Senin, 27 Juli 2020

Kefanaan vs Kekekalan dalam Islam⁣

Berbicara tentang dunia, dalam kaca mata Islam, hanyalah kehidupan sekejap mata. Kehidupan yang kata orang kampung "namung mampir ngombe" yang bila diterjemahkan bebas berarti hanya mampir minum saja. Seteguk dua teguk, melanjutkan perjalanan lagi.⁣
Dilahirkan dari rahim ibu, melewati alam rahim adalah tahapan yang harus dilalui oleh manusia. Sebelum akhirnya manusia hidup di dunia ini. Nanti bila ajal telah tiba, manusia akan memasuki alam kubur, alam barzah, dan alam akhirat.⁣
Segala yang dialami manusia di dunia ini, mulai dari jabatan, harta yang dimiliki, istri yang cantik dan salehah, anak-anak yang disayang, pada akhirnya akan ditinggalkan atau meninggalkan kita satu per satu. Jabatan yang dibanggakan akan sirna pada masanya. Istri yang cantik seiring bertambahnya usia berubah keriput dan tak lagi memesona. Anak akan tumbuh besar, menentukan jalan hidupnya masing-masing, menjadi mandiri, beristri, beranak-pinak.⁣
Usaha-usaha yang kita takutkan kerugiannya, kendaraan mewah yang dibanggakan di hadapan teman dan pengikut media sosial. Ketenaran, kemasyhuran tak ada yang abadi, tak ada yang kekal. Perlahan, tetapi pasti semua akan ada batas waktunya, habis, selesai, sudah.⁣
Hendaklah kita ingat firman Allah dalam Alquran surat ayat yang artinya "Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.'".⁣
Bila kita memahami ayat di atas, ternyata banyak hal yang mampu melalaikan kita dari mengingat Allah. Segala yang disebutkan tersebut tidaklah kekal, tetapi Allah adalah zat Yang Maha Kekal. Maka, sebagai muslim, selayaknya kita mendahulukan Allah di atas segalanya.⁣

Ketika kita meninggal dunia, apa sih yang sesungguhnya benar-benar kekal bersama kita? Hadis menyebutkan bahwa apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal. Yaitu sedekah jariah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan (dia).⁣
Mengapa tiga amal tersebut kekal sampai di akhirat menemani? Itulah buah dari usaha hamba dalam bersungguh-sungguh mengabdi kepada Allah. Sedekah jariah dalam berbagai bentuknya, mulai senyum ketika bertemu saudara, bersedekah tenaga, ilmu, keterampilan mengedit video, sedekah harta, dan berbagai bentuk sedekah lainnya. Semua itu pahalanya terus mengalir kepada kita. Apalagi bila yang kita lakukan terus berdampak positif bagi masyarakat. Betapa besar pahala yang akan diterima.⁣
Ilmu bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Setiap ilmu yang disampaikan, diamalkan oleh yang menyampaikan maupun yang diberi ilmu, itu semua akan menjadi pahala penyebar ilmu tanpa mengurangi pahala yang diberi ilmu sedikit pun. Begitu pemurahnya Allah kepada kita.⁣
Anak saleh adalah investasi masa depan yang harus dipersiapkan sejak dini. Kepengasuhan di bawah ajaran Islam yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya tentu saja akan memberikan pahala besar bagi orang tuanya. Setiap jengkal ilmu, amalan, doa anak saleh insyaallah menjadi jembatan orang tua menuju surga.⁣
Itulah barang kali hal-hal yang akan kekal bersama muslim walaupun tubuh telah menyatu kembali dengan tanah. Lalu, ada yang bertanya, nah yang fana yang mana? Ya yang selain disebutkan dong. Ketika disebutkan kebalikan dari suatu hal, maka dengan sendirinya sedikit demi sedikit akan tampak jelas hal-hal yang sedang dibicarakan.⁣

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar