Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Sabtu, 28 September 2019

Berburu Ambisi Publik, Lupa Melihat Realita

Bila saya perhatikan, sekolah saat ini sedikit menyimpang dari tujuan sesungguhnya. Tujuan-tujuan membelajarkan sepertinya sudah mulai luntur. Hal ini seiring kebijakan yang semakin menekan peserta didik untuk mengikuti ambisi beberapa pihak yang memiliki posisi penting.
.
Nilai jual sekolah diperlombakan seolah-olah sekolah tertentu unggul di bidang satu dan sekolah lain unggul di bidang lain. Sesungguhnya persaingan dalam kebaikan sah dan baik-baik saja selama hal semacam itu berjalan alami dan tidak menjadi alat legitimasi sebagian orang yang ingin mengambil keuntungan.
.
Hegemoni inilah yang menjadi masalah yang harus dipecahkan. Beberapa sekolah mengejar prestasi tiada henti, berjuang siang malam demi penilaian publik dan menggaet siswa baru. Sekolah seolah tak otentik lagi. Standar-standar yang dibuat terkesan tak menggembirakan bagi semua civitas.
.
Saya jadi ingat bagaimana sekolah di Finlandia memiliki aturan-aturan yang begitu bagus agar tercipta keseimbangan dan harmoni antar civitas, pemegang kuasa sekolah, juga siapa pun yang berada di posisi-posisi penting di pemerintahan. Ada kesatuan visi, misi untuk meningkatkan prestasi tanpa mengesampingkan aspirasi dan sisi manusiawi.
.
Bila sekolah terus ditekan untuk mengalahkan sekolah lain, mana semangat sinergi? Saat ini kunci kesuksesan ada pada kerja sama yang baik dan saling mendukung satu sama lain. Peringkat memang perlu untuk memacu diri, tetapi jangan lupakan bahwa tujuan-tujuan pragmatis itu tak bertahan lama. Tujuan-tujuan filosofis harus dirumuskan sedemikian rupa agar masa depan pendidikan bangsa ini jauh melebihi zaman.
.
Ambisi yang terlalu tinggi terkadang tidak memperhatikan realita yang jauh sekali dari impian itu. Sebagai siswa misalnya, saya kira akan stres bila setiap hari dicekoki pemahaman bahwa kamu harus mencapai nilai sekian, kalau tidak sekolah ini akan jatuh nama baiknya.
.
Pemahaman semacam ini akan menekan siswa dan tidak membuat nyaman pembelajaran yang dilakukan. Proses edukasi sekadar transaksi nilai angka, tanpa nilai dalam diri. Edukasi sekadar transaksi jual beli ilmu dengan nilai dan ijazah yang nanti digunakan bekerja dan menghasilkan uang. Betapa rendahnya tujuan-tujuan pendidikan yang sesungguhnya mulia itu.
.
Lalu, apa sesungguhnya yang diinginkan? Siswa misalnya hanya ingin isi hati mereka dipahami dan didengar oleh guru, terlebih kepala sekolah. Jangan menyangka kalau siswa adalah objek yang tidak tahu dan harus selalu dijejali ilmu. Kepekaan sosial guru menjadi penting di sini.
.
Keinginan waka pun sederhana. Setiap usulnya didengarkan, kepala sekolah mudah ditemui dan tidak sok sibuk seolah tak ada waktu untuk pegawainya sendiri. Lantas, sesungguhnya kepala sekolah bekerja untuk siapa? Dirinya? Kementerian terkait? Atau yang lain-lain?
.
Kekecewaan yang hadir hari ini adalah bentuk akumulasi dari kekecewaan sepanjang sekian tahun yang mereka pendam. Mereka yang di atas merasa seolah semuanya baik-baik saja dan tak ada masalah. Nyatanya, ada fenomena gunung es di balik tenangnya lautan.
.
Semoga kesadaran segala pihak segera pulih agar keadaan tidak menjadi lebih buruk dari hari ini.
.
Dariku yang beberapa waktu lalu menjadi siswa dan saat ini telah menjadi guru.
.
© Muhammad Amin 28 September 2019 18:30

Jumat, 20 September 2019

Proses Itu Menyakitkan

Keras pada proses, bersabar pada hasil. Kira-kira begitulah kata-kata mutiara yang sering ditampilkan para pebisnis muda ketika membangun bisnisnya. Saya sendiri sangat sepakat tentang hal itu.

Beberapa hari lalu, saya menonton film The New King of Comedy. Seorang wanita berwajah tak begitu rupawan mengalami jatuh bangun dalam kariernya sebagai aktor. Ia awalnya berperan sebagai pemeran figuran, pengganti. Ketika pemeran utama mendapat perlakuan istimewa, ia diperlakukan tak ubahnya seperti budak atau pembantu.

Ayahnya, pada awal karier sang wanita menolak mentah-mentah rencana anaknya sebagai aktor. Lebih baik anak wanitanya menikah dengan lelaki kaya atau bekerja di bidang lainnya. Tetapi, sang anak tetap saja kukuh dengan keputusannya meskipun ia harus diusir dari rumah.

Ia menumpang di salah satu kawan laki-laki yang ia anggap akan menjadi pasangan hidupnya. Sayang sekali, wanita ini hanya dipermainkan dan diperas uangnya. Sang lelaki tak pernah benar-banr tulus membantu membangun karier sang aktor.

Beberapa saat, sang wanita beralih pekerjaan sebagai tukang antar makanan daring. Ia sempat bertemu beberapa kawan dan sutradara yang ia kira bisa membantu karier aktornya yang beberapa saat ini hilang. Nyatanya, cacian dan makianlah yang ia terima. Ia dilemahkan semangatnya.

Sampai suatu waktu ia bertemu dengan aktor favoritnya dan ia mendapat tugas menggoda sang aktor favorit. Sang aktor favorit karena sudah lama tak berkarier, ia sering lupa hapalan, semaunya sendiri, dan susah diatur. Sang aktor favorit sampai terkencing-kencing karena ulah sang aktor wanita tersebut.

Tetapi, sebab itulah sang aktor favorit menjadi perbincangan publik. Diundang ke stasiun televisi, diajak berfoto, dan sebagainya. Ia berterima kasih kepada sang aktor wanita yang telah membuatnya kembali berjaya. Ia menawarkan casting film bersama bintang aktor papan atas. Ia tak menyia-nyiakannya dan upayanya membuahkan hasil. Setahun kemudian, ia berhasil memperoleh penghargaan sebagai aktor terbaik.

Maka, ketika proses sedang menempamu, terima saja. Itu adalah ujian untuk bisa naik kelas. Jangan ditolak, apalagi lari darinya. Ingat bahwa sekian jengkal lagi, kesuksesan akan teraih.

© Muhammad Amin
Jumat, 20 September 2019 08:41

Senin, 16 September 2019

Kita, Satu, Cinta

Bertemu melalui kata
Bersatu pun melalui kata
Tak ada ruang bagi jeda
Yang ada hanya ruang untuk kita

Kala dua insan saling terikat
Janji suci nan keramat
Terlantun doa lamat-lamat
Semoga tercurah berkah dan rahmat

Sejak itu kita berjanji
Menyemai cinta tiada henti
Dalam kehidupan fana ini
Hingga bersatu di surga nanti

Happy 1st Anniversary @ulfaasyida
16 Sep 2018 - 16 Sep 2019

Selasa, 10 September 2019

Perbanyak Mendengarkan

Sering disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut supaya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Dalam hidup ini, kita sudah sepatutnya lebih sering mendengar daripada berbicara.

Maka, siang ini, seperti beberapa waktu lalu, saya kembali berbincang, lebih banyak mendengar salah seorang pegawai Mahad. Beliau sudah bekerja di Mahad sejak saya menjadi santri 10 tahun lalu, bahkan mungkin sebelum itu. Maka, tak ada salahnya mendengarkan banyak petuah yang tak akan didapat dari orang lain.

Beliau menyoroti persoalan air yang hampir setiap hari menjadi perbincangan hangat di kalangan pengasuh dan santri. Akar masalah sesungguhnya ada pada stok air di bawah tanah dan penggunaannya. Stok air di musim kemarau seperti saat ini tentu sedikit lebih sulit daripada ketika musim hujan. Jadi, harap maklum bila terkadang air tak selalu melimpah ruah sepanjang hari.

Masalah penggunaan menjadi tanggung jawab bersama. Penggunaan air harus hemat, baik oleh santri atau siapa pun yang menggunakan air. Seringnya air dibiarkan mengalir ketika tidak dipakai. Maka, sebanyak apa pun stok air, tentu akan cepat habis.

Selanjutnya perihal kebersihan. Kebersihan menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pekerjaan my darling, office boy madrasah atau pegawai mahad yang bertugas membersihkan. Setiap dua minggu, santri dikumpulkan di lapangan untuk mendapat pengarahan terkait kebersihan dan kesantrian. Sampah dimasukkan ke tong sampah dan kresek sampah setiap minggu. Betapa senangnya pegawai bila dibantu membersihkan lingkungan Mahad. Kebersihan pangkal sehat kan?

Selanjutnya perihal mengingatkan santri. Santri terkadang teledor dan melanggar aturan. Hal ini adalah hal yang lumrah. Tetapi, pengasuh punya peran mengingatkan dengan baik. Jangan ketika melanggar langsung dimarahi. Mereka akan sangat jengkel. Nasihati dengan pelan-pelan, seraya doakan, insyaAllah lambat laun mereka akan paham dengan sendirinya.

Problem selanjutnya adalah keteladanan. Santri tak hanya mau disuruh. Mereka mau ditemani. Sebab pada usia mereka, pengasuh berperan sebagai teman. Dengan memberi keteladanan, ditemani, tentu santri akan semakin gembira dan semangat dalam menjalankan aturan yang ada.

Beliau juga sering mendengar komentar negatif dari pegawai madrasah bahwa banyak santri yang melanggar. Beliau hanya mengingatkan bahwa kalau mereka salah ya wajar, diingatkan saja dengan proporsional.

Kritik dan saran dari beliau menurut ssya pribadi adalah dalam rangka kebaikan Mahad ke depan. Tak ada keinginan yang lain. Saya simpulkan bahwa solusi dari masalah yang ada sesungguhnya ada pada hal-hal yang sepele. Seperti penghematan air, saling mengingatkan, mengerjakan bersama-sama, saling membantu satu pihak dengan yang lain.

Selain hal di atas, kesadaran dan kepekaan membaca dan meneliti masalah. Jangan hanya melihat masalah dari sisi lahiriah, gali lebih mendalam apa sebab yanh menjadi akar masalahnya. Bila akar masalah itu selesai dan terus dikontrol, saya yakin segala masalah akan lebih mudah diatasi.

Begitu banyak hikmah dari mendengarkan orang-orang yang terkesan tak terlihat, padahal nyatanya kerja mereka begitu nyata. Jangan remehkan mereka, hargai meski hanya dengan mendengarkan keluh kesah mereka, hal semacam itu sudah sangat membuat mereka senang.

وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.
© Muhammad Amin
10092019 21:13 #koreksi #masalah #solusi #menasihati

Senin, 09 September 2019

Kesehatan Mental

Malam ini, (08/09) telah dilaksanakan seminar kesehatan mental oleh Bagian Kesehatan OSIMA Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang. Acara bertema kesehatan mental ini diisi oleh Dr. Iswinarti, M.Si, Psikolog, dosen fakultas Psikologi UMM.

Acara dimulai pukul 8. Diawali dengan bacaan ayat suci Alquran, menyanyikan mars Mahad Al Qalam, disusul dengan sambutan ketua panitia, Ghaly Ahmadtra dan ketua Mahad, Ustaz H. Ahmad Taufiq.

Ustaz Taufiq berpesan tentang pentingnya memperbanyak zikir yang mampu menenangkan jiwa. Hal ini termaktub jelas dalam Alquran. Alaa bizikrillahi tathmainnul quluub. Disebutkan pula hadis bahwa bila segumpal daging yang bernama hati baik, maka baiklah jasad secara keseluruhan, dan sebaliknya.

Dr. Iswinarti memulai pemaparan seminar dengan bertanya apa saja problem generasi milenial. Lantas tentang kecanduan gadget, game, dan sebagainya. Dijelaskan pula tentang apa itu revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang hangat diperbincangkan warganet.

Di akhir, beliau memaparkan bahwa kesehatan mental tak kalah pentingnya dari kesehatan fisik. Kesehatan mental mampu mempengaruhi kesehatan fisik, pun sebaliknya. Beliau juga menerangkan bagaimana menanggulangi stres yang banyak dialami orang masa kini.

Pada sesi tanya jawab, pertanyaan yang muncul aeputar apakah bila seseorang yang awalnya pernah berada pada satu kondisi depresi sebab lingkungan, kini ia telah pindah ke lingkungan yang lebih kondusif, apakah ia akan kembali terpapar depresi tatkala kembali ke lingkungan lamanya. Semua itu bisa saja terjadi, tergantung seberapa kuat pribadi kita mengendalikan diri, emosi dalam merespon lingkungan tersebut.

Pertanyaan kedua adalah apakah tertawa menjadi obat atau efek stres? Tertawa adalah bagian dari terapi stres. Stres hanya bisa direduksi melalui perasaan yang diluapkan. Kalau masalah berat, tidak cukup dengan tertawa, perlu konseling dan konsultasi dengan orang yang lebih dewasa.

Pertanyaan ketiga tentang teman yang menjadi saingan dalam berprestasi. Maka, bersainglah dalam hal positif. Yang penting tidak menyiksa diri kita dan tidak menimbulkan hal-hal negatif. Saling memotivasi sesama teman itu penting.

Pertanyaan keempat adalah bisakah dua watak bertentangan berkumpul dalam satu orang? Yang diturunkan itu temperamen. Karakter bisa dibangun karena ia dipengaruhi banyak oleh lingkungan (jujur, kreatif, tanggung jawab).

Pertanyaan kelima tentang apa itu mental baja? Mental baja adalah tahan banting, ia tidak mudah terpengaruh dan punya motivasi kuat. Apa hubungan antara kesehatan fisik dan mental? Orang yang punya banyak masalah, lama-lama stres, menyerang yang lemah di fisiknya, misal sakit lambung dll. Maka, disembuhkan fisik dan mentalnya. Ada yang kena sakit fisik lalu dipikirkan berlebihan. Biasanya penyakit akan bertambah parah.

Pertanyaan keenam tentang cara mempertahankan motivasi dan bangkit dari kegagalan adalah salah satunya melakukan sesuatu bersama-sama, dengan mentor, motivator, atau teman. Misal cara belajar yang termotivasi adalah dengan musik, dan lain-lain. Kegagalan bukan akhir segalanya, maka munculkan pikiran positif bahwa kegagalan adalah guru terbaik.

Pesan untuk kelas XII dalam hal menentukan kampus dan cita-cita masa depan, bahwa selalu sediakan alternatif lain dan jadilah fleksibel. Pilih yang tepat, sesuai minat dan bisa berhasil di sana. Dipertimbangkan keinginan, kemampuan, orang tua, biaya, dan sebagainya.

Melalui acara ini, semoga mental santriwan dan santriwati Mahad Al Qalam semakin sehat dari waktu ke waktu.

(Amin, red)
#seminarkesehatan #OSIMA #SEMKES2019 #08092019 #latepost #Mahad #santrisehatmental #MahadAlQalam #MAN2KotaMalang

Sabtu, 07 September 2019

Terus Merajut Cinta

Tepat dua hari lalu, Kamis, 6 Muharram 1441 H, saya telah menjalani pernikahan selama setahun, versi kalender hijriyah. Telah banyak lika-liku kehidupan yang dialami dari hari ke hari. Kini tiba saatnya mengevaluasi dan merencanakan kembali apa yang akan diperbuat untuk hari esok.

Menjalani biduk rumah tangga adalah sebuah upaya untuk terus merajut cinta sepanjang waktu. Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah terlama sebab dijalani seseorang sepanjang hidup hingga ajal menjemput. Maka, tentu saja bekal dalam menjalani pernikahan harus cukup, kalau bisa lebih. Pernikahan tentu tak hanya dihiasi hal-hal yang berjalan sesuai rencana awal, terkadang ada onak dan duri di tengah jalan yang harus disikapi secara positif dan dewasa agar cinta terus tumbuh subur di dalam jiwa.

Mari bersama menilik kembali apa-apa yang belum tercapai dalam berumah tangga, terutama target-target ukhrowi yang seharusnya menjadi fokus utama dibandingkan hal lain. Jangan sampai target ukhrowi terkalahkan oleh target keduniaan yang semu dan fana. Seimbanglah dalam mengusahakan keduanya. Berikan porsi yang cukup untuk keduanya agar tak berat sebelah.

Lantas, rencanakan ulang apa yang akan dilaksanakan selama setahun mendatang. Bila perlu direncanakan juga untuk tahun-tahun berikutnya. Tulislah dalam buku agenda rumah tangga. Pastikan setiap anggota keluarga saling mengingatkan dalam mrnggapai cita-cita tersebut.

Bila terjadi masalah, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Ajak duduk bersama dengan kepala dingin, cari waktu yang tepat untuk berdiskusi. Bersamalah tak hanya dalam menikmati anugerah, tetapi juga dalam bersabar dalam cobaan yang menimpa. Saya yakin, dengan kebersamaan tersebut, kuncup-kuncup cinta akan semakin mekar dan berbunga dengan begitu indahnya.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk terus menjaga pernikahan ini sampai akhir hayat. Mari terus menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

© Muhammad Amin
7 September 2019 07:33

#selfreminder #pernikahan #UALoveJourney #6Muharram1440H #6Muharram1441H #annual #nasihat #islam #latepost

Rabu, 04 September 2019

Saat Gagal Menyapamu (Lagi)

Siapa sih yang gak pernah merasakan kegagalan dalam hidup? Saya rasa seluruh manusia pernah mengalaminya. Entah kegagalan tersebut dalam hal akademik, cinta, cita-cita, dan kegagalan-kegagalan lainnya. Lalu, apa ada yang salah dengan kegagalan?

Kegagalan dalam hidup mengajarkan banyak makna bagi diri kita. Ia menjadi pembelajaran berharga bahwa dalam menggapai satu hal selalu ada yang tidak mencapainya. Alasannya beragam. Mulai kurang persiapan, macet di tengah jalan, terlalu sombong ketika sudah mendekati garis akhir, atau mungkin karena salah tujuan. Semuanya sah untuk kita jadikan alasan dari kegagalan yang menimpa diri.

Kalau kata motivator, bagi kamu yang gagal, ayo move on, jangan terperangkap jebakan kegagalan yang membuatmu tak mau bangkit dan berusaha lagi. Pada sisi lain, ada yang berpendapat bahwa berpikir terlalu positif terhadap suatu kegagalan adalah sebuah kesalahan. Terima saja kegagalan itu sebagai bagian dari perjuangan.

Menurut saya pribadi, kedua teori itu ada benarnya. Jadi, kita ambil saja jalan tengah. Ketika kegagalan terjadi, mari menerimanya sebagai bagian dari proses panjang kehidupan. Tak ada sukses tiba-tiba. Semua membutuhkan jatuh bangun berkali-kali. Para peneliti dan penemu saja sekian kali mencoba dan pada akhirnya baru sampai pada impian. Masak, kita yang baru diberi jatah kegagalan satu kali sudah menyerah pada keadaan.

Di sisi lain, mari mengevaluasi diri. Barang kali ada yang lewat dari pengawasan kita terkait persiapan dan pelaksanaan apa yang sudah direncanakan. Bisa juga kita masih kurang sabar proses, tetapi hanya ingin segera melihat hasil instan. Kata motivator sih, keraslah pada proses dan bersabarlah pada hasil.

Dari penjelasan di atas, maka tak perlulah merasa galau dan cemas yang berlebihan dalam menyikapi sebuah kegagalan. Selagi masih ada kesempatan, selalu ada jalan menuju impian yang kita inginkan. Lanjutkan segala usaha, sertai usaha dengan doa, lantas bertawakalah kepada Yang Maha Kuasa. Semoga segala cita benar-benar menjadi realita, tak hanya harapan semu belaka.

© Muhammad Amin
3 September 2019

Kuncinya Adalah Kebersamaan

Beberapa waktu terakhir, saya mengikuti akun dari salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Kebetulan, beberapa minggu sebelumnya, saya berkesempatan mengikuti tes seleksi dosen di kampus tersebut. Saya memperhatikan beberapa posting yang dimiliki akun kampus tersebut. Saya menemukan satu pola yang sangat bagus untuk pengembangan layanan kampus.

Dari akun utama yang saya ikuti, kemudian saya tahu bahwa setiap fakultas, unit layanan, sampai markas komando satpam memiliki akun instagram. Bagi saya, hal ini unik dan baru menemukan untuk pertama kalinya. Biasanya, kampus hanya punya satu akun utama dan akun fakultas.

Yang lebih membuat saya takjub adalah ketika kampus mengadakan lomba 17 Agustus, tampak kekompakan dan kebersamaan tercipta. Salah satu lomba, yaitu #DietSampahPlastik begitu mengena bagi saya pribadi. Lomba video pendek tersebut melibatkan seluruh civitas akademika kampus. Mulai dari fakultas, unit layanan, sampai berbagai fasilitas pendukung juga turut berpartisipasi.

Terlepas dari diwajibkan atau tidaknya lomba tersebut untuk diikuti oleh civitas akademika, saya ingin fokus pada betapa bahagianya civitas akademika melihat apa yang telah mereka kerjakan sejauh ini. Mahasiswa menjadi sangat terbantu melalui akun-akun tersebut. Informasi penting seputar kampus tentu lebih cepat sampai kepada seluruh warga kampus.

Selain itu, layanan seperti whatsapp pengaduan di tiap fakultas, badan administrasi akademik, badan administrasi umum, dan lain sebagainya semakin meneguhkan sikap kampus yang mengutamakan pelayanan prima. Saya kira hal inilah yang patut dicontoh oleh kampus lainnya.

Ide yang segar dari para pimpinan universitas misalnya, harus cepat disosialisasikan, baik secara luring maupun daring kepada warga kampus. Jangan sampai ada salah paham yang nantinya menimbulkan masalah pelik di belakang hari. Dari tulisan ini, saya mengajak kepada seluruh warga kampus lain untuk meningkatkan layanan, mutu, serta hal-hal substantif lainnya agar semua kampus di negeri ini semakin layak menjadi tempat menimba ilmu bagi seluruh warga negeri.

© Muhammad Amin
4 September 2019 12:46

Back to top