Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Selasa, 29 Oktober 2019

Setelah Kemarau

Sore ini begitu membahagiakan. Suasana sejuk kembali menyelimuti kota Malang. Sudah beberapa kurun Malang terasa kering kerontang tak tersentuh air langit. Ketika kucium bau tanah yang bercampur air hujan menguar, kutengok melalui jendela. Aku keluar kamar dan memastika bahwa hujan memang benar-benar sudah turun.

Senja ini langit mendung berselimut awan hitam. Memang masih belum menghitam sepenuhnya, tetapi setidaknya titik-titik airnya sudah rela jatuh menyapa bumi. Sedari pagi, cuaca tidak sepanas biasanya dan alhamdulillah senja ini menyambut malam dengan gerimis syahdu.

Bila hujan turun, kukira petani pasti bahagia. Tanaman yang kering kini basah dan akan kembali menghijau. Bagi mereka yang berkutat di jalanan, hujan mungkin menghentikan langkah mereka sejenak. Menepi, meneguk secangkir kopi, ditemani sajak-sajak indah tentang perindu rinai atau tentang jatuh hati.

Bila hujan turun, murid sekolah berebut keluar kelas, menuju lapangan, bermain bola sambil bermesraan dengan hujan. Bagi seorang perindu, hujan akan menghasilkan larik-larik puisi dan sajak untuk sang kekasih. Berharap hujan terus menemani, membasuh kerinduan dalam hati, dan mungkin turut mengobati luka di masa lalu.

Begitulah anugerahnya kepada seluruh makhluk. Semua bergembira dengan kehadirannya. Meskipun tentu saja ada yang terus menghardik dan memakinya. Hardiknya pada hujan tak akan menghentikan rintik yang turun. Daripada menghardiknya tiada henti, lebih baik syukuri dan renungi makna di balik turunnya hujan. Sebab dalam segala hal selalu terkandung makna terdalam yang hanya mampu ditangkap oleh mereka yang mendapat gelar ulul albab.

#catatanhujan #catatansore #29102019 

Minggu, 13 Oktober 2019

Mencari Ketenangan di Tengah Keriuhan

Kita hidup pada zaman di mana kecepatan menguasai segala hal. Mulai dari informasi, pekerjaan, perjalanan, semua serba cepat. Rasa-rasanya cukup sulit menemukan setitik kedamaian di tengah hiruk-pikuk zaman ini. Mungkinkah ini pertanda akhir zaman? Mungkinkah ini tanda bahwa dunia semakin tua dan kelebihan beban menahan hasil olah pikir manusia yang hanya menguntungkan mereka belaka?

Jawabannya serba mungkin. Mungkin iya, mungkin tidak. Iya bagi mereka yang diperbudak dunia. Iya bagi mereka yang terus-nenerus mengejar kecanggihan teknologi yang tiada habisnya. Tetapi tidak bagi mereka yang mampu mengerem keinginan duniawi yang sesaat demi kenikmatan abadi di akhirat. Tidak bagi mereka yang tahu esensi hidup, dari mana ia hidup, untuk apa ia hidup, dan ke mana dia setelah hidup di dunia ini.

Bila dunia semakin cepat adalah keniscayaan, maka mencari keheningan, ketenangan adalah kebutuhan yang bisa jadi menjadi kebutuhan pokok hari-hari ini. Baru saja saya membaca satu posting instagram bahwa dengan membaca Alquran secara tartil dapat melancarkan kehidupan. Selain itu, dapat pula melambatkan kecepatan berbicara, mengatur pernapasan, mengatur harmoni dalam hidup. Betapa indahnya hal semacam itu.

Keamanan dan kebahagiaan adalah dua komponen batin yang terus menerus kita cari setiap hari. Ada yang bilang kalau kebahagiaan didapat melalui piknik. Bisa jadi benar, tetapi coba cek lagi, bukankah ketenangan batin didapat melalui ibadah, membaca kitab suci, mendengar kajian keislaman dan semacamnya? Bukan sebab pelesir ke tempat yang jauh dari keriuhan.

Maka, ingatlah firman Allah, ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ketenangan hati akan berdampak pada ketenangan jasmani. Ketenangan tersebut terus menyebar ke dalam segala sendi kehidupan. Maka kenyamanan akan tercipta sedemikian rupa.

