Jumat, 11 September 2020

Merenungi Negeri

75 tahun sudah negeri ini merdeka. Usia yang tidak lagi muda. Usia yang harus sudah bisa dewasa dalam menyikapi segala keadaan yang ada. 75 tahun sudah kita merdeka, tetapi sudah benar-benar merdekakah kita? Nyatanya merdeka punya banyak makna. Tidak sekadar merdeka dari cengkeraman penjajah layaknya Belanda dan Jepang.

Memang penjajah semacam itu sudah tidak berada di Indonesia, tetapi tahukah kamu bahwa kita masih jauh dari merdeka yang sesungguhnya. Pekerjaan rumah bangsa masih seabrek. Berbagai problematika datang silih berganti. Mulai kesehatan, ekonomi, pendidikan, budaya, sosial, dan lain-lain.

Lantas, sudah cukupkah kita dengan keadaan seperti ini? Tentu saja tidak. Semua komponen bangsa harus bahu-membahu menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Sebagai pemuda, mari satukan langkah. Kuatkan narasi. Perbanyak kolaborasi. Jembatani pemerintah dan rakyat di tingkat bawah. Jadilah pelopor dalam memajukan bangsa di berbagai aspeknya.

Sebagai rakyat, dukunglah program-program pemerintah. Tak lupa juga untuk terus memberikan kritik membangun agar jalannya pemerintahan tidak sewenang-wenang kepada rakyatnya.

Sebagai pemerintah, buatlah kebijakan yang mengutamakan rakyat. Jangan mau menang sendiri. Jangan hanya membuat proyek untuk memenangkan penguasa. Ingat bahwa kekuasannmu akan dihisab di akhirat kelak.

Sebagai penegak hukum, tegakkanlah keadilan seadil-adilnya. Jangan mudah memberi putusan sesuai yang memberi "amplop" paling tebal. Adilmu membawa ke surga, ketidakadilanmu mencampakkan dirimu di neraka.

Sebagai ahli di berbagai bidangnya, teruslah berkontribusi memberikan sumbangsih nyata untuk negeri. Baik berupa penelitian, studi sosial, maupun pengabdian masyarakat sehingga kesejahteraan mampu diraih bersama.

Sebagai ulama dan ustaz, marilah bersatu menyamakan gerak langkah. Jangan hanya memprovokasi, tetapi berikan sentuhan nyata kepada rakyat. Cerahkan bangsa dengan nasihat yang membangun. Saling berkolaborasi untuk aksi nyata.

Untuk pihak lainnya, bantulah semampumu. Bisa dengan hartamu, ilmumu, relasimu, pikiranmu, tulisanmu, suaramu, atau yang paling lemah dengan doamu. Setidaknya, marilah kita bersatu padu. Jangan lagi keluhkan kekurangan, tetapi mari galang kebersamaan menuju keselarasan, keadilan, dan kesejahteraan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar