Kutipan Buku Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam - Adian Husaini

Posting Komentar
jadikan tauhid sebagai motor penggerak kehidupan. #virusliberalismediperguruantinggiislam

so characteristic of modern western civilization, is as unacceptable to christianity as it is to islam or any other religion, because it is irreligious in its very essence.#virusliberalismediperguruantinggiislam

(west) her eyes lack of tears of humanity, because of the love of gold and silver.#virusliberalismediperguruantinggiislam

Many challenges have arisen in the midst of man's confusion throughout the ages, but one perhaps more serious and destructive to man than today's challenge posed by Western Civilization. #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Menurut Al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekadar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya adalah pene-gasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified dan Deity humanised).  #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Kecenderungan memisahkan ilmu dari amal dalam studi Islam model orientalis sangat perlu menjadi perhatian kaum Muslim dewasa ini. Dari hari ke hari di kampus-kampus islam semakin berjubel alumni studi islam di barat yang terkadang membawa tradisi pemisahan ilmu dan amal. #Virusliberalismediperguruantinggiislam


The imitation of Western ways of life based on their materialistic, pragmatic, and secular philosophies can only lead to the abandonment of Islam #MaryamJameela#Virusliberalismediperguruantinggiislam

There is only one genuine revealed religion, and its name is given as Islam#Virusliberalismediperguruantinggiislam

The modern West is ruled in its activities and endeavours almost exclusively by consideraton of practical utility and dynamic evolution. Its Inherent aim is experimenting with the potentialities of life without attributing to this life a moral reality of its own... But modern western civilization does not recognize the necessity of man's submission to anything save economic, social, or national requirements. Its real deity is not of a spiritual kind: it is comfort. And its real living philoshophy is expressed in a will for power for power's sake. #VirusliberalismediPerguruantinggiislam

Peradaban Barat modern, kata Asad, adalah peradaban yang tidak menolak Tuhan secara tegas. Tapi, tidak ada ruang untuk Tuhan dalm sistem berpikir barat. "Such an attitude is irreligious in its very essence," tulis Asad. #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Jadi, semangat peradaban Barat modern adalah semangat untuk menundukkan agama dalam perspektif materialisme dan relitivisme mereka. Bagi mereka, tidak ada nilai dan kebenaran yang tetap. Semua nilai harus tunduk pada dinamika sejarah dan budaya. Apa yang baik untuk suatu tempat, belum tentu untuk tempat lain. Karena itulah, Barat tidak memiliki standar nilai yang tetap. #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Kata Asad, "The imitation - individually and socially - of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence - or rather , the revival - of islamic civilization. #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Pola pikir para penganut paham Islam historis ini sering kontradiktif. Pada satu sisi, mereka menyatakan bahwa ajaran-ajaran Islam karena merupakan hasil pemahaman para ulama Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits tidak berlaku universal, alias socially constructed, yakni merupakan hasil konstruk sosial dan budaya Arab yang patriarkhi. Tapi, pada saat yang sama, mereka mengimani bahwa paham-paham kesetaraan gender, HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya, adalah bersifat universal dan harus dijadikan sebagai titik acuan dalam memandang segala sesuatu. Padahal, paham-paham itu juga hasil pemahaman orang-orang Barat yang tidak lepas dari konstruk sosial mereka sendiri. Paham-paham itu adalah produk sosial Barat yang traumatik terhadap agama mereka sendiri dan mestinya juga hanya cocok untuk masyarakat Barat saja. Tapi anehnya, mengapa mereka memaksakan paham mereka kepada kaum Muslim? #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Dalam bukunya, Risalah untuk Kaum Muslimin, al-Attas menulis, "Maka agama Kristian, agama Barat - sebagaimana juga agama-agama lain yang bukan Islam - adalah agama kebudayaan, agama 'buatan' manusia yang terbina dari pengalaman sejarah, yang terkandung oleh sejarah, yang dilahirkan serta dibela dan diasuh dan dibesarkan oleh sejarah. #Virusliberalismediperguruantinggiislam

Kekacauan ilmu merupakan penyakit yang berat. Sebab, seseorang yang terkena penyakit ini tidak mudah menerima informasi baru. Dia menganggap apa yang dipahaminya sudah benar. Bahkan, tak jarang dia bangga dengan kekeliruan yang diidapnya. Ibarat komputer, sudah terlalu banyak virus yang masuk sehingga program-programnya sudah rusak. Data apa pun yang dimasukkan ke dalam komputer yang sudah rusak programnya ini, maka akan keluar juga produk yang rusak. Jika seseorang terkena penyakit ini, maka berapa pun jumlahnya ayat Al-Qur'an yang disampaikan padanya, tidak akan mempan. Sebab, dia sudah memahami bahwa Al-Qur'an itu Kitab yang bermasalah, produk budaya, dan bukan Kitab Suci. Logika ini dulu yang harus diluruskan sebelum diberikan ayat-ayat Al-Qur'an kepadanya.#Virusliberalismediperguruantinggiislam

Menurut Huston Smith, "Christianity is basically a historical religion... It is founded not in abstract principles, but in concrete events, actual historical happening. Beban sejarah dan problem teologis Kristen telah melahirkan 'Kristen-kristen' (Kristen yang banyak) sehingga satu sama lain, saat ini tidak dapat melakukan 'truth claim.' Tidak ada satu kristen yang punya otoritas untuk menyatakan benar sendiri. Kebanaran menjadi relatif, menurut masing-masing orang. Kondisi serupa terjadi pada Buddha, Hindu, dan 'cultural and historical religion' lainnya. #Virusliberalismediperguruantinggiislam

According to Islamic religious tradition, religion has forever been the one according to the same eternally. In other words, all the earlies prophets of Allah have conveyed only one revealed religion which has known as din al-fithrah...With the dawn of the final and universal prophet, Muhammad (PBUH), this religion of Allah reaches its utmost perfection and is declared Islam, the universal religion to all mankind... Judaism and Christianity are not revealed religions. Both religions do not even come from Musa and Isa (PBUT). In fact, Allah has never revealed such religions to these prophets nor authorized them to establish new religions called Judaism and Christianity.#Virusliberalismediperguruantinggi

Conviction enabled Abraham to wade into the fire: conviction is an intoxicant which makes man self-sacrificing: Know you, oh victims of modern civilization! Lack of conviction is worse than slavery. #Virusliberalismediperguruantinggi

"Apa yang sedang dipertaruhkan bukanlah hal yang remeh atau tidak berharga. Harta berharga yang sedang dipertaruhkan itu tidak lain daripada kebenaran itu sendiri. Bukan sekadar mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi apakah kebenaran itu memang ada atau tidak!" #Virusliberalismediperguruantinggi

Jika semua itu dibongkar, sehingga kebenaran pemahaman menjadi relatif, maka bukankah itu sama saja dengan mengatakan bahwa semua ayat Al-Qur'an itu zhanni? Bukankah itu sama saja dengan membubarkan Islam? Jadi, selain keliru, cara pandang tentang kebenaran yang relatif itu juga sangat naif. Ketika seseorang menyatakan bahwa semua pemikiran manusia itu relatif dan parsial kontekstual, maka ucapan atau tulisan orang itu sendiri pun merupakan hal yang relatif dan tidak perlu dijadikan pedoman karena tidak pasti kebenarannya. Dengan kata lain jika seseorang sudah ragu-ragu dengan kebenaran ucapan atau pendapatnya sendiri, mengapa keraguan itu harus diikuti oleh orang lain. #Virusliberalismediperguruantinggi

Sebenarnya, sebelum mengambil konsep-konsep Barat, yang perlu diteliti adalah hakikat dan realitas konsep itu sendiri. Ilmu-ilmu humaniora di Barat berkembang dari akar pemikiran untuk menyingkirkan peran agama dari kehidupan mereka. Maka aneh, jika umat Islam kemudian memungut begitu saja konsep-konsep seperti itu untuk diterapkan pada kajian Islam. Ada perbedaan yang fundamental antara konsep keilmuan Islam dengan konsep keilmuan dalam tradisi Barat.#Virusliberalismediperguruantinggi

Dalam acara seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 13 Desember 2008, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud mempresentasikan makalah bertajuk "Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose". Menurutnya, salah satu tantangan pemikiran Islam kontemporer yang dihadapi kaum Muslimin saat ini adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang kini mendominasi peradaban dunia telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Selain telah mengosongkan ilmu dari agama, konsep ilmu dalam peradaban Barat juga telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu, memisahkan wujud dari yang sakral, meredusir intelek kepada rasio dan menjadikan rasio yang menjadi basis keilmuan, menyalahpahami konsep ilmu, mengaburkan maksud dan tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah; dan menjadikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, berubah dengan abadi. #Virusliberalismediperguruantinggi

Jadi, soal keyakinan umat Islam dalam soal aqidah, sebaiknya tidak perlu diobok-obok. Sangat ironis jika hal itu dilakukan oleh satu lembaga yang membawa nama Islam seperti PPIM-UIN. Kita bisa memaklumi jika ini merupakan satu kekeliruan dan ketidaktahuan yang semoga segera diluruskan. Tidak ada yang salah dengan setiap pemeluk agama yang meyakini kebenaran agamanya masing-masing. Itulah ajaran para Nabi. Sebaliknya, ajaran yang mengajak kepada keraguan adalah ajaran setan. Dan kita berlindung dari bisikan setan yang menimbulkan waswas di hati manusia.#Virusliberalismediperguruantinggi


Bibel memiliki karakter yang berbeda dengan Al-Qur'an, sebab Al-Qur'an sangat ketat dalam memegang autentisitas dan finalitas tekstualnya. Mereka yang menafsirkan secara tekstual disebut Kristen fundamentalis dan banyak dikecam oleh kaum Kristen. Tentu ini sangat beda kondisinya dengan Al-Qur'an dan cara menafsirkannya. Umat Islam dalam mengharamkan babi, berpegang kepada teks yang jelas, final, dan tetap, tidak berubah sampai kiamat. Karena ada kondisi yang berbeda antara teks Bibel dan Al-Qur'an inilah, maka tidak bisa begitu saja kaum Muslim menjiplak metodologi Bibel untuk menafsirkan Al-Qur'an. #Virusliberalismediperguruantinggi

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email