, kelebihan, kekurangan, kritik, struktur organisasi dari bawah sampai pusat, dan organisasi otonom.

Selesai tes AIK, saya menunggu giliran tes microteaching. Menjelang pukul 11, Pak Syarif, Wadek 2 FAI, datang ke depan kelas dan meminta saya dan kawan saya untuk menuju kantor Fakultas di GKB 2 lantai 5 ruang 5.05 A. Di sana, Pak Syarif dan Kaprodi PBA, Pak Ahmad Fathoni menguji microteaching. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Selepas Zuhur, saya kembali menghadap Pak Syaruf untuk sekadar konfirmasi berkas dan ditanyai beberapa hal. Selesai sudah rangkaian panjang tes dosen UMM selama  dua hari ini. Sekarang tiba waktunya memperbanyak doa dan menunggu pengumuman kelulusan dosen.

Itulah gambaran tes dosen di UMM. Bisa jadi ada kesamaan atau perbedaan dengan tes dosen di kampus lain. Saya menulis hanya sebagai sharing pengetahuan dan pengalaman pribadi. Semoga ada guna dan manfaatnya.

© Muhammad Amin
#tes #dosen #dosenmuda #UMM #UMM1964 #FAI #PBA #22082019 #StudentsTodayLeadersTomorrow #DariMuhammadiyahuntukBangsa

Tes Dosen UMM hari ke-1

Hari ini aku begitu bersemangat. Hari di mana aku akan menjalani serangkaian tes sebelum nanti akan menjadi seorang dosen atau tidak. Aku berangkat setelah urusan santri dan Alexandria selesai. Selepas sarapan di soto ayam Lamongan, saya segera menuju UMM kampus III.

Sampai di UMM, saya parkir motor, menghirup udara pagi yang begitu segar sembari membayangkan beberapa tahun ke depan dari hari ini, udara di wilayah ini yang akan kuhirup lebih sering dari tempat lainnya. Melintasi heliped, memandang tulisan Universitas Muhammadiyah Malang beserta lambang miring di bawahnya seolah ada pesan kuat yang ingin disampaikan, 'berjuanglah di sini bersamaku'.

Kucari lokasi tes, yaitu di Ruang Sidang Senat lantai 2. Saya lantas masuk dan mengambil tempat duduk tepat di depan para penguji dengan jarak yang sangat aman tentunya. Sebab bentuk meja ruangan ini adalah leter U dengan beberapa meja satu bari di hadapannya.

Kutenangkan diri, meskipun sedari kemarin, sakit flu belum kunjung pergi dari dalam diri. Kuambil alat tulis, kuikuti arahan untuk mengerjakan English For Proficiency. Ada 3 tes, yaitu Listening, Grammar, dan Reading. Listening diakhirkan karena ada sedikit kendala. Alhamdulillah tes ini dapat dijalani dengan sangat baik.

Masuk ke tes kedua, yaitu tes potensi akademik (TPA) dari bagian kepegawaian UMM. Tes ini memiliki waktu tertentu di tiap sesi. Tes aritmatik selalu menjadi halangan di bagian ini. Dari 20 soal, hanya kukerjakan setengahnya saja. Tes berlangsung hingga menjelang azan Zuhur. Tes mengambil jeda istirahat untuk istirahat, salat Zuhur, dan makan siang.

Aku segera makan terlebih dahulu, lantas salat Zuhur di masjid AR Fachruddin dan kembali memasuki ruangan menjelang pukul setengah satu. Pukul satu tepat, PLP (Pusat Layanan Psikologi) memasuki ruangan untuk memulai tes Psikotes. Setiap sesi memiliki durasi tertentu, sama seperti TPA. Saya pun kembali hanya bisa mengerjakan setengah dari total jumlah soal matematika berbentuk cerita. Dalam psikotes ada tes pilih cepat, menentukan lanjutan bentuk, menggambar bebas dengan bantuan beberapa item, menggambar pohon, dan menggambar orang. Tiga jam kemudian tes ini berakhir.

Bagi calon dosen FAI (Fakultas Agama Islam) masih harus mengikuti wawancara dengan pejabat fakultas. Pak Dekan FAI, Prof. Thobroni datang pukul 04.45 dan langsung melakukan wawancara dengan calon dosen FAI.

Begitulah pengalaman hari pertama tes dosen di UMM. Nantikan pengalaman tes dosen UMM di hari kedua. See you!

© Muhammad Amin
#tes #dosen #dosenmuda #UMM #StudentsTodayLeadersTomorrow #kampusputih #kotamalang #kuliah #UMM1964 #FAI #PBA #21082019

Sabtu, 17 Agustus 2019

Tentang Kejadian dan Waktu

Dulu, dulu sekali, kita masih dihantui rasa canggung berlipat-lipat. Kala kita harus berkenalan satu sama lain. Ada rasa waswas, juga gembira. Rasanya keduanya berkelindan begitu saja di dalam diri.

Sejurus kemudian, kita disibukkan dengan mencatat pelajaran, mengerjakan tugas, membuat makalah, presentasi dan berbagai hal akademik lainnya. Di samping itu, kita juga diselingi berbagai agenda yang menambah kekompakan semacam lomba bahasa, lomba Agustusan, lomba keagamaan, dan lain-lain.

Lama kelamaan, kita semakin erat. Kekeluargaan semakin terbentuk dan nyata. Ketika rasa itu hadir, tak terasa telah setahun kita bersama. Artinya, tersisa waktu dua tahun untuk mengukir segala hal yang indah. Pertengakaran, perdebatan tak ayal terjadi. Tetapi, itu semua tidak berarti menjadikan kita kalah pada perasaan kecewa. Mengedepankan kebersamaan haruslah menjadi prioritas.

Kebersamaan yang hampir 24 jam itu menjadikan kita semakin erat dan hebat. Banyak kelas lain iri melihat kebersamaan kita. Semoga kita tak menjadi tinggi hati karenanya. Tetaplah merunduk meski semesta menyanjung ke tempat tertinggi.

Di Mahad, mayoritas kita menggerakkan roda organisasi. Dari yang awalnya anggota, beberapa dari kita kini menjadi koordinator bagian. Kita berikan contoh terbaik bagi generasi selanjutnya. Jangan sampai kita dicap hal-hal negatif oleh mereka.

Sampailah kita pada akhir perjalanan. Kesibukan belajar yang semakin intens dalam mempersiapkan ujian akhir tak bisa diganggu gugat. Kita mulai berkelompok sesuai peminatan masing-masing. Sesekali kita belajar bersama guru di sekolah di malam hari. Kita harus beegotong royong agar lulus dengan hasil maksimal.

Hari ujian tiba. Kita mengerjakan ujian dengan tenang. Menanti pengumuman dengan terus memanjatkan doa setelah ikhtiar maksimal selama beberapa bulan terakhir. Sampailah kita pada prosesi wisuda sebagai bagian akhir pertemuan di madrasah ini. Pengukuhan wisudawan menjadi momen penting dalam kehidupan kita masing-masing.
Beberapa tahun berjalan. Kita mulai menapaki kehidupan kampus dengan segala hiruk-pikuknya. Dunia akademik, non akademik, organisasi, pengabdian masyarakat, dan penelitian adalah hal-hal yang tak terhindarkan selama berada di kampus. Komunikasi kita paling banter hanya berakhir pada emoticon atau komentar di grup facebook yang kemudian beralih kepada grup whatsapp hingga hari ini.

Keramaian grup terjadi hanya ketika ada salah satu dari kita memasuki jenjang kehidupan baru, kehidupan rumah tangga. Undangan yang disebar di grup beroleh komentar 'baarakallah' adalah pemandangan standar. Selebihnya, sebagian kita akan menyempatkan hadir, meskipun tidak selalu semuanya bisa hadir. Sisanya hanya menitipkan uang kepada mereka yang hadir.
 
Ketika perjalanan setiap kita telah sampai pada titik rumah tangga, maka intensitas komunikasi tak akan sesering dahulu ketika masih menjadi siswa atau santri. Beberapa mungkin belum memaklumi, tapi cobalah berpikir jernih, segala hal punya waktu.
 
Pada akhirnya, fase pernikahan akan memasukkan kita pada problematika baru, lingkungan baru, yang bisa jadi memisahkan banyak hal dari kehidupan sebelum menikah. Pahamilah itu jauh sebelum memasuki tangga kehidupan bernama rumah tangga. Kompleksitas permasalahan, kedewasaan penyelesaian masalah mutlak menjadi kemampuan setiap kita.
 
Pada akhirnya, selamat menempuh hidup baru bagi kedua kawan selama masih belajar di masa yang kata orang 'masa paling indah'. Maaf belum bisa hadir secara jasadiah dalam momen bahagia kalian. Semoga sambungan doa ini tidak terputus hanya karena diri tidak hadir.
 
Baarakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir Akhi Fikri Syuhada dan Ukhti Wilda Nur Rahmah. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
© Muhammad Amin
#wedding #FikridanWilda #pernikahan #friendship #dreamcomestrue #truelovewithwedding #17082019 #latepost

Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Bagi sebagian orang, kemerdekaan hanya dimaknai secara sempit. Merdeka dari penjajahan Belanda atau Jepang misalnya. Tetapi, seiring bertambahnya pengetahuan dan usia, pemahaman terhadap kemerdekaan tentu saja berubah. Ada lebih banyak hal substansial daripada sekadar merdeka dari jajahan asing.

Jumat, 16 Agustus 2019

Peringatan Iduladha Sebagai Momentum Perjuangan Meraih Cita

Bersyukur malam hari ini, saya bersama beberapa ustaz dan ustazah dapat hadir pada PADAM (Peringatan Idul Adha MAKBI) yang diselenggarakan oleh keluarga besar MAKBI di aula MAN 2 Kota Malang. Acara semacam ini sudah menjadi agenda tahunan. Tak hanya yang masih bersekolah yang hadir, para alumni pun menyempatkan diri hadir pada momen ini.

Setelah dibuka oleh pembawa acara dan disambung bacaan ayat suci Alquran, sambutan disampaikan oleh ketua panitia PADAM dilanjutkan dengan Ustaz Sukardi.

Ustaz Sukardi berpesan bahwa anak MAKBI bukanlah anak buangan. Anak MAKBI adalah generasi unggulan. Jangan terlena pada masa lalu. Setiap masa ada kisahnya masing-masing. Ukirlah prestasi positif. Jangan tinggalkan jejak negatif di madrasah dan mahad ini.

Menurut Beliau, keunggulan MAKBI yaitu bidang bahasa (bilingual-bahasa Arab dan bahasa Inggris), Alquran, agama, akhlak, dan ubudiyah. Maka, jangan lupa pada identitas MAKBI. Jangan jadi orang yang kalau kata pepatah, kacang lupa pada kulitnya. Prestasi itu harus diperjuangkan. Pelajaran Iduladha adalah tentang totalitas ketundukan kepada Tuhan-Nya. Ibrahim dan Ismail sama-sama berkorban. Jangan ragu pada impian kalian. Agar tidak ragu, maka milikilah ilmu dan keyakinan dari Allah swt.

Acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Husnul Abid tentang semangat berkorban dalam berbagai hal. Berkorban dalam hal cinta, ketaatan, kehidupan, dan lain sebagainya. Kemudian, acara ramah tamah dilaksanakan ditemani banjari dan pemutaran video dan foto kenangan selama berada di MAKBI. Saya berharap agenda semacam ini terus dilanjutkan pada tahun berikutnya. Semoga generasi MAKBI mampu meneladani Ibrahim, Ismail, dan menjadi pejuang Islam sejati demi memajukan bangsa Indonesia. 
© Muhammad Amin

Rabu, 14 Agustus 2019

Qurban Adalah Bukti Cinta

Sejak Ahad, 11 Agustus 2019, hewan qurban mulai disembelih di berbagai masjid, musala, instansi, dan banyak tempat di seluruh dunia.

Qurban memiliki akar kata qaruba yaqrubu yang artinya dekat. Maksud dari qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Hewan sembelihan hanyalah simbol ketaatan seorang hamba kepada Allah.

Kita tentu mengingat kisah Ibrahim yang sekian lama menanti kehadiran putra dari istri pertama. Pada akhirnya, ia memperoleh keturunan dari istri kedua, Hajar. Ismail yang lucu diminta oleh Allah agar Ibrahim menyembelihnya. Pada detik terakhir, Ismail digantikan kibas oleh Allah. Itulah syariat qurban yang diikuti oleh muslim hingga hari ini.

Jadi, terkadang bukti cinta tidak hanya terbatas pada kata-kata. Bukti sesungguhnya dari cinta adalah tindakan nyata dan pengorbanan tak terkira. Jadi, sudah berkorban apa tahun ini? Kambing, sapi, atau masih sama seperti sebelumnya, korban perasaan? :peace. 

Minggu, 11 Agustus 2019

Cinta Itu... (7)

Cinta itu tentang pembuktian
Tidak hanya dengan omongan

Cinta itu tentang pengorbanan
Tidak hanya soal memenangkan pertarungan

Cinta itu tentang keseimbangan
Tidak hanya sepihak yang berjalan

Cinta itu tentang kedalaman perasaan
Tidak hanya yang ada di permukaan

Cinta itu tentang rasa yang bertautan
Tidak hanya raga yang melulu bersentuhan

Cinta itu tentang yang dihalalkan
Tidak hanya yang setiap hari diajak jalan-jalan tanpa kejelasan

#renungan #cinta #malam #latepost #11082019
Back to top