Ahad, 13 Oktober 2019 20:18

Jumat, 11 Oktober 2019

Disrupsi (1)

Beberapa waktu, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku Disruption karya Rhenald Kasali. Ulasannya begitu detail disertai teori dan contoh mutakhir tentang disrupsi. Lalu, apa yang dimaksud dengan disrupsi?

Dari hasil bacaan saya, disrupsi terbagi ke dalam dua kata, yaitu distraktif dan inovasi kreatif. Intinya adalah kehadiran model bisnis saat ini mengguncang kenyamanan para pemain lama (inkamben). Pemain lama terlanjur senang dengan ekonomi kepemilikan yang jauh berbeda dengan konsep ekonomi berbagi para milenial.

Inkamben menganggap bahwa untuk memulai usaha dibutuhkan dana besar, SDM dalam satu lingkup, sarana prasarana yang dimiliki secara lengkap. Menurut milenial hal ini membuat banyak aset menganggur bila tidak dipakai. Bagi milenial, mereka hanya perlu menghubungkan para pemilik modal, barang, dan konsumen. Dengan begitu, semua aset terpakai dan tak ada yang terbengkalai.

Maka, pemenangnya bisa dibaca. Inkamben yang mau berbenah dan paham perubahanlah yang jauh lebih mampu mengimbangi hadirnya disruptor ala milenial ini. Misalnya Telkom yang awalnya bergerak di telepon kabel, diberi kewenangan pemerintah untuk mengembangkan bisnis sesuai zaman, yaitu jaringan nirkabel telkomsel. Terbukti, telkom selamat dari gencaran disruptor.

Berbeda halnya dengan perusahaan transportasi yang terdisrupsi aplikasi seperti uber, grab, atau gojek. Mereka meminta kesamaan dalam hal aturan kepada pemerintah. Hal ini tentu tidak mudah. Peran pemerintah diperlukan di sini. Pemerintah harus paham tentang konsep disrupsi agar aturan yang dibuat sejalan dengan apa yang diinginkan baik oleh inkamben maupun pendatang baru.

#ulasanbuku #Disruption #RhenaldKasali #11102019

Kamis, 03 Oktober 2019

Perhatikan Tertib Administrasi

Beberapa hari lalu, saya dibuat kaget ketika ketua OSIMA Putri berkata bahwa realisasi anggaran dana LPJ OSIMA minus. Lha, kok bisa? Ternyata kekhawatiran saya terjadi. Saya merasa ada yang tidak beres dengan proses realisasi dana yang saya berikan kepada pengguna anggaran.

Beberapa saat lalu, bagian konsumsi meminta uang sekian ratus ribu kepada saya untuk membeli konsumsi. Dia meminta uang lagi beberapa hari kemudian. Saya kira jumlahnya cukup besar dan saya khawatir bagian putri kekurangan. Kemudian bendahara panitia berkata bahwa ia butuh uang sekian ratus ribu dan saya beri tahu bahwa sisa uang di saya tidak sampai segitu. Berarti mestinya ada sisa uang yang sedang dipegang oleh panitia lainnya.

Saya pun meminta bendahara untuk meminta nota dan sisa uang dari bendahara. Sisa uang konsumsi LPJ OSIMA Putri saya berikan kepada ketua OSIMA Putri untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Beruntung LPJ OSIMA Putri hanya dua hari, berbeda dengan putra yang sampai tiga hari.

Setelah dikorescek ternyata ada sisa dan saya kira cukup untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Setelah LPJ usai, ketua OSIMA Putri menyatakan bahwa uang yang dipegang tidak cukup untuk kebutuhan selama LPJ. Saya katakan bahwa coba bendahara kroscek lagi, saya akan berikan sisa uang yang ada di saya dan bila masih kurang berarti harus ditanggung oleh santri yang menggunakan. Hal ini supaya mereka belajar tanggung jawab dalam memanfaatkan uang dengan sebaik-baiknya.

Maka, di sinilah pentingnya siapa pun dalam organisasi harus paham alur pengajuan, penggunaan, sampai pelaporan dana. Jangan main serobot birokrasi yang sulit. Saya sendiri tidak menyulitkan, tetapi hanya mengingatkan bahwa memang dalam organisasi ada aturan dalam hal keuangan yang harus diikuti dan jangan dilanggar. Semoga kejadian semacam ini tidak terjadi pada masa mendatang. © Muhammad Amin
Kamis, 3 Oktober 2019 20:08
Back to top