Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Selasa, 26 November 2019

Refleksi Hari Guru

akatnya orang yang punya ilmu adalah mengajar. Begitulah kira-kira petuah yang sering disampaikan para guru. Bagi saya hal ini menarik. Tentu petuah semacam ini mengandung hikmah yang besar.

Coba kita bayangkan, apa yang terjadi manakala orang yang berilmu begitu pelit berbagi ilmu? Tentu akan sedikit sekali orang yang paham akan kehidupan ini. Orang semakin susah menyelesaikan berbagai problematika hidup. Maka, beruntunglah kita dikaruniai guru-guru yang ikhlas membagikan ilmunya.

Mengapa membagikan ilmu? Sebab ilmu bila dibagi tidak semakin berkurang, malah bertambah. Berbeda dengan barang. Lima buah dibagikan kepada lima orang tentu tak tersisa sama sekali. Ilmu semakin dibagi akan semakin luas pengaruhnya. Pemiliknya pun akan semakin paham tentang ilmu yang disampaikannya kepada murid. Bahkan dalam kitab Taklim Al Mutaallim dijelaskan hendaknya kita sebagai murid mau menyimak penjelasan guru meskipun disampaikan sebanyak seribu kali. MasyaAllah.

Berbicara guru zaman sekarang memang berbeda dengan guru zaman dahulu. Dahulu guru masih belum disibukkan dengan tugas sertifikasi, seminar dengan berbagai tema, pengisian data rapot, data siswa, dan lain-lain. Saat ini semua hal yang disebutkan harus dilakukan demi kesejahteraan guru yang lebih baik. Maka, di sinilah peran pemerintah dalam hal menyejahterakan guru begitu dibutuhkan.

Saya menyoroti guru-guru yang mau tinggal jauh dari keluarganya demi mengajar di daerah tertinggal, bahkan tanpa dibayar. Mereka mengandalkan hasil panen kebun samping rumah untuk makan sehari-hari. Mereka rela melewati medan yang tidak mudah dan harus berjalan begitu jauh untuk sampai di sekolah. Belum lagi masalah fasilitas yang jauh dari kata layak untuk bisa digunakan untuk belajar.

Maka, tepat sekali pidato yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi bahwa belenggu yang selama ini dirasakan oleh guru dan siswa harusnya perlahan dilepaskan. Peraturan yang begitu ribet dan ruwet harus semakin disederhanakan. Pelajaran luar kelas, kepemimpinan, kemampuan berkarya harus mendapat tempat utama bagi murid untuk mendapatkannya. Ceriakan hari-hari mereka dengan permainan atau hal lain yang berbeda dari biasanya.

Ajakan untuk melakukan suatu perubahan kecil di hari guru merupakan langkah awal. Perubahan adalah keniscayaan. Perubahan harus dimulai bersama, meskipun dari hal yang kecil. Dari sana perlahan perubahan yang lebih besar diharapkan akan menyusul di kemudian hari.

Di era yang semakin dimanjakan dengan teknologi, peran guru begitu penting. Tugas mulia dan berat ditanggung olehnya. Semua harus berawal dan berakhir pada guru. Begitu pesan Bapak Menteri Pendidikan.

Lalu perihal kesejahteraan para guru. Saya beruntung pernah tinggal sebulan di Thailand. Negara tetangga yang satu ini begitu menjunjung tinggi pendidikan dan kesehatan. Anggarannya besar. Apalagi bicara masalah gaji guru dan dokter yang menempati prioritas tertinggi di sana. Saya kira Indonesia perlu mencontoh hal semacam ini.

Bila guru semakin sejahtera, ia akan fokus kepada mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi cita-cita besar dan termaktub di dalam teks undang-undang dasar negara republik Indonesia tahun 1945. Ia tak lagi disibukkan masalah mencari penghasilan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal mendidik para murid.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mengajarkan banyak hal dalam kehidupan. Entah guru yang ditemui di dalam kelas maupun guru di luar kelas yang tak terhingga jumlahnya. Salam takzim dari murid yang sedang belajar menjadi sosok berguna bagi diri, agama, dan bangsanya sebagai seorang pendidik.

Selamat Hari Guru Nasional.

© Muhammad Amin
#26112019 #HGN #Indonesia #guru #ilmu #murid #renungan #selfreminder #refleksi 

Sabtu, 16 November 2019

Pergerakan dan Cinta

Judul : Canai
Penulis : Panji Sukma
Penerbit : UNSApress
Peresensi : Muhammad Amin
Tahun terbit : Mei 2019
Jumlah halaman : x + 173

Bagaimana bila cinta dua anak manusia bermula dari sebuah pergerakan mahasiswa? Itulah yang diceritakan oleh buku ini. Penulis mengajak pembaca terjun ke dalam arena demonstrasi 1980 an. Masa di mana militer begitu berjaya. Rakyat tertindas mengobarkan semangat mahasiswa.

Penggambaran demonstrasi, keterlibatan militer, orang dalam untuk membebaskan tahanan, kehadiran adik kandung Bara dari lain ibu membuat cerita semakin apik menuju akhir.

Cerita dituliskan dengan mengambil seting waktu tertentu, 1984, 1988, dan 2014. Cerita yang meloncat-loncat dari tahun yang satu ke tahun lainnya membutuhkan kejelian pembaca dalam merangkai cerita menjadi satu kisah yang runtut.

Kisah cinta memang terkesan dominan di sini, tetapi pergulatan pemikiran seorang aktivis juga tampak di novel ini. Seperti ketika demonstrasi, mengerahkan masa, menghadapi aparat, dipenjara. Meskipun sisi aktivis dijelaskan kurang detail.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini menginspirasi pembacanya untuk kritis terhadap pemerintah. Di samping itu, adanya bumbu kisah romantisme cinta selalu menghadirkan wajah lain dari sisi aktivis itu sendiri. Aktivis dan cinta berkelindan sedemikian rupa.

Jadi, bagi kamu yang mengaku aktivis dan barang kali sedang dilanda virus merah jambu, cobalah membaca buku ini. Siapa tahu ada solusi jitu menghadapi permasalahan keduanya yang memang rumit bin jlimet.
#reviewbukuAmin
#resensi
#16112019 #day320 of #365

Rabu, 06 November 2019

Masa(lah)

Masa adalah waktu. Pada setiap masa akan selalu ada masalah. Keduanya berkelindan, berteman.

Masa dahulu bergelut dengan masalah bagaimana mencari makan dan bertahan hidup.

Beberapa masa setelahnya punya masalah tentang penguasaan lahan.

Masa-masa berikutnya punya masalah tentang pertemanan, keluarga, juga percintaan.

Maknailah setiap masalah di setiap masa. Sebab tiap masa punya masalahnya sendiri. Bisa jadi masalah itu menjadi pembelajaran untuk masa selanjutnya. Agar tak terulang kembali masalah yang sama pada masa-masa selanjutnya.

Masalah di setiap masa melahirkan orang-orang hebat yang mampu menyelesaikannya dengan baik. Jadi, mau jadi orang hebat atau orang yang biasa saja? Sebab jejakmu di tiap masa dilihat dari bagaimana caramu menyelesaikan masalah di dalamnya.

#bermainkata #menguraimakna #menyibakrealita #06112019
Malang, 6 November 2019 22.36
Back to top