Berburu Ambisi Publik, Lupa Melihat Realita

Bila saya perhatikan, sekolah saat ini sedikit menyimpang dari tujuan sesungguhnya. Tujuan-tujuan membelajarkan sepertinya sudah mulai luntur. Hal ini seiring kebijakan yang semakin menekan peserta didik untuk mengikuti ambisi beberapa pihak yang memiliki posisi penting.
.
Nilai jual sekolah diperlombakan seolah-olah sekolah tertentu unggul di bidang satu dan sekolah lain unggul di bidang lain. Sesungguhnya persaingan dalam kebaikan sah dan baik-baik saja selama hal semacam itu berjalan alami dan tidak menjadi alat legitimasi sebagian orang yang ingin mengambil keuntungan.
.
Hegemoni inilah yang menjadi masalah yang harus dipecahkan. Beberapa sekolah mengejar prestasi tiada henti, berjuang siang malam demi penilaian publik dan menggaet siswa baru. Sekolah seolah tak otentik lagi. Standar-standar yang dibuat terkesan tak menggembirakan bagi semua civitas.
.
Saya jadi ingat bagaimana sekolah di Finlandia memiliki aturan-aturan yang begitu bagus agar tercipta keseimbangan dan harmoni antar civitas, pemegang kuasa sekolah, juga siapa pun yang berada di posisi-posisi penting di pemerintahan. Ada kesatuan visi, misi untuk meningkatkan prestasi tanpa mengesampingkan aspirasi dan sisi manusiawi.
.
Bila sekolah terus ditekan untuk mengalahkan sekolah lain, mana semangat sinergi? Saat ini kunci kesuksesan ada pada kerja sama yang baik dan saling mendukung satu sama lain. Peringkat memang perlu untuk memacu diri, tetapi jangan lupakan bahwa tujuan-tujuan pragmatis itu tak bertahan lama. Tujuan-tujuan filosofis harus dirumuskan sedemikian rupa agar masa depan pendidikan bangsa ini jauh melebihi zaman.
.
Ambisi yang terlalu tinggi terkadang tidak memperhatikan realita yang jauh sekali dari impian itu. Sebagai siswa misalnya, saya kira akan stres bila setiap hari dicekoki pemahaman bahwa kamu harus mencapai nilai sekian, kalau tidak sekolah ini akan jatuh nama baiknya.
.
Pemahaman semacam ini akan menekan siswa dan tidak membuat nyaman pembelajaran yang dilakukan. Proses edukasi sekadar transaksi nilai angka, tanpa nilai dalam diri. Edukasi sekadar transaksi jual beli ilmu dengan nilai dan ijazah yang nanti digunakan bekerja dan menghasilkan uang. Betapa rendahnya tujuan-tujuan pendidikan yang sesungguhnya mulia itu.
.
Lalu, apa sesungguhnya yang diinginkan? Siswa misalnya hanya ingin isi hati mereka dipahami dan didengar oleh guru, terlebih kepala sekolah. Jangan menyangka kalau siswa adalah objek yang tidak tahu dan harus selalu dijejali ilmu. Kepekaan sosial guru menjadi penting di sini.
.
Keinginan waka pun sederhana. Setiap usulnya didengarkan, kepala sekolah mudah ditemui dan tidak sok sibuk seolah tak ada waktu untuk pegawainya sendiri. Lantas, sesungguhnya kepala sekolah bekerja untuk siapa? Dirinya? Kementerian terkait? Atau yang lain-lain?
.
Kekecewaan yang hadir hari ini adalah bentuk akumulasi dari kekecewaan sepanjang sekian tahun yang mereka pendam. Mereka yang di atas merasa seolah semuanya baik-baik saja dan tak ada masalah. Nyatanya, ada fenomena gunung es di balik tenangnya lautan.
.
Semoga kesadaran segala pihak segera pulih agar keadaan tidak menjadi lebih buruk dari hari ini.
.
Dariku yang beberapa waktu lalu menjadi siswa dan saat ini telah menjadi guru.
.
© Muhammad Amin 28 September 2019 18:30

Komentar