Kamis, 12 Maret 2020

Hasil Diskusi Malang Kota Sumuk di @ngalambookfest

Pemateri : ASROFI dari FRONT NAHDIYIN untuk KEDAULATAN SUMBER DAYA ALAM dan Mas Rosyid dari KADER HIJAU MUHAMMADIYAH
Sebab?
Bagaimana Malang Kota Sumuk? 
Malang Kota Sumuk adalah tren akhir 2019. Banyak media memberitakannya.
Faktor mayor : urban hits island. Anomali perbedaan suhu yang meningkat di perkotaan dan berbeda dengan daerah di sekitarnya. Sebab : pembangunan perkotaan yang diawali dengan pembersihan lahan, pohon ditebang, akhirnya suhu panas.
Banyak migrasi mahasiswa ke Malang. Banyak kos kosan. Lahan bervegetasi berubah jadi bangunan. Diperparah dengan arsitektur dan tata kota yang buruk. Pemerintah tidak partisipatif dari masyarakat. Yang diundang investor yang orientasi profit.
UU no. 6 tahun 2007 menyatakan bahwa 20 persen lahan perkotaan harus menjadi ruang kota hijau. Bahkan sebaiknya 30 persen. Ruang terbuka hijau artinya pohon, bukan taman dan semak. Misal hutan kota Malabar akan dijadikan taman. Sekitarnya ada perumahan.
Ir. Thomas H. Krasten adalah insinyur Hindia Belanda yang membuat plan kota Malang.
Contoh : Matos sebelumnya hutan kota. Apartemen dekat jembatan Suhat yang semestinya adalah ruang terbuka hijau. Pembangunan RS UB. Awalnya perumahan dengan ruang terbuka hijau. Lemah Tanjung menjadi Ijen Nirwana yang awalnya adalah sekolah pertanian. Permata Jingga juga mengurangi ruang terbuka hijau.
Urban hit dome adalah panas terjebak di kota, bahaya untuk yang asma, dst.
Solusinya adalah arsitektur gedung yang ada ruang terbuka hijau. Inilah efek OMNIBUS LAW yang menyebabkan lingkungan rusak. Faktor rusaknya kota adalah ketika pemerintah tidak memperhatikan lingkungan.
Mas Rosyid (KHM)
9 AMBANG BATAS BUMI YANG KALAU DILANGGAR > KIAMAT EKOLOGIS
Salah satu 9 ambang batas bumi tersebut adalah pengalihan fungsi lahan. 12 persen bumi seharusnya lahan kosong.
Manusia berkeliaran di bumi selama 60 juta tahun. Baru 6.000 tahun membentuk kota. 60 tahun manusia membludak di kota. Mengapa?
Kota punya dua pilihan : dikelola ketat atau longgar.
Singapura memilih jalan pengelolaan ketat. Segala hal yang berkaitan dengan sampah, listrik dll diatur sedemikian rupa.
Masyarakat diberi standar keamanan tinggi, tetapi kebebasan masyarakat diambil. Penukaran negara dengan masyarakatnya.
Jerman : aturan warna keramik, dsb. Jerman tidak punya lahan kosong. Berbeda dengan LA.
Indonesia bagaimana? Apa pun pilihan kita dalam mengelola kota selalu berdampak pada lingkungan. Tren apa yang dikejar? Pertumbuhan.
Pertumbuhan adalah kondisi di mana segala sesuatu berlipat ganda. Yang bertumbuh yang menunjukkan kita semakin sejahtera. Seperti industri, sarana prasarana (rumah, jalan raya), produk (gawai, sepatu, sandal). Mengganda karena kita butuh konsumsi. Ada semacam lingkaran setan. Mesin pertumbuhan ekonomi harus banyak. Semua butuh ruang yang menghasilkan dampak pada lingkungan.
Solusi lain : lawan omnibus law, mengubah mode konsumsi, berjemaah, dan bertindak radikal dalam mengelola bumi.
Pertanyaan:
1. Kontradiksi antara kita yang melawan peraturan sekaligus menikmati? Mengatasi ketakberdayaan?
Kemudahan di permukaan (ilusi belaka), tetapi sesungguhnya kerugian yang ada lebih besar. Keuntungan jangka pendek dan pertumbuhan ekonomi. Solusinya adalah pembangunan boleh ada tetapi harus dilakukan dengan melibatkan pihak yang dibangun. Pembangunan saat ini tanpa tahu lokalitas. Asal terjang, asal bangun.
2. Apakah peraturan lama sebelum Omnibus Law lebih baik, bagaimana membuatnya lebih baik? IMB dan AMDAL masih jauh lebih baik dan juga adanya ganti rugi untuk warga terdampak. Omnibus Law memotong peran daerah dalam IMB dan AMDAL. Semuanya di pusat.
3. Bagaimana dengan penyempitan lahan? Haruskah menanam pohon? Anjuran yang bagus adalah melarang penggunaan cat dan keramik warna hitam. Hitam menyimpan panas siang hari dan menguapkan panas malam hari. Ingin menolak panas, gunakan warna selain hitam. Dilarang bangunan berdempetan.
Di Kazakhstan, seluruh bangunan warna putih, akhirnya tidak panas.
Sokusi lain : tumbuhkan pohon kaktus, tanaman yang tidak butuh air. Tiru arsitektur di rumah ibadah. Agama adalah tools terbaik untuk memperhatikan lingkungan.
Jawaban Mas Rosyid
Baca buku The Will To Improve karya Tani Amurai.
Apa artinya kita punya kemewahan tetapi tak punya kedaulatan?
Kita butuh UU yang mengatur ketat tentang lingkungan hidup. Kita harus lakukan apa pun yang kita bisa untuk menyelamatkan lingkungan.
Ibrahim Abdul Matin dalam The Green Deen > Al Ardhu kulluhaa masjidun. Masjid itu suci, karena suci ia tidak bisa diatur dengan nafsu manusia. Agama harus jadi panduan utama selain etika dan logika. Melandasi perjuangan menjaga lingkungan dengan spirit agama.
Ada terobosan baru yang ramah lingkungan yaitu wakaf agraria. Tak melulu wakaf bangunan.
"Karena lingkungan hidup tidak berdiri sendiri, semoga diskusi sore ini membuat kita merenung panjang, di depan akan selalu ada batasan dan hambatan, sebab selalu ada bayaran setimpal untuk memperoleh kenikmatan."
#laporan #diskusi #Malangkotasumuk @kaderhijaumuhammadiyah @ngalambookfest #06032020

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar