Kok Bisa Nilaiku B???

Posting Komentar
       Ok, btw mengenai KHS semester ini rasanya beda. Tak seperti sebelum-sebelumnya. Betapa tidak, nilai tasawuf B. Oh, berarti itu, hanya sekitar 75-80. Aku terkadang bingung dengan matakuliah satu ini. Rasa-rasanya aku sudah ikuti semua ketentuannya. Mulai masuk kelas, presentasi, ujian lisan, UTS, UAS, bertanya, dsb. Yang kurang memang aku tak pernah hadir di halaqah dosen tasawuf, Ustad Zainul Arifin tiap Selasa malam karena memang aku harus melatih MC JDFI.
Aku pun terkadang jua sudah izin. Memang aku hanya datang di pertemuan terakhir sebagai penutup matakuliah. Tapi, nampaknya background Muhammadiyah ini bisa jadi membawa dampak kurang baik di kampus yang memang mayoritas NU ini. Sulit memang menggunakan paham taqiyah di kampus yang mayoritas dipegang dan dikuasai oleh NU meski menggadang-gadang sebutan WCU. Tapi, kalau masih seperti ini apakah layak disebut WCU, saya kira masih jauh panggang dari bara api. Memang aneh, tapi aku tak mau suudzan, aku tetap khusnudzon, mungkin ini juga peringatan Allah terhadap diriku. Mungkin saja diriku di semester ini kurang aktif di halaqah beliau seperti saya utarakan di atas, ataukah akhlaq diri yang kurang baik. Oh, serba bingung dan serba salah. Setelah mencoba mengecek nilai beberapa teman memang nilai sekelompokku juga hanya dapat B. Aku masih mencoba meminta penjelasan dari ustad Zain. Semoga Sabtu atau Ahad besok bisa sowan untuk meminta penjelasan. Syukur-syukur masih bisa dinaikkan, meski tidak A ya paling tidak B+ lah. Biarlah diriku dibilang pemburu IP sejurusan. Tapi, hawa ini memang sudah menjadi kebiasaan sejak MI dulu, terus terbawa di SMP, MA, dan di bangku perkuliahan. Diriku tak dapat begitu saja membiarkan orang lain terus berprestasi tetapi diri ini jauh kalah di bawahnya. Saya juga ingin menggeser keyakinan orang bahwa mahasiswa terbaik atau peraih IP tertinggi di UIN tiap tahun selalu perempuan. Sekali-kali lah juaranya laki-laki. Bukankah di Al-Qur'an Allah telah menyebutkan bahwa kita hidup di dunia ini untuk berlomba-lomba dalam kebaikan atau bahasa kerennya "Fastabiqul Khoirot"-ini semboyan IMM yang sengaja saya nukil. Di semester akhir ini saya sudah mencoba melepas segala tanggungjawab di banyak organisasi, masih tidak berhargakah itu semua dengan ganti nilai di selembar kertas hijau itu? Memang, substansi lebih penting daripada sekadar nilai, tapi tentu pemahaman substansi dapat dilihat dari nilai bukan? Ah, sudahlah. Moga esok lebih baik dan semoga semua ilmu yang kita dapatkan di 7 semester ini bermanfaat. Bye semester 7, welcome semester 8, semester proposal, skripsi, kompre, yudisium dan WISUDA. Salam satu jiwa. Selamat berjuang. 

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email