Renungan Kematian

Pagi ini, selepas Subuh, saya mendapat kabar duka. Ayah dari salah seorang santri Alexandria meninggal dunia. Saya dan beberapa santri memutuskan untuk bertakziyah.

Kami berangkat pukul setengah 8 ke lokasi. Sampai di lokasi, kami mendoakan almarhum, turut menyolatkan beliau dan sempat berbincang dengan rekan almarhum yang bekerja di Jakarta.

Rekan almarhum ini memiliki anak yang lahir di tahun 1976 dan ikut bekerja di perusahaan milik almarhum. Kalau masalah harta, almarhum adalah pemilik beberapa perusahaan, salah satunya di Surabaya. Ketika istri rekan almarhum meninggal dunia, almarhum menyempatkan hadir di Jakarta. Maka, sangat wajar bila hari ini, rekan almarhum datang untuk memberi kesaksian dan penghormatan terkahir sebelum disemayamkan di pemakanan Mergan.

Beliau mengungkapkan bahwa almarhum adalah orang baik. Banyak membantu sekitarnya. Rekan almarhum berpesan bahwa kita ini menjalani 4 fase, yaitu fase mati, hidup, mati lalu hidup lagi. Menyadur satu ayat di Al-Baqarah, beliau menguatkan pernyataannya. Almarhum meninggal di usia sekitar 50 tahun, sedangkan rekan almarhum telah berumur 60 atau 70 an tahun. Maka, kematian bisa menghampiri siapa pun, tak peduli usia muda atau sudah tua, sakit atau sehat.

Sudah selayaknya, sebagai muslim sejati, kita mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal saleh. Menjalankan perintah-Nya dengan maksimal, menjauhi larangan-Nya sejauh-jauhnya. Semoga kita semua nanti ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.

© Muhammad Amin
#kematian #renungan #reminder #selfreminder #25082019 #bekal #jalankanperintah #jauhilarangan

Komentar