Melatih Kecerdasan Bertahan Hidup

Posting Komentar
Kemarin, tiba-tiba siaran televisi di rumah tidak bisa menayangkan beberapa stasiun televisi. Ada yang sedih karena tidak bisa menonton tayangan favoritnya, tetapi ada juga yang bersyukur. Setidaknya masih ada yang bisa ditonton meskipun tidak semua stasiun televisi.

Dalam hidup, kadang kita terlalu fokus dengan apa yang ada di pikiran dan depan mata. Kita seolah menutup mata bahwa ada sesuatu yang indah di balik hal-hal yang tidak kita hiraukan. Misalnya dari kejadian di atas dipahami bahwa ketika terlalu fokus pada stasiun A atau tayangan A, maka kita lupa bahwa ada stasiun B, C, D dengan berbagai tayangannya yang bisa jadi jauh lebih inspiratif dan menggembirakan.

Jangan terkecoh pada satu kenikmatan sehingga lupa ada kenikmatan lain di luar yang kita rasakan. Sesekali kita perlu keluar, menerawang semesta, membatin dalam hati, apa sesungguhnya makna dan hakikat hidup. Sudahkah bersyukur atas apa yang ada atau malah mengeluh sepanjang sisa usia.

Ibarat hidup, kita yang biasa hidup di kota, sesekali harus terbiasa hidup di desa. Kita yang hidup di tengah ingar-bingar kemewahan harus siap untuk hidup di tengah kesederhanaan, bahkan keterbatasan. Itu semua adalah sarana dan ladang latihan bagi jiwa. Jiwa jangan diberi hal-hal yang indah dan enak saja, sesekali juga perlu diberi yang tidak enak.

Kok gitu? Kan udah enak hidup nyaman, gaji besar, rumah mewah. Ngapain juga harus merasakan hidup serba kekurangan? Begini ya. Kita tidak selalu hidup seperti hari ini. Ada kalanya kita berada di titik terbawah, butuh orang lain, tak mampu berdiri seorang diri. Kita akan belajar kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan juga ketahanan fisik, mental, dan pikiran.

Kecerdasan bertahan hidup adalah satu kecerdasan baru yang baru-baru ini ditemukan. Kita perlu mengasah kecerdasan ini di tengah kondisi masyarakat yang kian mengedepankan materi, kemewahan, memuja uang di atas segalanya.

Kita perlu ingat bahwa selalu ada unsur lain sebagai penyeimbang. Ada yang kaya, ada yang pas-pasan, ada yang setiap hari bekerja di kantor dengan gaji dia digit, ada pula yang setiap hari terpaksa menjadi buruh dengan gaji tak seberapa.

Semua tentang mengolah kembali, menelaah kembali kesadaran hidup. Sudah sampai manakah tahap belajar kita? Masih di tahap pemuja lahiriah atau sudah mulai bisa menyeimbangkan antara lahir dengan batin?

#1m1c #1minggu1cerita #blogger #17092020 #ceritaminggu38 #renungan #selfreminder #cerita 
Muhammad Amin
Magister Pendidikan Bahasa Arab, pemerhati pendidikan dan bahasa. Pengasuh di Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email