Santai dalam Berbagai Hal

1 komentar

Satu kata yang saat ini sering diplesetkan generasi zaman now adalah kata santai. Ia diganti menjadi santuy. Baiklah. Tidaklah mengapa. Kali ini, saya ingin membahas santai dalam berbagai hal.

Dalam hal melakukan pekerjaan, misalnya bekerja di kantor, santai boleh ketika semua tanggung jawab telah selesai dilaksanakan. Boleh juga ketika memang jam santai seperti waktu istirahat makan siang.

Dalam hal ibadah, konteksnya salat ya. Dalam Islam dikenal istilah salat Tarawih. Tarawih itu adalah tarwih bermakna istirahat, bisa juga dikatakan santai kan? Jadi, dalam hal salat juga ada santainya. Santai di sini maksudnya adalah melaksanakannya dengan tumakninah, tidak tergesa-gesa, memahami dan meresapi setiap bacaan dan gerakannya.

Dalam hal belajar dan mencari ilmu, santai boleh ketika memang diizinkan oleh guru atau memang waktunya santai. Mirip dengan bekerja di kantor pada paragraf sebelumnya. Namun, perlu diingat bahwa ada kata pepatah Arab menyatakan bahwa barang siapa yang tidak berlelah-lelah belajar, maka harus rela menerima kebodohan sepanjang hidupnya. Duh, ngeri juga ya. Nggak mau kan pastinya jadi orang bodoh sepanjang masa?

Disebutkan juga dalam suatu riwayat bahwa dunia ini bukanlah tempat berleha-leha, tapi tempat berlelah-lelah. Lelah beramal, lelah bekerja, lelah beribadah. Sesungguhnya istirahat sebenarnya ada di akhirat, bukan di dunia ini.

Dalam hal mengejar impian, tak sepatutnya kita bersantai ria. Lain halnya jika kita memang tak ingin cepat sampai pada impian, silakan saja bersantai dalam menjalani keseharian. Impian dicapai dengan usaha, ikhtiar, dan doa. Tak ada yang instan. Mie instan saja masih perlu dimasak sebelum dimakan.

Dalam hal menanggapi hujatan orang, kita boleh santai, tetapi kita juga harus tetap menghadapinya dengan elegan. Menimpalinya dengan doa semoga diberi jalan kebaikan sesudahnya. Bukankah Allah mrncintai hamba-Nya yang berbuat ihsan? Berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat buruk kepada kita.

Ketika tanggung jawab hidup semakin bertambah, kita boleh berhenti sejenak. Mengambil jeda, bersantai. Secukupnya saja. Jangan berlebihan. Sebatas menjernihkan pikiran, menenangkan hati, meregangkan badan agar tegak kembali menghadapi kehidupan. Setelah dirasa cukup, kembalilah beraktivitas sebagaimana mestinya.

Selalu ingat bahwa santai yang berlebihan dekat pada menyia-nyiakan waktu. Waktu yang terbuang sia-sia adalah satu hal yang tidak dapat ditarik kembali. Menyia-nyiakan waktu akan menjerumuskan kita ke dalam hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Maka, segeralah bangkit dan isi waktu luang dengan berbagai aktivitas positif agar segala keberkahan menyertai dan terhindar dari dua nikmat yang melalaikan manusia, waktu luang dan kesehatan. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan oleh Allah untuk menggunakan waktu sebaik mungkin dan istikamah di atas jalan-Nya.

Designed by @canva

#1M1C #Minggu41 #santai #1minggu1cerita #08102020

Muhammad Amin
Magister Pendidikan Bahasa Arab, pemerhati pendidikan dan bahasa. Pengasuh di Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang

Related Posts

1 komentar

  1. Sepakat nih kak, santai itu sebenarnya bukan waktu untuk berleha-leha, tapi mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, tapi tetep santai dikerjain, hiihi..

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email