Impian Terbesar Saya dan Cara Menggapainya

1 komentar

Tidak ada mimpi yang terlalu besar, yang ada hanyalah usaha yang terlampau kecil. Sebuah kalimat yang mampu menggugah semangat saya untuk kembali mengecek mimpi-mimpi. Target pribadi, keluarga, keuangan, sosial, dan agama harus selaras.

Bagi saya, mimpi adalah satu kata yang mampu memberi motivasi kepada diri untuk tak pernah berhenti berusaha. Mimpi mengobarkan semangat juang hingga titik darah penghabisan. Mimpi membangkitkan mereka yang lemah, menguatkan yang sedang lelah berusaha.

Satu kalimat bijak yang saya suka tentang mimpi berbunyi sebagai berikut, kalau mimpimu belum mampu membuatmu bangun di sepertiga malam, menangis tersedu, bermohon ampunan dan kekuatan, maka sebenarnya mimpimu tak sebesar yang kamu pikirkan. Kalimat ini menohok saya berkali-kali. Barang kali juga kita sendiri pernah mengalami hal semacam ini.

Kita pernah beberapa kali mampu salat Tahajud dan salat Hajat di sepertiga malam terakhir ketika kita sedang mencari jodoh misalnya. Namun, seperti itu pulakah usaha kita tatkala menggapai impian lainnya seperti impian keluarga bahagia, pekerjaan yang nyaman dan rezeki yang berkah? Bertanyalah pada nurani masing-masing.

Berkaitan dengan mimpi, saya sendiri menuliskannya besar-besar di dinding kamar. Saya buat mind map. Saya tuliskan pada tahun sekian saya harus menggapai A, tahun sekian saya harus mengunjungi negara B, tahun sekian saya harus menikah, dan seterusnya. Bagus sih, tetapi semakin ke belakang rasanya kurang aplikatif. Terlalu umum. Terlalu besar gambar dalam kepala saya.

Maka, kini saatnya saya merinci impian besar dalam mind mapping itu ke dalam langkah-langkah kecil agar aplikatif dan semakin mendekatkan diri untuk sampai ke mimpi besar tersebut. Saya menuliskannya di buku catatan mimpi pribadi. Setiap mimpi harus benar-benar dirinci yang sebisa mungkin dilakukan dalam jangka panjang.

Salah satu mimpi terbesar saya adalah menjadi penulis best seller. Sehingga dengan begitu semakin banyak ilmu yang bisa saya bagikan kepada khalayak. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain?

Berkaitan dengan hal di atas, yaitu menjadi penulis best seller, saya melakukan beberapa upaya menuju ke sana. Pertama, menuliskan target tulisan. Saya buat target pribadi seperti menulis selama seratus hari non stop. Nah, agar target ini tercapai saha butuh hal kedua yaitu mentoring. Saya belajar menulis kepada mentor menulis, siapa saja. Ada Kang Tendi Murti, Kang Wildan Fuady, Kang Brili Agung, Kak Nanda Putra, Mas Nasrul Yung, dan lain-lain.

Dari belajar bersama mereka, saya jadi punya kebiasaan menulis. Awalnya memang harus dipaksa seperti tantangan menulis buku selama sebulan penuh bersama Kang Wildan Fuady. Pernah juga menulis ebook selama 20 hari bersama Kak Nanda Putra. Tantangan lainnya menulis sebulan penuh setiap pagi bersama Kang Tendi Murti.

Selain kelas dan tantangan menulis, seminar dan workshop menulis juga terus saya ikuti dari waktu ke waktu. Mulai dari penulis lokal, nasional, hingga internasional. Semua memberi pandangan baru kepada saya tentang menulis yang baik dan benar, menulis yang menggugah, menulis yang menghasilkan, dan seterusnya.

Ketiga, membaca buku seputar kepenulisan. Tidak hanya praktik menulis, tetapi ilmu seputar kepenulisan juga harus ditambah melalui asupan membaca. Jadi, kombinasi ilmu di seminar kepenulisan dan ilmu dari buku kepenulisan semakin memantapkan dan menyempurnakan langkah menuju penulis best seller.

Keempat, mulai mendata penerbit buku, terutama penerbit mayor, yang sesuai dengan apa yang saya tulis. Beberapa penerbit ada yang hanya menerbitkan novel dan cerpen remaja. Ada yang fokusnya tentang motivasi populer, dan sebagainya. Dengan mengetahui daftar ini, saya dapat melihat gambaran buku best seller yang sudah diterbitkan. Sehingga semakin memudahkan saya untuk memilih yang benar-benar tepat dan sesuai dengan tulisan saya.

Kurang lebih begitulah gambaran mimpi terbesar saya. Semoga kebermanfaatan dari tulisan semakin mampu menembus banyak kepala dan terwujudkan dalam kehidupan. Kebahagiaan terbesar penulis adalah tatkala tulisan-dalam berbagai bentuknya-mampu menginspirasi, membenarkan pemahaman yang keliru, dan menjadi perantara perubahan dalam diri maupun masyarakat. Tak terbayang rangkaian jariyah yang mengalir hingga tubuh ini nantinya telah berkalang tanah. Semoga semua impian kita dimudahkan oleh Allah untuk mencapainya.

#WWS6 #WWShari24 #nasrulyung #NulisBarengNasrulYung #NebengBarengNasrulYung #sekolahcreator #day24 #24072020

Muhammad Amin
Magister Pendidikan Bahasa Arab, pemerhati pendidikan dan bahasa. Pengasuh di Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar

Follow by Email