Saat Gagal Menyapamu (Lagi)

Siapa sih yang gak pernah merasakan kegagalan dalam hidup? Saya rasa seluruh manusia pernah mengalaminya. Entah kegagalan tersebut dalam hal akademik, cinta, cita-cita, dan kegagalan-kegagalan lainnya. Lalu, apa ada yang salah dengan kegagalan?

Kegagalan dalam hidup mengajarkan banyak makna bagi diri kita. Ia menjadi pembelajaran berharga bahwa dalam menggapai satu hal selalu ada yang tidak mencapainya. Alasannya beragam. Mulai kurang persiapan, macet di tengah jalan, terlalu sombong ketika sudah mendekati garis akhir, atau mungkin karena salah tujuan. Semuanya sah untuk kita jadikan alasan dari kegagalan yang menimpa diri.

Kalau kata motivator, bagi kamu yang gagal, ayo move on, jangan terperangkap jebakan kegagalan yang membuatmu tak mau bangkit dan berusaha lagi. Pada sisi lain, ada yang berpendapat bahwa berpikir terlalu positif terhadap suatu kegagalan adalah sebuah kesalahan. Terima saja kegagalan itu sebagai bagian dari perjuangan.

Menurut saya pribadi, kedua teori itu ada benarnya. Jadi, kita ambil saja jalan tengah. Ketika kegagalan terjadi, mari menerimanya sebagai bagian dari proses panjang kehidupan. Tak ada sukses tiba-tiba. Semua membutuhkan jatuh bangun berkali-kali. Para peneliti dan penemu saja sekian kali mencoba dan pada akhirnya baru sampai pada impian. Masak, kita yang baru diberi jatah kegagalan satu kali sudah menyerah pada keadaan.

Di sisi lain, mari mengevaluasi diri. Barang kali ada yang lewat dari pengawasan kita terkait persiapan dan pelaksanaan apa yang sudah direncanakan. Bisa juga kita masih kurang sabar proses, tetapi hanya ingin segera melihat hasil instan. Kata motivator sih, keraslah pada proses dan bersabarlah pada hasil.

Dari penjelasan di atas, maka tak perlulah merasa galau dan cemas yang berlebihan dalam menyikapi sebuah kegagalan. Selagi masih ada kesempatan, selalu ada jalan menuju impian yang kita inginkan. Lanjutkan segala usaha, sertai usaha dengan doa, lantas bertawakalah kepada Yang Maha Kuasa. Semoga segala cita benar-benar menjadi realita, tak hanya harapan semu belaka.

© Muhammad Amin
3 September 2019

Komentar