Tentang Kejadian dan Waktu

Dulu, dulu sekali, kita masih dihantui rasa canggung berlipat-lipat. Kala kita harus berkenalan satu sama lain. Ada rasa waswas, juga gembira. Rasanya keduanya berkelindan begitu saja di dalam diri.

Sejurus kemudian, kita disibukkan dengan mencatat pelajaran, mengerjakan tugas, membuat makalah, presentasi dan berbagai hal akademik lainnya. Di samping itu, kita juga diselingi berbagai agenda yang menambah kekompakan semacam lomba bahasa, lomba Agustusan, lomba keagamaan, dan lain-lain.

Lama kelamaan, kita semakin erat. Kekeluargaan semakin terbentuk dan nyata. Ketika rasa itu hadir, tak terasa telah setahun kita bersama. Artinya, tersisa waktu dua tahun untuk mengukir segala hal yang indah. Pertengakaran, perdebatan tak ayal terjadi. Tetapi, itu semua tidak berarti menjadikan kita kalah pada perasaan kecewa. Mengedepankan kebersamaan haruslah menjadi prioritas.

Kebersamaan yang hampir 24 jam itu menjadikan kita semakin erat dan hebat. Banyak kelas lain iri melihat kebersamaan kita. Semoga kita tak menjadi tinggi hati karenanya. Tetaplah merunduk meski semesta menyanjung ke tempat tertinggi.

Di Mahad, mayoritas kita menggerakkan roda organisasi. Dari yang awalnya anggota, beberapa dari kita kini menjadi koordinator bagian. Kita berikan contoh terbaik bagi generasi selanjutnya. Jangan sampai kita dicap hal-hal negatif oleh mereka.

Sampailah kita pada akhir perjalanan. Kesibukan belajar yang semakin intens dalam mempersiapkan ujian akhir tak bisa diganggu gugat. Kita mulai berkelompok sesuai peminatan masing-masing. Sesekali kita belajar bersama guru di sekolah di malam hari. Kita harus beegotong royong agar lulus dengan hasil maksimal.

Hari ujian tiba. Kita mengerjakan ujian dengan tenang. Menanti pengumuman dengan terus memanjatkan doa setelah ikhtiar maksimal selama beberapa bulan terakhir. Sampailah kita pada prosesi wisuda sebagai bagian akhir pertemuan di madrasah ini. Pengukuhan wisudawan menjadi momen penting dalam kehidupan kita masing-masing.
Beberapa tahun berjalan. Kita mulai menapaki kehidupan kampus dengan segala hiruk-pikuknya. Dunia akademik, non akademik, organisasi, pengabdian masyarakat, dan penelitian adalah hal-hal yang tak terhindarkan selama berada di kampus. Komunikasi kita paling banter hanya berakhir pada emoticon atau komentar di grup facebook yang kemudian beralih kepada grup whatsapp hingga hari ini.

Keramaian grup terjadi hanya ketika ada salah satu dari kita memasuki jenjang kehidupan baru, kehidupan rumah tangga. Undangan yang disebar di grup beroleh komentar 'baarakallah' adalah pemandangan standar. Selebihnya, sebagian kita akan menyempatkan hadir, meskipun tidak selalu semuanya bisa hadir. Sisanya hanya menitipkan uang kepada mereka yang hadir.
 
Ketika perjalanan setiap kita telah sampai pada titik rumah tangga, maka intensitas komunikasi tak akan sesering dahulu ketika masih menjadi siswa atau santri. Beberapa mungkin belum memaklumi, tapi cobalah berpikir jernih, segala hal punya waktu.
 
Pada akhirnya, fase pernikahan akan memasukkan kita pada problematika baru, lingkungan baru, yang bisa jadi memisahkan banyak hal dari kehidupan sebelum menikah. Pahamilah itu jauh sebelum memasuki tangga kehidupan bernama rumah tangga. Kompleksitas permasalahan, kedewasaan penyelesaian masalah mutlak menjadi kemampuan setiap kita.
 
Pada akhirnya, selamat menempuh hidup baru bagi kedua kawan selama masih belajar di masa yang kata orang 'masa paling indah'. Maaf belum bisa hadir secara jasadiah dalam momen bahagia kalian. Semoga sambungan doa ini tidak terputus hanya karena diri tidak hadir.
 
Baarakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir Akhi Fikri Syuhada dan Ukhti Wilda Nur Rahmah. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
© Muhammad Amin
#wedding #FikridanWilda #pernikahan #friendship #dreamcomestrue #truelovewithwedding #17082019 #latepost

Komentar