Kekhawatiran Terbesar dalam Hidup


Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika saya bertanya tentang kekhawatiran dalam hidup? Mungkin sebagian akan menjawab ketika tidak punya uang. Sebagian akan menjawab ketika tidak punya pasangan. Sebagian menjawab ketika tidak punya kawan. Berbagai jawaban akan muncul ketika pertanyaan ini disampaikan.

Bagi para pelajar, kekhawatiran mungkin berasal dari nilai ujian yang tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal. Bagi para pekerja lepas, kekhawatiran bisa berasal dari pekerjaan yang terus menerus ditagih klien dan sudah mepet tenggat waktu. Bagi para guru kekhawatiran bisa berasal dari keburukan sikap dan perilaku murid selepas lulus dari sekolah.

Bagi para pedagang dan pebisnis, kekhawatirannya misalnya ketika usahanya bangkrut, gulung tikar, tak mampu membayar gaji karyawan. Apalagi di masa-masa seperti sekarang ini. Bagi para penulis, kekhawatirannya adalah tatkala tulisannya tidak diterima khalayak.

Ukuran-ukuran kekhawatiran di atas adalah ukuran-ukuran yang beberapa bersifat duniawi semata. Namun, ada juga kekhawatiran yang jauh lebih mengerikan, yaitu kekhawatiran tentang akhirat. Kekhawatiran tentang sebuah alam yang kekal sepanjang masa.

Bila ditarik ke profesi-profesi di atas tentu akan berubah orientasi kekhawatirannya. Seorang pelajar akan takut bila mencontek akan mengakibatkan dosa. Pengajar akan mengajar sebagaimana mestinya, tidak asal-asalan dan mengejar gaji buta. Pedagang akan terus meningkatkan mutu dagangan, tidak semata-mata mencari keuntungan dengan segala macam cara. Bagi penulis, kekhawatirannya akan sampai pada tingkat ketika adanya ketidamselarasan antara apa yang dituliskan dengan apa yang dilakukan. Sebab semua hal akan dipertanggungjawabkan nantinya.

Bagi saya pribadi, kekhawatiran saya adalah ketika segala amal perbuatan yang selama ini dilakukan, semua ibadah yang dilaksanakan dianggap kosong, nol, tak bernilai, nanti di hari kiamat. Kalau sudah seperti itu. Rugilah saya.

Suatu riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang siapa kriteria orang yang rugi. Para sahabat menjawab bahwa yang rugi adalah mereka yang rugi dalam berdagang. Ada pula yang menjawab yang rugi adalah mereka yang tidak memiliki dirham ataupun dinar.

Jawaban Rasulullah adalah bahwa yang merugi adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan banyak pahala salat, puasa, zakat, dan haji, tetapi di sisi lain dia juga mencaci orang, menyakiti orang, memakan harta orang secara bathil, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.

Ia kemudian akan diadili dengan cara membagikan pahala kepada orang yang pernah dizaliminya. Ketika telah habis pahalanya sementara masih ada yang menuntutnya, maka dosa orang yang menuntutnya diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun dilemparkan ke dalam neraka. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad.

Lihatlah, betapa sebagai orang beriman, kita harus benar-benar berhati-hati. Ketika beribadab rasa rasa khauf dan raja. Khauf adalah takut apabila amal yang dikerjakan tidak diterima. Sedangkan raja adalah adanya harapan akan diterimanya amal. Tentunya dengan terlebih dahulu menyempurnakan syarat dan rukun dari ibadah tersebut. Disempurnakan lagi dengan ikhlas mengharap rida Allah semata.

#WWS6 #WWShari25 #nasrulyung #NulisBarengNasrulYung #NebengBarengNasrulYung #sekolahcreator #day25 #25072020

Muhammad Amin
Magister Pendidikan Bahasa Arab, pemerhati pendidikan dan bahasa. Pengasuh di Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email