Setelah Kemarau

Sore ini begitu membahagiakan. Suasana sejuk kembali menyelimuti kota Malang. Sudah beberapa kurun Malang terasa kering kerontang tak tersentuh air langit. Ketika kucium bau tanah yang bercampur air hujan menguar, kutengok melalui jendela. Aku keluar kamar dan memastika bahwa hujan memang benar-benar sudah turun.

Senja ini langit mendung berselimut awan hitam. Memang masih belum menghitam sepenuhnya, tetapi setidaknya titik-titik airnya sudah rela jatuh menyapa bumi. Sedari pagi, cuaca tidak sepanas biasanya dan alhamdulillah senja ini menyambut malam dengan gerimis syahdu.

Bila hujan turun, kukira petani pasti bahagia. Tanaman yang kering kini basah dan akan kembali menghijau. Bagi mereka yang berkutat di jalanan, hujan mungkin menghentikan langkah mereka sejenak. Menepi, meneguk secangkir kopi, ditemani sajak-sajak indah tentang perindu rinai atau tentang jatuh hati.

Bila hujan turun, murid sekolah berebut keluar kelas, menuju lapangan, bermain bola sambil bermesraan dengan hujan. Bagi seorang perindu, hujan akan menghasilkan larik-larik puisi dan sajak untuk sang kekasih. Berharap hujan terus menemani, membasuh kerinduan dalam hati, dan mungkin turut mengobati luka di masa lalu.

Begitulah anugerahnya kepada seluruh makhluk. Semua bergembira dengan kehadirannya. Meskipun tentu saja ada yang terus menghardik dan memakinya. Hardiknya pada hujan tak akan menghentikan rintik yang turun. Daripada menghardiknya tiada henti, lebih baik syukuri dan renungi makna di balik turunnya hujan. Sebab dalam segala hal selalu terkandung makna terdalam yang hanya mampu ditangkap oleh mereka yang mendapat gelar ulul albab.

#catatanhujan #catatansore #29102019 

Komentar